"Kalau aku mati, kemudian dilahirkan kembali, takdir apa yang akan kau pilihkan padaku", tanyanya padaku di suatu ketika.
Saat itu penghujan belum tiba, terlambat dua bulan dari perkiraan cuaca di kotaku. Ah... ya pertanyaan itu. Pertanyaan itu belum tunai kujawab, bahkan setelah setahun kami berpisah. Mungkin sudah terlalu lama pertanyaan itu mengendap, dan mungkin ia juga lupa akan pertanyaan itu. Namun, entah kadang-kadang saat aku sudah dalam kondisi luang, lepas dari rutinitas, pertanyaan itu kembali muncul dalam otakku.
Saat itu aku hanya terkekeh, dan menjawab, "Dalam agama kita tidak ada reinkarnasi. Jadi untuk apa kita repot memikirkan takdir apa yang akan kita jalani, bila kita dilahirkan kembali. Takdir kita adalah satu untuk satu. Seperti potongan hati yang saling melengkapi, seperti pasangan sayap yang saling menyokong beban. Selamanya". Saat itu ia tersenyum, menatapku, menggenggam tanganku dan meraih bahuku, kemudian mendekapku. Hangat.
Beberapa minggu setelah percakapan kita, aku mulai memikirkan hujan. Pada saat itu kebetulan hujan sedang turun. Dan, entah memang dari kecil aku selalu suka hujan. Aku bukan orang yang tahan dengan dingin hujan yang mengguyur tubuhku, apalagi hujan pertama. Ibu selalu mengurungku saat itu.
"Kamu nanti sakit", begitu katanya selalu.
Tapi, aku selalu menyelinap saat Ibu telah terlelap, membuka perlahan daun pintu depan, diikuti gerbang pagar. Kemudian bermain bersama hujan. Ia menggelitiki tubuhku di setiap sentinya. Hangat.
Setelah lamunan itu, kemudian aku menggumam, "Rob, aku ingin kamu jadi hujan. Aku selalu merindui basah hujan menggelitiki tubuhku." Kalian mempunyai hangat yang sama. Hangat yang sama dengan apa yang aku rekam dengan kenangan hujan di masa kecilku. Hangat.
Tapi seiring perjalanan waktu, rumahku yang bukan sebuah kawasan yang ramah lingkungan dilanda banjir. Aku jadi membenci hujan. Kamu tahu mengapa, Rob? Kamu sering mengirimiku bingkisan-bingkisan kecil, beberapa surat bercerita tentang kisahmu yang indah, buku-buku dan catatan-catatan penggugah semangat. Lantai kamarku banjir saat hujan datang, tembok menjadi lembab, buku-buku menjadi ikut lembab, beberapa surat kutemukan pojok-pojoknya menjadi berlumut, dan kertas-kertas yang berisi catatan-catatanmu menjadi menguning ditempeli jamur.
Kamu tahu, waktu itu, setelah berhari-hari diserang banjir aku menunggu matahari datang. Setiap pagi, aku memboyong semua buku, kertas, dan catatan-catatan darimu. aku naik begitu saja ke plafon rumah, bertelanjang kaki, kemudian menghamparkan benda-benda kesayanganku disana. Sebenarnya tidak hanya barang-barang darimu, namun juga buku-buku berharga dari karib atau buku-bukuku sendiri yang aku beli dengan menyisihkan honorku bekerja.
Saat itu aku juga memikirkan soal reinkarnasimu, matahari memang penolongku saat itu. Ah... andaikan kau adalah matahari dan kau pasti menolongku pada saat ini. Seperti saat kau selalu datang di saat aku membutuhkanmu. Aku ingat, sewaktu aku menjalani operasi pengangkatan tumor dua tahun yang lalu.
Aku tahu, saat itu kau baru saja berangkat ke luar negeri, pesawatmu pun baru sampai ke Bangkok. Hanya saja, saat itu Ibuku panik, aku pingsan di bandara, setelah aku siuman, aku lumpuh separuh badan, meski, kemudian aku bisa pulih. Ibu men-dial nomor ponselmu. Berbicara terbata-bata, aku kolaps. Kau langsung memesan tiket kembali ke Jakarta, dan kemudian kembali ke Surabaya, hanya dalam hitungan hari itu juga setelah Ibu mengabarkan berita sakitku. Kau menungguiku di rumah sakit, kurang lebih sebulan, sampai aku pulih benar, sampai aku bisa berjalan lagi.
Untuk sementara aku tenang, matahari memang satu penggambaran wujud reinkarnasi yang ideal menurutku buatmu. Bukankah matahari menjadi milik siapa saja? Bukankah ia tak mungkin tertolak oleh yang lain?
Namun, kemudian matahari menjadi jumawa. Kemarau datang lebih lama dari perkiraanku. Kamu masih ingat mawar merah muda dalam pot yang kau hadiahkan padaku saat ulang tahunku, bukan? Daun-daunnya layu, jangankan untuk mekar. Setiap hari aku harus rela helai demi helai rontok, menyaksikannya sangat menyakitkan Rob. Karena itu berarti matahari tak cocok buatmu, bila kau lama-lama menjadi matahari, kamu pasti akan meranggaskan banyak tanaman cinta yang tumbuh di dunia.
***
"Rin... senyum dong, masak photo pre wedding pengantinnya senyumnya kusam begitu" kata salah satu Om ku menggoda. Kembali, aku berusaha untuk tersenyum. Dan memang untuk ini aku yakin akan keputusanku, aku bahagia karenanya.
Hanya saja, ada satu angan yang belum aku tunaikan. Memberi jawaban atas pertanyaan Robby, setahun yang lalu.
"Kalau aku mati, kemudian dilahirkan kembali, takdir apa yang akan kau pilihkan padaku", tanyanya padaku di suatu ketika.
Setelah pencarianku yang terakhir matahari yang meranggaskan mawar merah muda, aku tidak berani menyatakan harapanku untuk menjadikan Roby sebagai lebah. Ah... perempuan mana yang mau menakdirkan lelakinya menjadi lebah, apalagi lebah pejantan yang suka hinggap dan pergi sembarangan. Meski ia dipuja oleh para petani sebagai penolong, tentu aku tak mau nantinya Roby menjadi lebah.
Hemmm... mungkin aroma ini, aroma api. aroma yang kental aku hidu dari bahunya, dari selampitan lengannya, dari tubuhnya. Aroma api yang sangat sesuai dengan ruar otaknya saat berapi-api bercerita, saat mengungkapkan kekesalannya, atau malu-malu mengatakan ingin mendekapku utuh menjadi satu bagian dengan tubuhnya. Yah... mungkin aroma itu. Aku telah berjodoh dengan aroma ini sejak aku SMU, aku menghidu pertama kali saat seorang karib menawariku menyemprotkan aroma yang dipunyai, namun ia kurang suka dengan ryuar aroma itu, terlalu kuat menurutnya. Kebetulan aku jatuh cinta pada aroma itu. Maka aku pikir tak ada salahnya aku ganti membayar aroma itu dari karibku.
Kemudian entah, aku hanya menyimpan saja aroma itu dalam lemari koleksi parfumku. Kemudian entah bertahun-tahun sesudahnya, ketika aku menemui Roby pertama kalinya ingatan ku akan aroma itu seperti dibangkitkan lagi. Dan entah, ini seperti kegilaan yang luar biasa. Aromanya membangkitkan gairah hidupku yang sebelumnya aku telah ditinggalkan oleh orang yang selama ini benar-benar aku cintai. Aku seakan-akan jatuh cinta lagi pada aroma itu. Kegilaan ini bahkan aku lampiaskan dengan memborong beberapa botol parfum yang sama. Setiap pagi atau di saat-saat aku merindukannya aku akan mamruarkan aroma itu ke tubuhku, menyetubuhinya dalam mimpiku. Ah... Roby, kamu memang sangat pantas aku abadikan menjadi sebotol parfum abadi, parfum dengan aroma api.
***
"Rin..." sapa Roby lembut dari belakang.
Roby kemudian memijat tengkukku dengan lembut dan mengecupnya. Aneh... aku tidak membaui aroma api dari tubuhnya. Ia kehilangan aroma apinya. Namun entah, aku nyaman akan itu. Aku tidak lagi memusingkan aroma api yang selama ini aku gila-gilai menempel di tubuhnya.
"Rob, masih ingat pertanyaanmu setahun yang lalu", tanyaku. Pertanyaan,
"Kalau kau mati, kemudian dilahirkan kembali, takdir apa yang akan aku pilihkan padamu", ujarku padanya.
Ia beringsut dari pelukannya, "Iya, masih. Kamu akan merubah jawaban", tanyanya.
Aku menggeleng.
"Aku hanya ingin melengkapi jawabanku. Dalam agama kita tidak ada reinkarnasi. Jadi untuk apa kita repot memikirkan takdir apa yang akan kita jalani, bila kita dilahirkan kembali. Takdir kita adalah satu untuk satu. Seperti potongan hati yang saling melengkapi, seperti pasangan sayap yang saling menyokong beban. Selamanya. Sejujurnya, selama masa kita terpisah sebelum kita memutuskan pernikahan ini, aku sempat memikirkan beberapa pilihan, namun apapun pilihannya, aku tidak ingin merubahmu menjadi salah satu di antara pilihan-pilihan tersebut."
"Aku pernah memutuskan takdirmu untuk menjadi hujan, matahari, bahkan aroma parfum abadi, api. Aku pikir ketiganya sangat dekat denganmu, kamu hangat. Namun ternyata aku keliru, tak ada yang bisa membuatmu hangat selainku, tak ada yang melengkapimu selainku. Bukan begitu", jelasku.
Dia hanya mengecupku lembut dan kecupan malam itu mengawali hari kami sebagai potongan hati yang utuh, sepasang sayap yang saling menyokong, satu untuk satu sama lain. Selamanya.
Sby, 251009
Jumat, 30 Oktober 2009
Langganan:
Komentar (Atom)