Kamis, 25 Juni 2009

Sajak Teler : Aku, kamu, kita dan perjalanan

Hingga separuh perjalanan, kau masih mengepulkan asap rokok dari mulut memerahmu. Sungguh dari liang yang kita tempuh berdua, ada duka yang ingin kau hilangkan seketika. Kau menghilangkannya dengan mencuci mulutmu dengan keluk asap rokok yang separuh jalan. Asap rokok itu mungkin akan mengucap selamat malam pada cinta yang desah gelisahnya tak pernah kau sangkal tapi kemudian kau geletak gelepar sekenanya di kolong ranjangmu semalam atau malam-malam kemarin.

Tapi kita hanya sepasang pejalan yang butuh tujuan, namun entah aku tak tahu pasti apakah kita akan bertemu atau tidak melanjutkan perjalanan ini bersama sama sekali. Mungkin ada bekal beban yang kita bawa bersama atau kau harus meninggalkan beban itu untukku atau akulah yang meninggalkan sebagian, beberapa atau semua bebanku padamu. Atau mungkin kita saling bertukar beban, atau kita sama sekali tidak pernah melakukan pertukaran apapun dan tetap membawa masing-masing beban kita sebelumnya. Aku mengharapkan masing-masing dari kita sama-sama meninggalkan beban kita di jalan-tapi apakah itu pada akhirnya akan memberatkan yang lain? Maksudku agar beban itu pada akhirnya tidak ditemukan orang di jalanan, maka bolehkan membuangnya di sungai di bawah jembatan? Jangan-jangan bekal itu nantinya akan rusak?

Dan layaknya sebuah perjalanan kita biarkan saja diri kita istirah di tepian menghidu asap keluk polutan. Jadi kubilang terakhir kalinya, percuma saja bila kau akan menghentikan asap rokokmu, toh kau tidak bisa berkumur dengan polutan? Atau itu yang akan kau lakukan? Jika iya coba bawa segantang dua gantang polutan dan kita sama-sama berkumur dengan asap polutan itu. Tapi pada akhirnya aku tahu kau akan menolak, katamu asap polutan hanya membuat dirimu bertambah tolol, dan diriku bertambah goblok. Jadi menurutmu lebih baik kita menghidu asap rokok begitu?

Di tengah peristirahatan kau bertanya, laparkah aku? Dan kugelengkan kepala, sambil kujawab percuma saja makan, kalau nantinya aku harus lapar lagi dan makan lagi. Sama dengan kita bukan, buat apa menempuh perjalanan bersama kalau akhirnya harus berpisah? Buat apa berjalan, kalau nantinya harus selalu istirah.


Sby, 020609