Jumat, 30 Oktober 2009

Reinkarnasi

"Kalau aku mati, kemudian dilahirkan kembali, takdir apa yang akan kau pilihkan padaku", tanyanya padaku di suatu ketika. 

Saat itu penghujan belum tiba, terlambat dua bulan dari perkiraan cuaca di kotaku. Ah... ya pertanyaan itu. Pertanyaan itu belum tunai kujawab, bahkan setelah setahun kami berpisah. Mungkin sudah terlalu lama pertanyaan itu mengendap, dan mungkin ia juga lupa akan pertanyaan itu. Namun, entah kadang-kadang saat aku sudah dalam kondisi luang, lepas dari rutinitas, pertanyaan itu kembali muncul dalam otakku.

Saat itu aku hanya terkekeh, dan menjawab, "Dalam agama kita tidak ada reinkarnasi. Jadi untuk apa kita repot memikirkan takdir apa yang akan kita jalani, bila kita dilahirkan kembali. Takdir kita adalah satu untuk satu. Seperti potongan hati yang saling melengkapi, seperti pasangan sayap yang saling menyokong beban. Selamanya". Saat itu ia tersenyum, menatapku, menggenggam tanganku dan meraih bahuku, kemudian mendekapku. Hangat.

Beberapa minggu setelah percakapan kita, aku mulai memikirkan hujan. Pada saat itu kebetulan hujan sedang turun. Dan, entah memang dari kecil aku selalu suka hujan. Aku bukan orang yang tahan dengan dingin hujan yang mengguyur tubuhku, apalagi hujan pertama. Ibu selalu mengurungku saat itu. 

"Kamu nanti sakit", begitu katanya selalu. 

Tapi, aku selalu menyelinap saat Ibu telah terlelap, membuka perlahan daun pintu depan, diikuti gerbang pagar. Kemudian bermain bersama hujan. Ia menggelitiki tubuhku di setiap sentinya. Hangat. 

Setelah lamunan itu, kemudian aku menggumam, "Rob, aku ingin kamu jadi hujan. Aku selalu merindui basah hujan menggelitiki tubuhku." Kalian mempunyai hangat yang sama. Hangat yang sama dengan apa yang aku rekam dengan kenangan hujan di masa kecilku. Hangat.

Tapi seiring perjalanan waktu, rumahku yang bukan sebuah kawasan yang ramah lingkungan dilanda banjir. Aku jadi membenci hujan. Kamu tahu mengapa, Rob? Kamu sering mengirimiku bingkisan-bingkisan kecil, beberapa surat bercerita tentang kisahmu yang indah, buku-buku dan catatan-catatan penggugah semangat. Lantai kamarku banjir saat hujan datang, tembok menjadi lembab, buku-buku menjadi ikut lembab, beberapa surat kutemukan pojok-pojoknya menjadi berlumut, dan kertas-kertas yang berisi catatan-catatanmu menjadi menguning ditempeli jamur. 

Kamu tahu, waktu itu, setelah berhari-hari diserang banjir aku menunggu matahari datang. Setiap pagi, aku memboyong semua buku, kertas, dan catatan-catatan darimu. aku naik begitu saja ke plafon rumah, bertelanjang kaki, kemudian menghamparkan benda-benda kesayanganku disana. Sebenarnya tidak hanya barang-barang darimu, namun juga buku-buku berharga dari karib atau buku-bukuku sendiri yang aku beli dengan menyisihkan honorku bekerja.

Saat itu aku juga memikirkan soal reinkarnasimu, matahari memang penolongku saat itu. Ah... andaikan kau adalah matahari dan kau pasti menolongku pada saat ini. Seperti saat kau selalu datang di saat aku membutuhkanmu. Aku ingat, sewaktu aku menjalani operasi pengangkatan tumor dua tahun yang lalu. 

Aku tahu, saat itu kau baru saja berangkat ke luar negeri, pesawatmu pun baru sampai ke Bangkok. Hanya saja, saat itu Ibuku panik, aku pingsan di bandara, setelah aku siuman, aku lumpuh separuh badan, meski, kemudian aku bisa pulih. Ibu men-dial nomor ponselmu. Berbicara terbata-bata, aku kolaps. Kau langsung memesan tiket kembali ke Jakarta, dan kemudian kembali ke Surabaya, hanya dalam hitungan hari itu juga setelah Ibu mengabarkan berita sakitku. Kau menungguiku di rumah sakit, kurang lebih sebulan, sampai aku pulih benar, sampai aku bisa berjalan lagi.

Untuk sementara aku tenang, matahari memang satu penggambaran wujud reinkarnasi yang ideal menurutku buatmu. Bukankah matahari menjadi milik siapa saja? Bukankah ia tak mungkin tertolak oleh yang lain? 

Namun, kemudian matahari menjadi jumawa. Kemarau datang lebih lama dari perkiraanku. Kamu masih ingat mawar merah muda dalam pot yang kau hadiahkan padaku saat ulang tahunku, bukan? Daun-daunnya layu, jangankan untuk mekar. Setiap hari aku harus rela helai demi helai rontok, menyaksikannya sangat menyakitkan Rob. Karena itu berarti matahari tak cocok buatmu, bila kau lama-lama menjadi matahari, kamu pasti akan meranggaskan banyak tanaman cinta yang tumbuh di dunia.

***

"Rin... senyum dong, masak photo pre wedding pengantinnya senyumnya kusam begitu" kata salah satu Om ku menggoda. Kembali, aku berusaha untuk tersenyum. Dan memang untuk ini aku yakin akan keputusanku, aku bahagia karenanya. 

Hanya saja, ada satu angan yang belum aku tunaikan. Memberi jawaban atas pertanyaan Robby, setahun yang lalu. 

"Kalau aku mati, kemudian dilahirkan kembali, takdir apa yang akan kau pilihkan padaku", tanyanya padaku di suatu ketika. 

Setelah pencarianku yang terakhir matahari yang meranggaskan mawar merah muda, aku tidak berani menyatakan harapanku untuk menjadikan Roby sebagai lebah. Ah... perempuan mana yang mau menakdirkan lelakinya menjadi lebah, apalagi lebah pejantan yang suka hinggap dan pergi sembarangan. Meski ia dipuja oleh para petani sebagai penolong, tentu aku tak mau nantinya Roby menjadi lebah.

Hemmm... mungkin aroma ini, aroma api. aroma yang kental aku hidu dari bahunya, dari selampitan lengannya, dari tubuhnya. Aroma api yang sangat sesuai dengan ruar otaknya saat berapi-api bercerita, saat mengungkapkan kekesalannya, atau malu-malu mengatakan ingin mendekapku utuh menjadi satu bagian dengan tubuhnya. Yah... mungkin aroma itu. Aku telah berjodoh dengan aroma ini sejak aku SMU, aku menghidu pertama kali saat seorang karib menawariku menyemprotkan aroma yang dipunyai, namun ia kurang suka dengan ryuar aroma itu, terlalu kuat menurutnya. Kebetulan aku jatuh cinta pada aroma itu. Maka aku pikir tak ada salahnya aku ganti membayar aroma itu dari karibku. 

Kemudian entah, aku hanya menyimpan saja aroma itu dalam lemari koleksi parfumku. Kemudian entah bertahun-tahun sesudahnya, ketika aku menemui Roby pertama kalinya ingatan ku akan aroma itu seperti dibangkitkan lagi. Dan entah, ini seperti kegilaan yang luar biasa. Aromanya membangkitkan gairah hidupku yang sebelumnya aku telah ditinggalkan oleh orang yang selama ini benar-benar aku cintai. Aku seakan-akan jatuh cinta lagi pada aroma itu. Kegilaan ini bahkan aku lampiaskan dengan memborong beberapa botol parfum yang sama. Setiap pagi atau di saat-saat aku merindukannya aku akan mamruarkan aroma itu ke tubuhku, menyetubuhinya dalam mimpiku. Ah... Roby, kamu memang sangat pantas aku abadikan menjadi sebotol parfum abadi, parfum dengan aroma api. 

***
"Rin..." sapa Roby lembut dari belakang. 

Roby kemudian memijat tengkukku dengan lembut dan mengecupnya. Aneh... aku tidak membaui aroma api dari tubuhnya. Ia kehilangan aroma apinya. Namun entah, aku nyaman akan itu. Aku tidak lagi memusingkan aroma api yang selama ini aku gila-gilai menempel di tubuhnya.

"Rob, masih ingat pertanyaanmu setahun yang lalu", tanyaku. Pertanyaan,

"Kalau kau mati, kemudian dilahirkan kembali, takdir apa yang akan aku pilihkan padamu", ujarku padanya. 

Ia beringsut dari pelukannya, "Iya, masih. Kamu akan merubah jawaban", tanyanya.

Aku menggeleng.

"Aku hanya ingin melengkapi jawabanku. Dalam agama kita tidak ada reinkarnasi. Jadi untuk apa kita repot memikirkan takdir apa yang akan kita jalani, bila kita dilahirkan kembali. Takdir kita adalah satu untuk satu. Seperti potongan hati yang saling melengkapi, seperti pasangan sayap yang saling menyokong beban. Selamanya. Sejujurnya, selama masa kita terpisah sebelum kita memutuskan pernikahan ini, aku sempat memikirkan beberapa pilihan, namun apapun pilihannya, aku tidak ingin merubahmu menjadi salah satu di antara pilihan-pilihan tersebut."

"Aku pernah memutuskan takdirmu untuk menjadi hujan, matahari, bahkan aroma parfum abadi, api. Aku pikir ketiganya sangat dekat denganmu, kamu hangat. Namun ternyata aku keliru, tak ada yang bisa membuatmu hangat selainku, tak ada yang melengkapimu selainku. Bukan begitu", jelasku.

Dia hanya mengecupku lembut dan kecupan malam itu mengawali hari kami sebagai potongan hati yang utuh, sepasang sayap yang saling menyokong, satu untuk satu sama lain. Selamanya.


Sby, 251009

Minggu, 26 Juli 2009

Akasia

: Cassle, sebuah kado

“Apakah daun yang gugur itu akan kembali ke pohonnya, Ibu?”

Pertanyaan itu berulang-ulang selalu kuajukan pada Ibu setiap tahun pada momen yang sama. Tepatnya tujuh-delapan tahun yang lalu. Mungkin karena ada semacam benak yang mengganjal dalam otakku selama ini, aku selalu merasa Tuhan menjadi tidak adil, ketika melihat daun yang jatuh dari pohon atau buah yang dipetik dari asal muasalnya. Aku selalu membayangkan pohon adalah seorang anak yang lahir dari ibunya. Saat kecil aku selalu menanyakan hal itu.

Ibu selalu menjawab, “Tak semua perbuatan perlu suatu pembalasan.”

Sebenarnya ada kebiasaan yang unik dalam keluarga kecil kami. Ya, keluarga kami adalah keluarga dengan sedikit kepala didalamnya. Tak banyak keriuhan yang kami ciptakan. Kami bercakap dalam diam. Mungkin salah satunya ritual ini. Setiap Juli di belakang kebun kami, Ibu selalu menjalankan ritual yang sama. Ibu selalu menanam pohon yang sama di penanggal itu, di setiap tahun. Ibu selalu menanam bibit pohon Akasia di halaman depan rumah kami. Biasanya Ibuku akan menanam tepat di hari ulang tahunku 15 Juli. Ya, dua hari lagi aku akan memasuki tahun ke tujuh belas, dan seperti penanda tujuh-belas pada usiaku, tujuh-belas pohon akasia juga yang tertanam di kebun belakang rumah kami. Delapan di kebun belakang rumah kami yang lama, dan sisanya di kebun rumah kami yang sekarang. Kami memang tinggal di areal dengan luasan tanah lahan tidur yang masih cukup luas ditanami.

Entah apa pastinya, peristiwa yang menarik kedekatan antara Ibuku dan Akasia, yang jelas, pohon itu selalu mencipta bulan. Benar, pohon itu telah menciptakan daun berbentuk bulan sabit. Bunganya serpih-serpih kuning menjingga, seperti warna langit. Dua hal itu adalah kesukaanku sebenarnya, bulan sabit dan langit jingga. Ah.. jangan-jangan karena alasan itu Ibuku menanam Akasia. Karena aku menyukai keduanya. Koneksi? Mungkin. Tapi sungguh, aku sendiri sebenarnya tidak memiliki kedekatan intim dengan ibuku. Atau jangan-jangan sejak bayi Ibuku lah yang menanamkan kecintaanku pada Akasia terlebih dahulu, dibandingkan pada bulan sabit dan langit jingga? Ah… entah.

Aku meyakini sejak kecil, bahwa pohon Akasia adalah pohon yang pintar. Pohon yang pintar mengikuti maksud cuaca. Pohon yang bisa membaca musim. Saat musim hujan, daun-daun bersemi hijau, bunga-bunga Akasia menunjukkan semi jingganya. Di musim kemarau, maka kulit-kulit kayu Akasia akan mongering, daun-daun jatuh, meranggas meninggalkannya. Dan, aku akan kembali menggumam kalimat yang sama setiap tahun, dan mengutarakannya. Bukankah suatu keajaiban menyaksikan kuncup-kuncup jingga Akasia tersembul dari pucuk-pucuk dahan. Atau pergantian daun yang meranggas.

Sedangkan pergumulanku dengan bulan sabit dan langit jingga, adalah karena mereka yang menemani hariku. Saat aku pulang sekolah, atau saat aku di rumah, anak-anak yang lain akan dengan bangga memamerkan masakan Ibunya. Sementara, aku harus mendapati ruangan kosong dan rumah dalam keadaan senyap. Bukan Ibu yang memelukku namun bulan sabit dan langit jingga lah yang bergantian menjagaiku.

Ibu seakan membiarkanku menjadi seperti tembok. Aku dijadikan semacam penahan atas sesak di dada yang ia hadapi. Ibu tak pernah marah pada keadaan, bahkan kuanggap, ia terlalu datar. Ayah mempunyai kekasih lain dan tentu itulah penanda yang paling sakit dialami perempuan manapun, bukan?

Ayah meninggalkan kami beberapa tahun berikutnya. Saat aku masih mengeja huruf pada bangku sekolahku. Ayah tak meninggalkan nafkah. Ibu mulai berhutang untuk menanggung hidup, disamping hutang yang ditinggalkan oleh Ayah. Ibu terpaksa harus menggadaikan rumah. Kemudian, kami akhirnya harus menepi ke sebuah kota kabupaten kecil dan dengan dibantu beberapa teman tetangga kami berhasil menemukan rumah kosong dengan lahan tidur yang lumayan luas untuk kami tinggali.

Dengan hasil pinjam sana-sini beberapa kenalan kami bertahan hidup untuk beberapa saat. Beberapa bulan kemudian Ibu berhasil mendapat pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah madrasah swasta kecil di dekat rumah. Dari penghasilan itu kami bertahan hidup.

“Apakah daun yang gugur itu akan kembali ke pohonnya, Ibu?”

Pertanyaan itu berulang-ulang tetap akan selalu kuajukan pada Ibu setiap tahun pada momen yang sama. Tepatnya tujuh-delapan bahkan puluhan tahun berikutnya. Mungkin karena tetap masih tersisa semacam benak yang mengganjal dalam otakku selama ini, aku selalu merasa Tuhan menjadi tidak adil, ketika melihat daun yang jatuh dari pohon atau buah yang dipetik dari asal muasalnya. Aku selalu membayangkan pohon adalah seorang anak yang lahir dari ibunya. Saat kecil aku selalu menanyakan hal itu.

Ibu, aku yakin akan selalu menjawab, “Tak semua perbuatan perlu suatu pembalasan.”

Daun dan bunga, sang anak pohon Akasia, apakah tidak terpikir olehmu untuk membalas jasa? Apakah hanya seputus masa cinta kalian? Dan pohon Akasia, apakah hanya seputus masa cinta mu pada daun dan bunga?... Ah entah, toh bagiku daun dan bunga masih saja seperti tak tahu diuntung.

Setelah menanam dan menjenguk pohon-pohon Akasia, maka kami akan berkumpul di ruang tengah memandangi foto keluarga. Foto itu hitam putih, perempuan berusia tiga puluhan menggendong bayi dalam dekapan dalam posisi duduk, memakai terusan bunga-bunga, rambut sebahunya disisir ke belakang tanpa belahan, seorang lelaki berkumis memakai setelan safari di sebelahnya dalam posisi berdiri. Ibu menyeduh cangkir kopi, dan biasanya aku akan menata beberapa kue kecil di meja ruang tengah. Setelah itu aku akan ikut duduk dan juga diam. Keluarga kecil kami hanya aku dan ibuku. Setelah itu, sebuah pertanyaan tambahan aku lontarkan pada Ibuku.

“Apakah aku dan ayah seperti daun dan bunga Akasia dan Ibu pohonnya?”


“Suatu saat aku menjadi bunga, Ibu. Aku akan meninggalkan pohonnya, adilkah bagimu?”


Dan ibu menjawab, “Kau dan Ayahmu adalah zat hara pohon itu dan tak semua perbuatan perlu suatu pembalasan.”

“Daun Akasia gugur dan menjadi zat hara, begitu juga bunga. Dan pohon bertahan karena itu.”


“Pembalasan datang dengan caranya sendiri-sendiri”

Dan Juli ini, Akasia di halaman kami ranggas. Satu-satu daun dan bunganya luruh ke tanah, seperti Juli-Juli sebelumnya. Suatu cara agar daun dan bunga itu kembali ke pohonnya.

Sby, 240709

.....

Kamis, 25 Juni 2009

Sajak Teler : Aku, kamu, kita dan perjalanan

Hingga separuh perjalanan, kau masih mengepulkan asap rokok dari mulut memerahmu. Sungguh dari liang yang kita tempuh berdua, ada duka yang ingin kau hilangkan seketika. Kau menghilangkannya dengan mencuci mulutmu dengan keluk asap rokok yang separuh jalan. Asap rokok itu mungkin akan mengucap selamat malam pada cinta yang desah gelisahnya tak pernah kau sangkal tapi kemudian kau geletak gelepar sekenanya di kolong ranjangmu semalam atau malam-malam kemarin.

Tapi kita hanya sepasang pejalan yang butuh tujuan, namun entah aku tak tahu pasti apakah kita akan bertemu atau tidak melanjutkan perjalanan ini bersama sama sekali. Mungkin ada bekal beban yang kita bawa bersama atau kau harus meninggalkan beban itu untukku atau akulah yang meninggalkan sebagian, beberapa atau semua bebanku padamu. Atau mungkin kita saling bertukar beban, atau kita sama sekali tidak pernah melakukan pertukaran apapun dan tetap membawa masing-masing beban kita sebelumnya. Aku mengharapkan masing-masing dari kita sama-sama meninggalkan beban kita di jalan-tapi apakah itu pada akhirnya akan memberatkan yang lain? Maksudku agar beban itu pada akhirnya tidak ditemukan orang di jalanan, maka bolehkan membuangnya di sungai di bawah jembatan? Jangan-jangan bekal itu nantinya akan rusak?

Dan layaknya sebuah perjalanan kita biarkan saja diri kita istirah di tepian menghidu asap keluk polutan. Jadi kubilang terakhir kalinya, percuma saja bila kau akan menghentikan asap rokokmu, toh kau tidak bisa berkumur dengan polutan? Atau itu yang akan kau lakukan? Jika iya coba bawa segantang dua gantang polutan dan kita sama-sama berkumur dengan asap polutan itu. Tapi pada akhirnya aku tahu kau akan menolak, katamu asap polutan hanya membuat dirimu bertambah tolol, dan diriku bertambah goblok. Jadi menurutmu lebih baik kita menghidu asap rokok begitu?

Di tengah peristirahatan kau bertanya, laparkah aku? Dan kugelengkan kepala, sambil kujawab percuma saja makan, kalau nantinya aku harus lapar lagi dan makan lagi. Sama dengan kita bukan, buat apa menempuh perjalanan bersama kalau akhirnya harus berpisah? Buat apa berjalan, kalau nantinya harus selalu istirah.


Sby, 020609

Senin, 30 Maret 2009

Trah

I/
Dewi Ayu turun perlahan ke atas bumi. Disambut peri-peri ilalang dan kurcaci kunang-kunang. Hari itu ia menyaksikan sendiri langit akan tetap berwarna sama, dengan kanvas yang sama. Biru beludru dengan gumpalan putih kapas elok. Hanya saja entah, dalam beberapa kesempatan ia ingin sekali memprotes Tuhan.

”Tuhan, mengapa tak sekali-sekali kau warnai langit seperti cabai yang menyala. Merah. Seperti luka yang ia goreskan kepada milikku yang berharga. Kenangan. Atau Tuhan... bila kau ingin warna lain, mengapa kau tak cari saja padanan warna seperti anggur yang meranum. Ungu. Seperti lebam yang ia cap-kan pada jantungku. Memar rasa”

Ia tak meminta lebih banyak pinta. Baginya satu pembuktian warna langit, cukup untuk membuktikan kecintaan Tuhan padanya. Ia tak pernah meminta rangkaian hari dimana ia harus membersihkan badannya yang kotor setelah melahirkan malaikat kecil.

Entah, berapa kali ia harus mengucap ingin mengakhiri hidupnya. Mungkin sebuah protes. Lagi-lagi pada Tuhan.

”Tuhan... kalau kau masih mengingat gurat pembalut yang suci, ia akan tetap berwarna putih. Bukan coklat, atau merah cabai. Kalaupun ia berwarna merah cabai, tentu ia akan berada dalam hitungan periode hari. Bukan beberapa minggu atau bulan.”

Dan entah, Dewi Ayu lagi-lagi hanya perempuan ayu yang biasa, ketika ia harus melahirkan malaikat kecil, Bayu. Dewa angin pembawa berita kedamaian buat umatnya, mungkin. Tapi tentu tidak untuk Dewi Ayu. Bayu menjadi berita pembawa aib baginya.

Dewi Ayu masih ingat jangkah-jangkah Putra Bajang marapal mantra seperti rayuan baginya. Namun dari desas-desus yang Dewi Ayu tahu dari rekan-rekannya, Putra Bajang telah meniup sebuah ilmu pemikat padanya. Entah, Dewi Ayu seperti melihat Putra Bajang adalah pahlawan yang jadi nyata. Di dekapannya Dewi Ayu merasa nyaman. Putra Bajang menjanjikan tahta angin untuk Dewi Ayu dan Bayu. Wajah Putra Bajang elok sungguh, dengan dada bidang dan entah tangan-tangan dan jemari nya yang lembut namun tegas, Dewi Ayu rasakan sebagai pelindung dirinya, saat itu.

Tak ada satupun orang terdekat Dewi Ayu yang menyukai Putra Bajang. Putra Bajang terkenal dengan kedigdayaan kekuasaannya. Ia selalu dijadikan terdakwa atas hilangnya beberapa anak-anak gadis dan perempuan dewasa lain di kampung. Ada yang mengatakan Putra Bajang senang dengan darah anak-anak gadis dan perempuan dewasa, ada pula yang mengatakan Putra Bajang menciptakan dinasti kerajaan angin dengan mereka.

II/
Dari dulu aku tak pernah setuju, ibu selalu memonitor gerak-gerik ku. Bagi Ibu tentu tak akan pernah ada menantu yang sempurna, dan tak akan pernah ada perempuan yang sempurna untuk ku. Bahkan untuk sekedar menjadi budak ku , budak seorang Putra Bajang sekalipun.

Aku memang tak pernah menyalahkan hasratnya untuk menjadi penguasa tahta angin. Tak pernah sekalipun juga menyalahkan sikapnya yang berhati-hati memilihkan calon generasi penerus penguasa tahta angin berikutnya.

Setiap hari, aku selalu sudah mempunyai jadwal tersendiri saat menemui calon-calon perempuan yang bisa ditanami rahimnya dengan benihku dengan beberapa hal-hal yang menjadi perhatian sang Ibu. Bukan hanya bibit, bebet, dan bobot, tetapi juga wedi, gemi lan gemati. Sebuah penanda trah yang aku sendiri tak mengerti untuk apa dan mengapa dibuat seperti demikian.

III/
Entah apa yang ada di pikiran perempuan ini, mengayunku dengan sedemikian lembutnya. Padahal aku tahu, aku sudah dianggap tak pantas berada dalam buaiannya. Perempuan yang meletakkan kepala di kaki dan kaki di kepala, hanya untuk seorang Putra Bajang. Hanya untuk seorang anak dari Putra Bajang.

Entah aku sendiri tak tahu, apakah aku berasal dari trah Dewi seperti dirinya? Atau berasal dari trah Bajang seperti lelaki itu?

IV/
Dewi Ayu Nawangwulan malam itu menancapkan tapak bibirnya di lembut dada Putra Bajang. Penanda purnama pun telah menggenapkan untaian hati mereka. Saat Putra Bajang turun ke bumi membasuhkan kaki nya pada telaga Dewi Ayu Nawangmulan.

Bayu mendesis bergumul di cawan mahkota Dewi Ayu, berasal dari gumpal nutfah Putra Bajang dan Dewi Ayu. Mereka saling menyetubuhi selampit ketiak. Menukar lidah dan ludah. Sebuah penanda yang ditinggalkan Putra Bajang pada Dewi Ayu, Dewi Ayu untuk Putra Bajang.

V
Mijil dilantunkan sayup-sayup dari bibir Dewi Ayu, mendekap Bayu, mendoakannya. Mijil tembang yang dilantunkan sayup-sayup, sebuah penanda suatu kelahiran.

Entah ia trah dewa, entah trah bajang.

Rabu, 25 Maret 2009

Ngertio Ngunu

Ngertio ngunu aku gak usah buwak-buwak wektuku gawe ngawang-ngawang awakmu nang pengimpenku. Ngertio ngunu aku gak usah lungguh mbegegek nang ngarepe laptop cuman ngenteni awakmu nyapa. Ngertio ngunu aku gak usah ngronce-ronce pangarepku. Ngertio ngunu aku gak usah nyolong-nyolong gambarmu tak simpen nang laci data flashdisk ku. Ngertio ngunu... ngertio ngunu... ngertio ngunu...

Prek..!!!

Gak kathek cinta-cintaan, gak kathene sayang-sayangan. Lanangan saiki gak ono sing tayo. Kuabehh mek nglarani ati. Mulai teko Rudi, Joko, Anjar, Sapto. Kuabehhh preekk!!!... Telek kabeh!!!

Wis udakara telung wulan aku gak sopoan karo Sapto, seniorku pas aku SMA. Rikala semono aku wis ngerasa sepa karo Sapto. Pancen, aku dudu tipe wong wedhok sing mesthi siap sediyo nunggoni de'e jemundhul pas YM an. Pancen aku dudu wong wedhok sing tambar rikala de'e nggunemke kanca wedhok'e kaya Endang sing semlohe, Tutik sing lantip pikir'e, Siti sing sugih rajakayane, utawa Nur sing atine uaapik ora jamak.

Gak maido lek Sapto malih mbesengut ae, pas aku ngomel-ngomel gak jelas juntrungane opomaneh lek aku bar ndedes nakoni de'e merga aku cemburu, tapi aku gak ngakoni. Mergane aku dewe yo dudu wong sing ayu nglegena kaya Endang, gak pinter moncer kaya Tutik, aku teko wong sing gak dhuwe, aku yo ora mesthi nuruti opo kekarepan'e Sapto. Saktemene tak akoni aku cemburu.

Sapto. Sing tak ilingi teko Sapto kuwi dadane sing mbusung lan dedege sing menger-menger. Aku paling seneng lek Sapto nyapa tengah wengi. Bar ngunu aku iso cerito kedadeyan samubarang dinoan iku. Nangis-nangis sak karepku, gak isin-isin. Lek wis bar, paling Sapto nuturi aku. Cuman dudu iku mergane aku kesengsem karo Sapto. Sapto mesthi ana lek aku lagi butuh. Nandhang lara lapa bareng. De'e ewasemono uga cerita nyenengi kancaku. Ewasemono aku durung kesengsem ambek de'e, paling aku dadi kanca seman-semon de'e. De'e mesthi cerito soal keluargane, soal penggaweyan'e, soal kesenengan'e kadang soal opo sing marakke atine bungah utowo lungkrah.

Aku gak ngerti apa sing njalari aku seneng karo dheweke. Sing jelas aku seneng. Pas de'e sering ngeke'i wektune gawe aku. Aku bungah lek ono wong sing cerita samubarang'e karo aku. Aku seneng lek aku dipercoyo karo liyan.

"Ka, lunga bareng yok?" jarene pas wayah ba'da maghrib

"Menyang endi Sap? Awakku wis kesel kabeh, wingi bar resik-resik jogan, ngangkut-ngangkut tilasan kerdus simbok kulakan" alesanku.

Aku wes males sakjane ketemu Sapto, wes ngerasa njembek ambek raine sing dak kira podo ae ambek bajul, meneng-meneng bar ngunu nyaplok mangsa wedhok'ane.

"Ya, wis lak ngunu aku tak metu wae ambek Dwi. Hehehhe... aku ngaku wess... wes ket suwi aku seneng karo adhimu, Ka" ngakune Sapto.

Atiku njomblak kaget. Ooo... tibak'e si Sapto seneng karo Dwi. Gak kathek nyuwun sewu, tanganku mak-hweet...

PLAAKK!!!

Bar ngunu aku mek iso ngguguk mingsek-mingsek, nutupi raiku, minggat teko papan kunu. Ninggalno sapto sing mrenges-mrenges kelaran, njur bingung. Tapi babah, atiku yo wis kelaran mergo kelakuan'e de'e.

Sby, 250309

Rabu, 25 Februari 2009

Sestoples Permen

Ketika kau menginginkan untuk menjadi menarik, apakah yang kau perlukan untuk mewujudkannya?

Setidaknya ini adalah dari kacamataku, sesuatu itu harus punya bentuk yang menarik. Dan dengan kalkulasi persebaran tertentu secara acak dengan sedikit perhitungan maka kamu lah yang terpilih.

Baik. Karena cerita ini adalah cerita tentang Aku, maka kumulai saja. Aku dilahirkan dari rahim mesin-mesin industri, sumber nutrisiku adalah material mentah zat gula dengan rangkaian ikatan yang paling sederhana. Sperma yang membuahiku adalah beberapa orang pekerja, melakukan serangkaian percobaan, fase-fase perubahan, perbaikan-perbaikan formula, hingga ujicoba-ujicoba dengan menggunakan tubuh kakak-kakakku sebelumnya. Dari manusia-manusia industri itu kami jadi tahu nama kami “White Rabbit Creamy Candy”. Begitulah nama kami.

Kemudian, houplaa! Terlahirlah aku.

Sampai sekarang terhitung aku mempunyai ribuan bahkan lebih dari puluhan ribu saudara kembar. Saudara-saudaraku dan aku sendiri tentunya ditempatkan dalam satu tempat yang sama, bersama sekitar lima-puluhan saudara-saudaraku.

Setelah itu kami akan dijadikan satu kembali, diajak berkeliling-keliling, dan kemudian dipajang di etalase-etalase toko. Kalian tahu? Butuh berapa hari hingga aku mencapai sal-sal toko ini? Tebaklah. Bukan dalam waktu jam, tapi kami diajak berkeliling-keliling sekitar hampir sebulan. Sebuah perjalanan yang memuakkan bukan?

Kami ditempatkan dalam tempat yang sama, dalam posisi sama, bersama ke limapuluhan saudara-saudaraku lainnya. Nantinya kami harus bersaing satu sama lain, kemudian kami juga harus bersaing dengan puluhan ribu wadah yang sama, berisi jumlah yang sama dengan wadah kami. Hitung sendiri berapa banyak wajah-wajah kami menghiasi sal-sal toko negeri. Mungkin lebih banyak dari jumlah wajah-wajah manusia.

Kurang lebih ratusan kali aku melihat sinaran oranye. Ah tidak sepertinya lebih dari ribuan kali aku melihat timbul dan tenggelamnya oranye dari sekat bening sal toko tempat kami dipajang. Itu penanda bahwa kami akan beranjak hari keesokan.

Setelah kami berada di wadah-wadah kami, kami jadi rindu udara luar. Kalau dulu kami masih bisa menghirup udara pabrik, sekarang tak bisa lagi.

“Aku suka dia.” kata temanku sambil menggesekkan plastik bajunya padaku, di suatu ketika.

“Siapa?” sahutku terkaget, karena baru kali ini aku bisa berbicara dengan teman ku dalam lingkaran wadah itu.

“Suka apa?” sahut teman yang lain.

“Siapa yang suka siapa?” sahut yang lain.

Kemudian suasana dalam stoples menjadi gaduh, penuh suara nyaring, pertanyaan-pertanyaan miring. Apa itu suka, siapa yang bicara pertama, dan siapa yang disukai pertama kali. Semua jadi bising, stoples jadi riuh. Kami memang bergeming, tapi entah mulut-mulut kami saja yang riuh, badan kami tidak.

Setelah celetukan pertama itu, pembicaraan “Aku suka dia” menjadi tidak karuan ramainya. Tak ada yang mau mengalah untuk mengakhiri, pun tak ada yang mau mengakui. Sementara aku meyakini, sangat yakin, bahwa suara datang tak jauh dari tubuhku.

Maka seketika itu aku berteriak, "Kalau begitu kita uji suara. Aku yakin, suara si empu dekat sekali dengan aku"

Maka beberapa teman yang posisi nya lebih dekat denganku secara bergantian meneriakkan kata “Aku suka dia” secara bergantian. Akhirnya sampailah ke posisi sepermen teman yang tidak terlalu dekat, namun plastik bajunya masih menyinggungku.

“STOP!!! Baik, aku ngaku, aku yang ngomong “Aku suka dia” pertama kali. Aku sudah ngaku, sekarang apa mau kalian?” teriaknya panik. Rupanya dia takut dihakimi oleh massa permen-permen yang lain.

Kami semua celingukan, kebingungan. Memang benar, apa yang harus kami lakukan sekarang. Semuanya jadi serba tak jelas. Akhirnya, ada sesepermen yang angkat suara.

“Darimana, kau dapat kata-kata Aku suka dia?” tanya si empunya permen yang lain.

“Entah, aku juga tak tahu. Yang jelas kata-kata itu melompat begitu saja dari mulutku. Apa mungkin karena dia ya?”

Hah!!! Dia siapa?

“Aku suka dia, dia yang selalu mengelap stoples kita, mengecek-ngecek bandrol harga, menawar-nawarkan pada manusia-manusia yang lain. Aku suka cara manusia itu menggerai rambutnya, mengetuk-ngetukkan ujung sepatu hak tingginya ke lantai, membenarkan letak kerah kemeja putihnya, atau me-merusutkan rok merahnya yang mini itu”

“Ya… ampunn… jadi kamu suka manusia itu?”

“Iya, aku suka. Memangnya kenapa?”

Dan kami pun diam, memasang-masang kemungkinan kejadian-kejadian antara temanku dan si manusia rambut panjang, kemeja putih, rok merah mini, dan sepatu hak tinggi itu. Tapi tetap kami tak punya jawaban lain selain mematung membisu. Dan tiba-tiba seisi stoples senyap seperti sedia kala

Langit oranye hari itu kembali menurunkan tirainya, menggantikan birunya langit. Temanku yang ketahuan mencinta tadi hanya mematut-matut kesukaannya pada si manusia. Sementara aku tenang-tenang saja, diam seperti yang lain.

***
Sebuah supermarket hari itu mendapatkan sepucuk surat dari BPPOM. Berikut adalah daftar makanan yang ditarik dari peredaran karena mengandung bahan ber-melamin. Bahan ini disinyalir akan membahayakan bagi kesehatan konsumen.
Berikut daftar makanan yang telah diperintahkan untuk ditarik dari peredaran oleh BPPOM
Produk yang ditarik dari peredaran:
1. Jinwel Yougoo Susu Fermentasi Rasa Jeruk
2. Jinwel Yougoo Aneka Buah
3. Jinwel Yougoo tanpa Rasa
4. Guozhen susu bubuk full cream
5. Meiji Indoeskrim Gold Monas Rasa Cokelat
6. Meiji Indoeskrim Gold Monas Rasa Vanila
7. Oreo Stick Wafer
8. Oreo Stick Wafer
9. Oreo Cokelat Sandwich Cookies
10. M&M’s Kembang Gula Cokelat Susu
11. M&M’s Cokelat Susu
12. Snicker’s (biskuit-nougat lapis cokelat)
13. Dove Choc Kembang Gula Cokelat
14. Dove Choc
15. Dove Choc
16. Natural Choice Yoghurt Flavoured Ice Bar
17. Yili Bean Club Matcha Red Bean Ice Bar
18. Yili Bean Club Red Bean Ice Bar
19. Yili Prestige Chocliz
20. Yili Chestnut Ice Bar
21. Nestle Dairy Farm UHT Pure Milk
22. Yili High Calcium Low Fat Milk Beverage
23. Yili High Calcium Milk Beverage
24. Yili Pure Milk 205 ml
25. Yili Pure Milk 1 L
26. Dutch Lady Strawberry Flavoured Milk
27. White Rabbit Creamy Candy
28. Yili Choice Dairy Frozen Yoghurt Bar (kembang gula)

Sumber: Tempointeraktif ==PUSAT KOMUNIKASI PUBLIK SEKRETARIAT JENDERAL DEPARTEMEN KESEHATAN RI

“Rinda, kamu sortir merk-merk ini ya. Lalu hancurkan. Sepertinya aku masih ngelihat White Rabbit Creamy Candy di jajaran stock opname kita.” kata seorang Manajer Stockist pada salah satu anak buahnya.

Rinda, pramuniaga supermarket itu, pakaiannya setelan kemeja putih dipadu rok mini merah, dengan sepatu hak tinggi, rambutnya dibiarkan tergerai, melangkah menuju ke sal permen, mengambil beberapa stoples permen, termasuk stoples permen White Rabbit Creamy Candy, yang tadi baru saja terjadi keributan. Permen itu akan dibuang olehnya untuk dimusnahkan.

***
Di sebuah ruang kamar masing-masing, dua orang penulis sama-sama mengamati hasil jadi tulisan salah satu dari mereka. Mereka terlibat sebuah percakapan dari jendela messenger instant

panah_hujan : ahhh…. akhirnya kok seperti itu?
nisa_diani : sudah jangan protes…
panah_hujan : ini kan jadi seperti ceritamu?
nisa_diani : soal apa?
panah_hujan : iya, kamu sis. kamu, yang seperti mengharapkan menunggu-nunggu cinta seseorang datang merengkuhmu dalam diam.
nisa_diani : hlohh…. kok jadi kayak gitu, bukan seperti itu maksudku. bukan itu inti pesan yang pengen kusampaikan. kamu kan mintanya cerita tentang kamu, kenapa arahmu jadi cerita tentang aku?
panah_hujan : lalu?
nisa_diani : kamu kan minta dibuatin cerita tentang kamu. pesanku adalah

Dan pet… lampu padam. Penulis yang satu mengutuk sendiri
“Aduh!! Jadi apa pesannnya? Sialll…”

Sby, ruang kosong, 300109

Sudut Rindu Kunang-Kunang (2-Senja)

Senja tak muncul kembali keesokan harinya, membiarkanku termangu lagi seperti kemarin. Kampret! Tuhan... apa sih maksudMu. Kau memberikanku candu, agar aku melupa pada-Mu. Hari-hariku seperti menanti

Seperti kemarin sore, sehabis menyelesaikan tugas-tugas monoton yang dibebankan padaku, aku menantikan senja membias dari langit. Sial mendung datang lagi, hujan akan datang, seperti hari-hari kemarin. Hari ini bukan hari keberuntunganku. Hujan ijinkan tempatmu digantikan sementara oleh senja. Apakah kau cemburu pada senja?

Aku menjadi benci pada hujan atas keegoisannya. Hujan telah membiarkan senja tak mendapat tempat sedetikpun di hariku. Dan senja akupun juga jadi membencinya, seolah tak pernah punya daya untuk memunculkan dirinya dengan kuat, dengan garang layaknya hujan. Senja selalu datang dengan malu-malu.

Hari ini, aku menduga senja akan punya perilaku yang sama, menyembunyikan dirinya dibalik awan, terkalahkan oleh hujan. Langit menjadi pekat, dan senja tak datang.

Ah... tapi hari ini belum. Langit memang terlihat mendung, tapi hujan belum datang. Jangan-jangan keduanya tidak datang? Ya benar, maksudku jangan-jangan, baik senja ataupun hujan, keduanya tidak datang. Semenit, sepuluh, tigapuluh menit, jarum pendek mulai mengarah ke angka lima. Ahhhh semoga dia datang.

Ha! Itukah dia, kukucek-kucek mataku, iya itu Sen-ja. Senja turun hari itu. Benar-benar turun dari kaki-kaki langit. Masih sama seperti hari-hari sebelumnya, ia meminjam tubuh malaikat. Tubuh malaikat yang sama. Aku hapal setiap jengkal tubuhnya. Aroma keringatnya, gerai rambutnya, bidang luasan dadanya. Aku ingat semua. Tanyakan padaku maka aku akan dengan cekatan menjawab. Hari ini ia memakai jaket biru, sebiru langit. Namun balur jingga Senja sepertinya lebih menarik kuamati daripada biru yang menyelimuti bidang dadanya

Aku bahkan mengingat sengkelit pinggangnya, ruam-ruam jemari tangannya, senyuman tipis di kerut bibirnya. Aku ingat.

Senja melangkah gontai, dengan raga malaikat ke arah pelataran kampus sore itu. Dia angkuh, tapi itu yang kusuka. Dia hanya datang sekejap kemudian menghilang sekejap itu pula.

Senja menghampiriku tak ada ragu, kemudian duduk di sebelahku. Di jangkaunya kepalaku, jemari tangannya menyusuri helai rambutku yang kubiarkan terurai. Dan ritual itu selalu saja berakhir sama di setiap pertemuan kami.

”Maaaasss... udah deh, ini nggak rapi lagi jadinya. Kacau deh sisiranku,” protesku.

Dan kekeh tawanya pun akan terdengar, seiring dengan protesku yang selalu sama aku seru.

Seperti biasa Senja mengantarku pulang, memboncengku dan menyuruhku menyengkelitkan luasan kedua tanganku memeluk pinggangnya. Ah... aku selalu suka aroma mu Senja. Wangi

Senja dan aku menyusuri jalan yang sama selalu. Beberapa belokan, pertokoan-pertokoan yang mulai menyingkap tirai-tirai besinya, kemudian terhenti di beberapa lampu stop-an.

Setelah sampai di depan pintu rumah, Senja pun pamit. Menurunkanku dari boncengan perlahan, dan meninggalkan penanda di keningku.

Ah Senja... aku ingin kau datang lagi keesokan.

Sudut Rindu Kunang-Kunang (1- Prolog)

Pelataran kampus saat itu masih basah. Hujan baru saja datang. Alirannya mengguyur sudut-sudut paving pelataran yang tak tertutupi atap. Sementara sisanya memercik nakal di beberapa bagian keramik dalam gedung. Satu-satu pucuk dedaun masih meninggalkan beberapa bulir rinai menyegarkan. Hujan.

Coba kau hirup sebentar, sambil memejamkan mata, niscaya dapatkan aroma daun yang bercampur hujan menguar. Kalau tidak cukup puas, maka temukan bebauan parfum kecipak tanah yang basah, membentuk kubangan, sebagai bonusnya.

Apa kabar senja? Tampaknya dia akan absen hari ini. Senja tampaknya terhalang mendung tebal. Mungkin sama seperti kemarin, aku tak akan melihat senja kembali. Senja malu-malu menyambut malam yang sebentar lagi datang.

Beberapa mahasiswi masih lalu lalang. Payung-payung yang mereka bawa, tadinya berwarna-warni terkembang, satu persatu, pupus menguncup. Mereka adalah ”leging-leging berjalan”. Begitu aku biasanya menyebutnya, celana mirip stocking yang hilir mudik, menyusuri pelataran. Celana ini sedang tren untuk mahasiswi-mahasiswi masa kini. Sama halnya dengan atasan balon, yang mengembang di bagian layer bawahnya.

Aku terjebak di suatu sudut gedung kampus, tempat duduk mirip ruang tunggu dokter, tas laptop di pelukan, dan mata sembab, akibat kurang tidur. Meski begitu aku tidak mengantuk, hanya saja aku bosan. Aku tidak terbiasa mendapati kebosanan ini. Duduk di pelataran, dan menunggu senja yang ku tahu tak bakalan datang menyapaku, setidaknya hari ini. Aku beranjak dari tempatku termangu. Gila! Benar-benar gila! Jangan-jangan aku telah terobsesi pada senja. Tunggu, sudah berapa lama sebenarnya aku tak menjumpai senja? Setahun? Enam bulan? Tiga bulan? Sebulan? Seminggu? Ingat, baru seminggu Eva, kau tak menjumpa senja. Senja itu sudah tergantikan oleh hujan. Dulu senja dan hujan adalah dua hal yang kusuka. Entah, sekarang aku menjadi benci keduanya, apalagi ketika mereka muncul bersisian. Aku suka keduanya saat mereka tidak bersama. Seperti dua benda yang saling menggantikan, tak bisa dipakai bersamaan. Tak bisakah mereka muncul bergantian saja? Misalnya, hujan dikala terik, kemudian shift berikutnya digantikan oleh senja nan elok.

”Bisa kan Tuhan,” rajukku tiga hari yang lalu.

Dan Tuhan biasanya hanya tersenyum sinis, menjawab dengan gayanya khas.

”Kuberi kau keduanya, hujan yang rinai, dalam senja yang malu. Puass,” katanya.

Kuputuskan akhirnya untuk membunuh rasa bosanku. Kulangkahkan kaki menuju meja internet, di kantorku. Tertipu? Aku bukan mahasiswa, aku hanya tenaga honorer rendahan yang mendapat remahan dari petinggi kampus. Balas jasanya aku harus mengajar beberapa mahasiswa, sambil menyelesaikan studi lanjutku disini. Klik ID dan password window Yahoo Messenger kubuka. Bosan. Ada invite masuk.

”selamat malam, kunang-kunang. kalau kau belum juga menjawab seruanku, kuyakin kau belum saatnya terbang.” serunya di brief introductional.

Tak kuhiraukan, not allow bahasa di YM itu. Matikan. Pulang. Bosan kembali lagi merajam. Kutinggalkan meja kerja, ketembus jalanan yang masih menyisakan rinai hujan.

Sementara aku tak pernah menyadari, seseorang yang menginviteku, akan menunggu dengan sabar. Seseorang itu berlabel, lelaki_malam.
(bersambung)

Di Ujung Kerah Bajumu Kutemukan Cinta

“Kau masih ingat tawa kita kan? Ingat kan? Atau kau butuh suasana penyegar.” katanya di suatu malam sebelum terlelap.

“Lin, kita akan selalu bersama kan?” mendekapku dalam malam-malam sunyi kami, malam kerinduan kami.

“Lin, akan selalu menyimpan senyummu dalam peti rinduku, Mas,” jawabku “dan pada saat itu aku menjaga peti itu dalam sejumput doaku.” gumamku dalam hati.

Dan kami pun melewatkan malam itu dengan mendekap tubuhnya, tidur di pelukannya. Seperti malam-malam kami kemarin, seperti biasa.

Saat itu kemudian Dimas mendengar sebuah panggilan.

“Pak... pak... sebentar lagi kita akan landing, mohon dipasang sabuk pengamannya.”

Dengan kaget Dimas terbangun, melihat sekeliling dan mengumpulkan kesadarannya kembali. “Ah... ternyata cuma mimpi.” serunya dalam hati. Kemudian ia melihat di depannya seorang pramugari, yang mengulangi perintahnya untuk memasang sabuk pengaman.

Diucek-uceknya matanya sebentar, kemudian, ia mulai mencari-cari sabuk pengaman miliknya. Ah... ketemu dan cklik... terpasanglah sabuk pengaman itu di lingkar pinggangnya.

***

Kadang, aku masih merindukan aroma simbah keringatnya di kala malam, saat aku terlelap. Kata orang-orang, perempuan akan mencari pasangan hidup yang mempunyai aroma semirip aroma ayah. Apakah benar? Entah, yang jelas aku suka sekali membaui lipatan kerah bajunya, aku suka sekali menghidu aroma tengkuk kepalanya. Hm… kata Dimas, itu yang menarik dariku. Kebiasaan-kebiasaan anehku. Katanya lagi, semakin lama aku menjalin hubungan dengannya, ia tidak mungkin merasakan cinta yang sama setiap harinya. Cintanya akan semakin bertambah kadarnya. Oke. Sebut saja Dimas seorang perayu. Tapi bagiku itu adalah kata yang benar-benar tulus darinya.

Dimas, laki-laki teman SMU ku dulu. Usianya belum genap empat-puluh. Kami bertemu setiap dua bulan sekali. Biasanya saat kami harus sama-sama dinas ke Jakarta. Keperluan Dimas adalah untuk menyetorkan laporan tugas-tugasnya sambil sesekali memberikan presentasi tentang hasil jepretan kameranya pada pihak perusahaan. Kalau aku memang berdinas di dua area Jakarta-Solo. Biasanya kami bertemu di rumah kontrakan yang sengaja kami sewa, sekaligus untuk tempat tinggal kami saat di Jakarta.

Dimas meninggalkan jejak aroma musk yang dicap-kan pada serat sprei bantal peraduanku. Masih bisa kuhirup ujung kerinduan dari sudut-sudut ruang kamar kami. Kemudian lekukan yang diberikan di saat ia terlelap, sesudah kami bercinta bermalam-malam kemarin.

“Terkadang, aku sepertinya hapal ukuran lingkar pinggangmu. Ya… lingkar pinggangmu seukuran lebar pelukanku.” katanya berulang-ulang padaku. Perempuan mana yang sanggup menahan tawa kecil ketika dikatakan seperti itu.

Saat itu fajar masih membiru, tak mau menjingga seperti kebanyakan dan saat ku terbangun, ia menghilang.

Padahal di hari-hari biasa, aku selalu mengingatnya yang selalu terjaga setelahku. Saat bangun pagi, aku selalu berlagak bermain petak-umpet dengannya, menyelinap diam-diam dari balik selimut, dan mengendap sambil berjinjit menyiapkan santap sarapan. Aku bukan koki yang hebat, hanya dua buah telur yang kubuat orak-arik dicampur susu, dua potong sosis goreng, dan segelas jus jeruk, tapi entah, ia tidak pernah mengkomplain keahlianku, yang payah, saat meramu hidangan.

Kemudian, aku akan pergi membangunkannya, setelah sebelumnya kupanggil-panggil namanya tiga kali. Ia biasanya bergeming untuk panggilan yang pertama. Kadang, aku suka sekali menempelkan pipi ku ke pipi nya yang hangat, merasa nafasnya yang berat. Panggilan yang kedua biasanya aku bisikkan lembut ke telinganya, “Mas... Mas Dimas...” dan Dimas biasanya hanya merespon dengan sebuah erangan lembut, kemudian jawabnya, “Bentar lagi, Lin. Sepuluh menit lagi...” sambil tetap meneruskan tidurnya, menyembunyikan tubuhnya kembali di bawah selimut. Aku biasanya akan membiarkannya sepuluh menit kemudian, seringnya lebih dari itu. Lalu aku akan membangunkannya dengan panggilan yang ketiga, kali ini aku melakukan kebiasaanku, menghidu tengkuknya. Aneh. Bila itu kulakukan, ia akan segera beringsut membalikkan badannya dan mengecup keningku.

Rutinitas itu ia lanjutkan dengan menguap beberapa kali, menggosok-gosok matanya yang masih mengantuk, mengambil handuk dan mereguk satu-dua teguk jus yang telah kupersiapkan sebelumnya. Saat ia mandi, aku telah disibukkan kebiasaan ku berikutnya, mempersiapkan setelan yang akan digunakannya. Kadang kami berselisih sebentar, ia kadang tidak sependapat dengan baju yang telah kupersiapkan.

“Jangan ah Lin. Masak warnanya norak kayak gini, nggak matching sama bawahannya nih.”

Dan kemudian peselisihan kami diakhiri dengan,
“Iya deh, saya pake Lin. Kalo kamu ngambek, bikin senyum lagi nya susah. Hehehe.” begitu yang selalu ia katakan.

“Aku musti repot beliin kamu Pangsit Ayam Setiabudi yang jaraknya dari kantor. Busyheettt. Belum lagi macetnya. Hehehe...” tambahnya lagi.

Namun, akhir-akhir ini aku jadi tahu. Dimas selalu membawa baju ganti. Setelah sampai agak jauh dari rumah, ia selalu mengganti baju yang telah kupersiapkan tadi dengan baju yang ia pilih sendiri. Bila pilihanku tidak sesuai dengan kemauannya. Mungkin, ia tidak ingin melihat aku kecewa, akan pilihanku yang tidak sependapat dengannya.

Saat ini aku jadi tahu, begitu banyak kompromi diantara kami, dan, selalu ia yang mengalah untuk kami. Yang aku tahu, kami saling mencinta, dan itu tidak diragukan lagi.

***

“Lin, kamu jadi berangkat ke Solo?” tanya Dimas sore itu, saat ia meneguk teh yang telah aku persiapkan untuknya. Ia baru pulang dari kantor.

“Hem? Iya, mas. Flight ku sudah terjadwal. Nanti aku bareng Bu Nina.” sahutku sambil mengepak barang, mempersiapkan seragam dan memilah-milah file yang akan aku bawa.

“Sudah kamu pikirin lagi? Harus hari ini ya?” tanya Dimas meyakinkan.

Kualihkan pandanganku padanya, aku membaca gurat kecemasan dari tatap matanya. Ini tak seperti biasa.

“Mas, kan aku cuman tiga hari. Kantor pusat minta aku mengurusi proses rekrutmen di kantor cabang. Bulan kemarin, Bu Nina kan sudah bilang ke Lin, Lin pun sudah minta ijin ke Mas. Mas pun sudah nge-boleh-in.” rajukku.

Ia menaruh cangkir tehnya, dan menghampiriku di kamar, diraihnya tanganku. Pegangan nya kulepaskan, kemudian kubelai kedua sisi pipinya dan berkata,
“Lagipula, Lin kan sudah sering keluar kota, Mas. Mas, nggak usah khawatir ya?”

Dimas agak melumer, didekapnya tubuhku.

“Kamu sendiri Mas, jadi ke Kalimantan?” tanyaku.

“Iya, aku berangkat ntar malam.”

“Nah kamu sendiri ikut aku aja ya... nggak usah kau urusi istrimu ya... Aku pengen, kamu punyaku seorang.” rengekku.

“Ya... nggak bisa dong, Lin. Gimana klo Mas minta Lin cerai dari Bagus? Nggak mau kan?” urainya. Aku melengos.

“Lin, kita sama-sama tahu, masing-masing dari kita sudah ada yang memiliki. Aku tinggal nunggu vonis perceraianku aja. Tapi kamu sepertinya tidak mau lepas dari Bagus.”

“Mas, kamu cemburu?”

“Ya... iyalah... aku cemburu. Ah sudahlah asalkan kamu tidak tertarik sama calon-calon manager disana, aku masih bisa bersabar. Untuk sementara, jangan ungkit-ungkit lagi ya... masalah ini.” katanya.

Dan aku hanya menjawab dengan sebuah hela nafas panjang. Begitulah saat-saat kami sebelum keberangkatan.

***

“Permisi, Bu!” kata Dimas sebelum ia menempati kursi penerbangannya. Seorang perempuan umur kurang lebih lima-puluh tahunan, sudah duduk di kursi sebelah Dimas.

“Penerbangan malam begini, sudah ada yang njemput Bu di Sepinggan?” tanya Dimas basa-basi.

“Iya, Mas... nanti keponakan saya yang jemput. Sebenarnya saya mau naik pesawat tadi sore, tapi ya... berhubung pesannya mendadak, dapatnya flight pagi subuh buta deh”

***

Sesampainya ia di Kalimantan, Bandara Sepinggan masih cukup lengang, maklum saat itu jam masih menunjukkan pukul 5.30. Langit Kalimantan belum sepenuhnya memerah. Dimas mampir ke sebuah kafe di pojokan Bandara.

“Espresso satu!” katanya pada pelayan.

Diamatinya pemandangan kafe bandara pagi itu, masih sepi. Tapi dua-tiga orang masih terlihat lalu lalang. Di sebuah pojokan dipasang sebuah layar tivi sekitar dua-puluh inch, yang tengah menayangkan sebuah berita.

“Pesawat MD82 PK-LMN milik maskapai penerbangan Lion Air dengan rute Jakarta-Solo mengalami kecelakaan saat mendarat di Bandara Adi Sumarmo Solo. Akibatnya 25 orang tewas, 55 orang luka berat 63 orang luka ringan. Berikut adalah nama-nama korban. Menurut seorang penumpang Lion yang mengalami cidera ringan, Hervi, dia merasa ada guncangan hebat sekali. "Saya hampir terbanting. Terus tiba-tiba lampu langsung mati semua, gelap." Pesawat Lion yang nyusruk itu, tampak patah dua.” begitu wawancara dilansir oleh media ini. Sementara itu beberapa korban tewas telah berhasil diidentifikasi, berikut adalah beberapa nama korban tewas, serta tempat korban berada, di RS. Islam Surakarta tercatat Ronizon Ali, Jefry Edison, Agatha, Ongko Tikno Wijoyo, Bambang Anggono, Iswanto, Sifa, Puji Astuti, Linda Fahmi dan satu jenazah lagi yang belum diidentifikasi. Sedangkan untuk RS Panti Waluyo, RS TNI AU mencatatkan masing-masing 2 korban tewas, dan 3 korban tewas”

Begitulah sebuah berita sampai ke telinga Dimas di suatu pagi. Setelah itu tampilan grafis nama-nama korban ditayangkan. Air muka Dimas berubah ketika ia membaca sederet nama terpampang. Linda Fahmi.

”LIN?” teriak Dimas kelu.

Segera ia merogoh sakunya, dihidupkannya telpon selularnya yang sedari kemarin mati. Kemudian mencari-cari sebuah nama di phonebooknya. Dapat. Dear Lin. Dipencetnya tombol ”dial” dan yang terdengar peringatan di luar area. Sekali lagi dipencetnya tombol dial. Masih sama. Tidak ada jawaban.

***

Aku datang kembali ke rumah kontrakan kami. Begitu memasuki pelataran rumah aku telah mencium aroma Musk Dimas.

”Mas, Mas Dimas?”

Rupanya dia sudah terlelap. Aku menghidu bau tengkuknya.
Dia terbangun kaget. Sambil teriak.

”Lin?”

Dimas melihat sekeliling ruangan. Sepi.

”Ah... cuma mimpi.” desahnya dalam malam sunyi.

Sementara aku masih terduduk di sisi ranjangnya kebingungan. Bagaimana mungkin Dimas tak mengetahui kehadiranku?

-------------------------------------------

Kenangan : Sebuah gedung pertunjukan di jantung kota

Seperti biasa aku berjalan sendiri menyusuri jalanan dan beberapa persimpangan. Aura kelok asapnya terasa mencekik Beratus-ratus sinaran lampu sebenarnya ingin meramaikan senandung kota malam itu. Namun, yang ada hanya aroma keangkuhan bukan aroma syahdu seperti yang kuharapkan. Ah… aku merasa sangat dekat dengan aroma pekat keangkuhan dari deru angin malam ini. Ia menghantarkan sebuah ketidakpedulian yang sangat.

Kenanganku menancap kembali pada sebuah waktu. Saat itu aku hanya merasakan sebuah gerimis, walau sebenarnya cuaca sedang bersahabat. Gerimis itu datang ketika seseorang yang pernah tersesat di salah satu pelabuhanku tiba-tiba datang dan coba untuk menepi Dia adalah seorang penjelajah, pernah bermukim sementara waktu di sana, melemparkan ujung sauhnya dan dengan seenaknya membongkar muatan di suatu sudut. Kemudian, masa-masa itu telah lewat. Ia telah meninggalkan satu peti berisi beronggok-onggok kesedihan. Peti itu sebenarnya ingin kularungkan pada saat sebelumnya. Ah… tapi aku sepertinya telah kehabisan waktu. Onggokan itu tidak berdaya, lunglai masai tak dianggap.. Aku tidak bisa menyembunyikannya, karena onggokan itu terlampau menumpuk di pojokan. Seperti kodian baju bekas yang enggan kubuang.


“Halo! Iya aku sudah sampai. Kamu langsung aja ke sini.”, sahutku menjawab telpon, dari seorang teman.


Aku mengajaknya ke sebuah pertunjukkan. Seorang teman perempuan. Sebenarnya aku menagih janji darinya, maklum dia beberapa kali berhutang padaku, dan aku meminta menebusnya dengan tiket satu pertunjukan. Ah… tapi tampaknya aku akan menonton sendiri saja. Biasanya dia datang dengan kekasihnya, kalau sudah begitu aku akan diacuhkannya. Seperti setangkup obat nyamuk, yang dibiarkan sendirian, dengan alam pikirnya. Ya… mungkin dia tidak akan ingkar janji, membelikan tiket untukku, dan kemudian menyuruhku masuk seorang diri. Lima menit, sepuluh menit… ah… barang kali dia akan terlambat.


Sekelebat bayangan melintas di sekitar tempat aku berdiri. Di sebuah gedung pertunjukan di jantung kota. Satu kali… aku tidak mengacuhkannya, dua kali… ah… aku merasakan sesuatu yang aneh, dan tiga… kali, aku yakin pada diriku.


“Hei… tunggu! Sepertinya kita pernah kenal sebelumnya.”, sapaku, sambil menggamit lengan empunya bayangan itu.


“Iya, aku juga sama. SMA 6 bukan?”, tanyanya.


Dan percakapan kami pun mengalir. Seputar nostalgia memori saat SMA. Rupanya kami pernah satu kelas. Meski ingat nama panggilan kami, kami sama-sama lupa nama tengah kami. Butuh waktu agak lama mengingatnya. Percakapan beputar ke aktivitas dan kesibukan kami. Perkuliahan, soal kekasih-kekasih kami dan teman-teman kami. Kerinduan kami akan gedung SMA, bahkan sebuah kenangan akan geripis sudut-sudut bangku lapuk kami. Dari nya aku tahu bahwa dia sekarang menjalani masa penyelesaian tugas akhir yang kurang sedikit lagi di sebuah perguruan tinggi negeri dan mengambil Jurusan Teknik Mesin. Aku meyakini jurusan ini sangat tidak tepat untuk lelaki macam dirinya. Dia adalah orang yang menyenangkan, ramah, sangat kontras dengan lelaki-lelaki di jurusan Teknik yang terbayang dipikiranku sebagai orang-orang yang serius, penyendiri dan tidak secerewet dia.


Aku mulai mengingat, dulu Rani, teman sebangkuku saat SMA sangat tergila-gila padanya. Waktu itu aku hanya terkikik seru bila Rani berteriak-teriak histeris, melihat lompatannya ketika melakukan smash, atau tosser ke regu lawan pada saat pertandingan voli di sekolah kami.


Tak banyak yang berubah dengan kenangan kami Tentang seribu lagu wajib mengingat masa lalu. Tentang sebuah keyakinan bahwa kenangan memang menunggu untuk dijawab di suatu ketika.


“Sudah beli tiket?” tanyanya.


Aku menggeleng.


“Nunggu teman.”, jawabku.


Kupermainkan ujung sol sepatu ketsku. Sementara waktu, suasana jadi hening. Hening mengambil jeda sejenak dalam percakapan kami. Hening telah mendominasi percakapan kami.


Sebuah gedung pertunjukan di jantung kota, berbagai aroma mewarnai kenangan. Aroma rompal temboknya, dan debur kemegahan berbalut manis perhelatan yang kami lewati dulu.
Sudah tiga puluh menit, tidak ada tanda-tanda temanku akan datang. Dia masih setia, duduk di emperan mengamati lalu lalang orang yang antre tiket satu persatu. Aneh, tanpa rokok, tidak lazim untuk lelaki kebanyakan. Perlahan-lahan antrean itu menyurut, dan kemudian sepi.


“Masih mau nunggu?”, tanyanya lagi.


Tersenyum sedikit kecut dan kemudian menimang-nimang dompetku. Tiket pasti sudah terjual habis. Dan aku hanya menatap kosong sebuah celah kecil di ruangan sebesar gedung pertunjukan itu. Dua orang berpakaian seragam dan beberapa sobekan karcis di genggaman mereka.


“Sudah… ayo masuk !”katanya menyeretku lembut.


“Tiketnya?”ujarku.


Dia hanya menatapku dan menyodorkan sehelai tiket di tangan kananku.


“I owe you.”, ucapku.


“You granted for that.”, jawabnya.


“Me? I’m flattered”, sahutku tak percaya.


Ia tersenyum. Senyumnya terlihat manis pada malam itu. Semanis sebuah kenangan di sebuah gedung pertunjukan di jantung kota. Binar matanya memang tak seelok bintang, namun siapa yang mampu mengalahkan binar matanya yang penuh keteduhan.


Kami duduk bersama bersisian. Pertunjukan pertama hanya sebuah pantomim lokal. Sorot lampu terlewat biasa. Kadang kami saling berbisik lirih. Dan bertukar senyum melihat kekonyolan gerak gerik sang pelakon.


Berakhir? Tunggu! Ternyata belum. Masih ada sesi kedua. Dengan suatu efek yang dramatis, tiba-tiba semua lampu dimatikan, beberapa menit kemudian nyala lampu biru dinyalakan perlahan. Kali ini kisah sesudahnya sepertinya akan mampu kulukiskan dengan beberapa bait.


Tahukah kamu?
Sebuah repertoar "perpisahan" terbaca
Lihat satu persatu tali pengekang dijulurkan
kemudian...
lepas


Saat itu seorang MC membacakan sebuah repertoar, judulnya “Perpisahan”. Entah mengapa gambaran rasa sakit kenangan yang lalu nampak. Ini tak ada kaitannya dengan dia. Namun ini terkait dengan “dia” yang lain. Entah, repetoar itu telah menguras emosiku. Padahal itu hanya sebuah pertunjukan bisu, tanpa permainan kata, bahkan tidak ada kata-kata. Membangkitkan kenangan. Perpisahan. Reportoar itu tidaklah lama, mungkin tak sampai sepuluh menit.


Bahumu basah olehku
dan aku terguguk sendu


Dan di titik inilah emosiku menguap. Luluh dalam sebuah periode. Tidak disengaja, bulir –bulir pun jatuh, lumer di bahunya. Padahal aku menangisi “dia”, dan bukan dia. Sungguh. Aku tidak bermaksud untuk menjadi cengeng.


Ingatkah kamu?
Aku duduk di depanmu beberapa tahun lalu
Beberapa deret buku dan larik kenangan


Padahal kami dulu tidak sedekat ini. Meski kami duduk berdekatan. Kenangan kami hanya seputar buku, hiruk pikuk kejahilan dan beberapa celetukan polos khas remaja. Tidak ada yang istimewa.


Ah itu dulu
Beberapa tahun lalu
Saat mereguk manis masa muda
Dan kita bermain-main dalam kenangan


Kini
Repertoar itu masih terbacakan
Sebuah repertoar "perpisahan"
Dan salut atas kita kita berdua menjadi setan
Diri kita masing-masing


Surabaya, Agustus 2008