Rabu, 25 Februari 2009

Sestoples Permen

Ketika kau menginginkan untuk menjadi menarik, apakah yang kau perlukan untuk mewujudkannya?

Setidaknya ini adalah dari kacamataku, sesuatu itu harus punya bentuk yang menarik. Dan dengan kalkulasi persebaran tertentu secara acak dengan sedikit perhitungan maka kamu lah yang terpilih.

Baik. Karena cerita ini adalah cerita tentang Aku, maka kumulai saja. Aku dilahirkan dari rahim mesin-mesin industri, sumber nutrisiku adalah material mentah zat gula dengan rangkaian ikatan yang paling sederhana. Sperma yang membuahiku adalah beberapa orang pekerja, melakukan serangkaian percobaan, fase-fase perubahan, perbaikan-perbaikan formula, hingga ujicoba-ujicoba dengan menggunakan tubuh kakak-kakakku sebelumnya. Dari manusia-manusia industri itu kami jadi tahu nama kami “White Rabbit Creamy Candy”. Begitulah nama kami.

Kemudian, houplaa! Terlahirlah aku.

Sampai sekarang terhitung aku mempunyai ribuan bahkan lebih dari puluhan ribu saudara kembar. Saudara-saudaraku dan aku sendiri tentunya ditempatkan dalam satu tempat yang sama, bersama sekitar lima-puluhan saudara-saudaraku.

Setelah itu kami akan dijadikan satu kembali, diajak berkeliling-keliling, dan kemudian dipajang di etalase-etalase toko. Kalian tahu? Butuh berapa hari hingga aku mencapai sal-sal toko ini? Tebaklah. Bukan dalam waktu jam, tapi kami diajak berkeliling-keliling sekitar hampir sebulan. Sebuah perjalanan yang memuakkan bukan?

Kami ditempatkan dalam tempat yang sama, dalam posisi sama, bersama ke limapuluhan saudara-saudaraku lainnya. Nantinya kami harus bersaing satu sama lain, kemudian kami juga harus bersaing dengan puluhan ribu wadah yang sama, berisi jumlah yang sama dengan wadah kami. Hitung sendiri berapa banyak wajah-wajah kami menghiasi sal-sal toko negeri. Mungkin lebih banyak dari jumlah wajah-wajah manusia.

Kurang lebih ratusan kali aku melihat sinaran oranye. Ah tidak sepertinya lebih dari ribuan kali aku melihat timbul dan tenggelamnya oranye dari sekat bening sal toko tempat kami dipajang. Itu penanda bahwa kami akan beranjak hari keesokan.

Setelah kami berada di wadah-wadah kami, kami jadi rindu udara luar. Kalau dulu kami masih bisa menghirup udara pabrik, sekarang tak bisa lagi.

“Aku suka dia.” kata temanku sambil menggesekkan plastik bajunya padaku, di suatu ketika.

“Siapa?” sahutku terkaget, karena baru kali ini aku bisa berbicara dengan teman ku dalam lingkaran wadah itu.

“Suka apa?” sahut teman yang lain.

“Siapa yang suka siapa?” sahut yang lain.

Kemudian suasana dalam stoples menjadi gaduh, penuh suara nyaring, pertanyaan-pertanyaan miring. Apa itu suka, siapa yang bicara pertama, dan siapa yang disukai pertama kali. Semua jadi bising, stoples jadi riuh. Kami memang bergeming, tapi entah mulut-mulut kami saja yang riuh, badan kami tidak.

Setelah celetukan pertama itu, pembicaraan “Aku suka dia” menjadi tidak karuan ramainya. Tak ada yang mau mengalah untuk mengakhiri, pun tak ada yang mau mengakui. Sementara aku meyakini, sangat yakin, bahwa suara datang tak jauh dari tubuhku.

Maka seketika itu aku berteriak, "Kalau begitu kita uji suara. Aku yakin, suara si empu dekat sekali dengan aku"

Maka beberapa teman yang posisi nya lebih dekat denganku secara bergantian meneriakkan kata “Aku suka dia” secara bergantian. Akhirnya sampailah ke posisi sepermen teman yang tidak terlalu dekat, namun plastik bajunya masih menyinggungku.

“STOP!!! Baik, aku ngaku, aku yang ngomong “Aku suka dia” pertama kali. Aku sudah ngaku, sekarang apa mau kalian?” teriaknya panik. Rupanya dia takut dihakimi oleh massa permen-permen yang lain.

Kami semua celingukan, kebingungan. Memang benar, apa yang harus kami lakukan sekarang. Semuanya jadi serba tak jelas. Akhirnya, ada sesepermen yang angkat suara.

“Darimana, kau dapat kata-kata Aku suka dia?” tanya si empunya permen yang lain.

“Entah, aku juga tak tahu. Yang jelas kata-kata itu melompat begitu saja dari mulutku. Apa mungkin karena dia ya?”

Hah!!! Dia siapa?

“Aku suka dia, dia yang selalu mengelap stoples kita, mengecek-ngecek bandrol harga, menawar-nawarkan pada manusia-manusia yang lain. Aku suka cara manusia itu menggerai rambutnya, mengetuk-ngetukkan ujung sepatu hak tingginya ke lantai, membenarkan letak kerah kemeja putihnya, atau me-merusutkan rok merahnya yang mini itu”

“Ya… ampunn… jadi kamu suka manusia itu?”

“Iya, aku suka. Memangnya kenapa?”

Dan kami pun diam, memasang-masang kemungkinan kejadian-kejadian antara temanku dan si manusia rambut panjang, kemeja putih, rok merah mini, dan sepatu hak tinggi itu. Tapi tetap kami tak punya jawaban lain selain mematung membisu. Dan tiba-tiba seisi stoples senyap seperti sedia kala

Langit oranye hari itu kembali menurunkan tirainya, menggantikan birunya langit. Temanku yang ketahuan mencinta tadi hanya mematut-matut kesukaannya pada si manusia. Sementara aku tenang-tenang saja, diam seperti yang lain.

***
Sebuah supermarket hari itu mendapatkan sepucuk surat dari BPPOM. Berikut adalah daftar makanan yang ditarik dari peredaran karena mengandung bahan ber-melamin. Bahan ini disinyalir akan membahayakan bagi kesehatan konsumen.
Berikut daftar makanan yang telah diperintahkan untuk ditarik dari peredaran oleh BPPOM
Produk yang ditarik dari peredaran:
1. Jinwel Yougoo Susu Fermentasi Rasa Jeruk
2. Jinwel Yougoo Aneka Buah
3. Jinwel Yougoo tanpa Rasa
4. Guozhen susu bubuk full cream
5. Meiji Indoeskrim Gold Monas Rasa Cokelat
6. Meiji Indoeskrim Gold Monas Rasa Vanila
7. Oreo Stick Wafer
8. Oreo Stick Wafer
9. Oreo Cokelat Sandwich Cookies
10. M&M’s Kembang Gula Cokelat Susu
11. M&M’s Cokelat Susu
12. Snicker’s (biskuit-nougat lapis cokelat)
13. Dove Choc Kembang Gula Cokelat
14. Dove Choc
15. Dove Choc
16. Natural Choice Yoghurt Flavoured Ice Bar
17. Yili Bean Club Matcha Red Bean Ice Bar
18. Yili Bean Club Red Bean Ice Bar
19. Yili Prestige Chocliz
20. Yili Chestnut Ice Bar
21. Nestle Dairy Farm UHT Pure Milk
22. Yili High Calcium Low Fat Milk Beverage
23. Yili High Calcium Milk Beverage
24. Yili Pure Milk 205 ml
25. Yili Pure Milk 1 L
26. Dutch Lady Strawberry Flavoured Milk
27. White Rabbit Creamy Candy
28. Yili Choice Dairy Frozen Yoghurt Bar (kembang gula)

Sumber: Tempointeraktif ==PUSAT KOMUNIKASI PUBLIK SEKRETARIAT JENDERAL DEPARTEMEN KESEHATAN RI

“Rinda, kamu sortir merk-merk ini ya. Lalu hancurkan. Sepertinya aku masih ngelihat White Rabbit Creamy Candy di jajaran stock opname kita.” kata seorang Manajer Stockist pada salah satu anak buahnya.

Rinda, pramuniaga supermarket itu, pakaiannya setelan kemeja putih dipadu rok mini merah, dengan sepatu hak tinggi, rambutnya dibiarkan tergerai, melangkah menuju ke sal permen, mengambil beberapa stoples permen, termasuk stoples permen White Rabbit Creamy Candy, yang tadi baru saja terjadi keributan. Permen itu akan dibuang olehnya untuk dimusnahkan.

***
Di sebuah ruang kamar masing-masing, dua orang penulis sama-sama mengamati hasil jadi tulisan salah satu dari mereka. Mereka terlibat sebuah percakapan dari jendela messenger instant

panah_hujan : ahhh…. akhirnya kok seperti itu?
nisa_diani : sudah jangan protes…
panah_hujan : ini kan jadi seperti ceritamu?
nisa_diani : soal apa?
panah_hujan : iya, kamu sis. kamu, yang seperti mengharapkan menunggu-nunggu cinta seseorang datang merengkuhmu dalam diam.
nisa_diani : hlohh…. kok jadi kayak gitu, bukan seperti itu maksudku. bukan itu inti pesan yang pengen kusampaikan. kamu kan mintanya cerita tentang kamu, kenapa arahmu jadi cerita tentang aku?
panah_hujan : lalu?
nisa_diani : kamu kan minta dibuatin cerita tentang kamu. pesanku adalah

Dan pet… lampu padam. Penulis yang satu mengutuk sendiri
“Aduh!! Jadi apa pesannnya? Sialll…”

Sby, ruang kosong, 300109

Sudut Rindu Kunang-Kunang (2-Senja)

Senja tak muncul kembali keesokan harinya, membiarkanku termangu lagi seperti kemarin. Kampret! Tuhan... apa sih maksudMu. Kau memberikanku candu, agar aku melupa pada-Mu. Hari-hariku seperti menanti

Seperti kemarin sore, sehabis menyelesaikan tugas-tugas monoton yang dibebankan padaku, aku menantikan senja membias dari langit. Sial mendung datang lagi, hujan akan datang, seperti hari-hari kemarin. Hari ini bukan hari keberuntunganku. Hujan ijinkan tempatmu digantikan sementara oleh senja. Apakah kau cemburu pada senja?

Aku menjadi benci pada hujan atas keegoisannya. Hujan telah membiarkan senja tak mendapat tempat sedetikpun di hariku. Dan senja akupun juga jadi membencinya, seolah tak pernah punya daya untuk memunculkan dirinya dengan kuat, dengan garang layaknya hujan. Senja selalu datang dengan malu-malu.

Hari ini, aku menduga senja akan punya perilaku yang sama, menyembunyikan dirinya dibalik awan, terkalahkan oleh hujan. Langit menjadi pekat, dan senja tak datang.

Ah... tapi hari ini belum. Langit memang terlihat mendung, tapi hujan belum datang. Jangan-jangan keduanya tidak datang? Ya benar, maksudku jangan-jangan, baik senja ataupun hujan, keduanya tidak datang. Semenit, sepuluh, tigapuluh menit, jarum pendek mulai mengarah ke angka lima. Ahhhh semoga dia datang.

Ha! Itukah dia, kukucek-kucek mataku, iya itu Sen-ja. Senja turun hari itu. Benar-benar turun dari kaki-kaki langit. Masih sama seperti hari-hari sebelumnya, ia meminjam tubuh malaikat. Tubuh malaikat yang sama. Aku hapal setiap jengkal tubuhnya. Aroma keringatnya, gerai rambutnya, bidang luasan dadanya. Aku ingat semua. Tanyakan padaku maka aku akan dengan cekatan menjawab. Hari ini ia memakai jaket biru, sebiru langit. Namun balur jingga Senja sepertinya lebih menarik kuamati daripada biru yang menyelimuti bidang dadanya

Aku bahkan mengingat sengkelit pinggangnya, ruam-ruam jemari tangannya, senyuman tipis di kerut bibirnya. Aku ingat.

Senja melangkah gontai, dengan raga malaikat ke arah pelataran kampus sore itu. Dia angkuh, tapi itu yang kusuka. Dia hanya datang sekejap kemudian menghilang sekejap itu pula.

Senja menghampiriku tak ada ragu, kemudian duduk di sebelahku. Di jangkaunya kepalaku, jemari tangannya menyusuri helai rambutku yang kubiarkan terurai. Dan ritual itu selalu saja berakhir sama di setiap pertemuan kami.

”Maaaasss... udah deh, ini nggak rapi lagi jadinya. Kacau deh sisiranku,” protesku.

Dan kekeh tawanya pun akan terdengar, seiring dengan protesku yang selalu sama aku seru.

Seperti biasa Senja mengantarku pulang, memboncengku dan menyuruhku menyengkelitkan luasan kedua tanganku memeluk pinggangnya. Ah... aku selalu suka aroma mu Senja. Wangi

Senja dan aku menyusuri jalan yang sama selalu. Beberapa belokan, pertokoan-pertokoan yang mulai menyingkap tirai-tirai besinya, kemudian terhenti di beberapa lampu stop-an.

Setelah sampai di depan pintu rumah, Senja pun pamit. Menurunkanku dari boncengan perlahan, dan meninggalkan penanda di keningku.

Ah Senja... aku ingin kau datang lagi keesokan.

Sudut Rindu Kunang-Kunang (1- Prolog)

Pelataran kampus saat itu masih basah. Hujan baru saja datang. Alirannya mengguyur sudut-sudut paving pelataran yang tak tertutupi atap. Sementara sisanya memercik nakal di beberapa bagian keramik dalam gedung. Satu-satu pucuk dedaun masih meninggalkan beberapa bulir rinai menyegarkan. Hujan.

Coba kau hirup sebentar, sambil memejamkan mata, niscaya dapatkan aroma daun yang bercampur hujan menguar. Kalau tidak cukup puas, maka temukan bebauan parfum kecipak tanah yang basah, membentuk kubangan, sebagai bonusnya.

Apa kabar senja? Tampaknya dia akan absen hari ini. Senja tampaknya terhalang mendung tebal. Mungkin sama seperti kemarin, aku tak akan melihat senja kembali. Senja malu-malu menyambut malam yang sebentar lagi datang.

Beberapa mahasiswi masih lalu lalang. Payung-payung yang mereka bawa, tadinya berwarna-warni terkembang, satu persatu, pupus menguncup. Mereka adalah ”leging-leging berjalan”. Begitu aku biasanya menyebutnya, celana mirip stocking yang hilir mudik, menyusuri pelataran. Celana ini sedang tren untuk mahasiswi-mahasiswi masa kini. Sama halnya dengan atasan balon, yang mengembang di bagian layer bawahnya.

Aku terjebak di suatu sudut gedung kampus, tempat duduk mirip ruang tunggu dokter, tas laptop di pelukan, dan mata sembab, akibat kurang tidur. Meski begitu aku tidak mengantuk, hanya saja aku bosan. Aku tidak terbiasa mendapati kebosanan ini. Duduk di pelataran, dan menunggu senja yang ku tahu tak bakalan datang menyapaku, setidaknya hari ini. Aku beranjak dari tempatku termangu. Gila! Benar-benar gila! Jangan-jangan aku telah terobsesi pada senja. Tunggu, sudah berapa lama sebenarnya aku tak menjumpai senja? Setahun? Enam bulan? Tiga bulan? Sebulan? Seminggu? Ingat, baru seminggu Eva, kau tak menjumpa senja. Senja itu sudah tergantikan oleh hujan. Dulu senja dan hujan adalah dua hal yang kusuka. Entah, sekarang aku menjadi benci keduanya, apalagi ketika mereka muncul bersisian. Aku suka keduanya saat mereka tidak bersama. Seperti dua benda yang saling menggantikan, tak bisa dipakai bersamaan. Tak bisakah mereka muncul bergantian saja? Misalnya, hujan dikala terik, kemudian shift berikutnya digantikan oleh senja nan elok.

”Bisa kan Tuhan,” rajukku tiga hari yang lalu.

Dan Tuhan biasanya hanya tersenyum sinis, menjawab dengan gayanya khas.

”Kuberi kau keduanya, hujan yang rinai, dalam senja yang malu. Puass,” katanya.

Kuputuskan akhirnya untuk membunuh rasa bosanku. Kulangkahkan kaki menuju meja internet, di kantorku. Tertipu? Aku bukan mahasiswa, aku hanya tenaga honorer rendahan yang mendapat remahan dari petinggi kampus. Balas jasanya aku harus mengajar beberapa mahasiswa, sambil menyelesaikan studi lanjutku disini. Klik ID dan password window Yahoo Messenger kubuka. Bosan. Ada invite masuk.

”selamat malam, kunang-kunang. kalau kau belum juga menjawab seruanku, kuyakin kau belum saatnya terbang.” serunya di brief introductional.

Tak kuhiraukan, not allow bahasa di YM itu. Matikan. Pulang. Bosan kembali lagi merajam. Kutinggalkan meja kerja, ketembus jalanan yang masih menyisakan rinai hujan.

Sementara aku tak pernah menyadari, seseorang yang menginviteku, akan menunggu dengan sabar. Seseorang itu berlabel, lelaki_malam.
(bersambung)

Di Ujung Kerah Bajumu Kutemukan Cinta

“Kau masih ingat tawa kita kan? Ingat kan? Atau kau butuh suasana penyegar.” katanya di suatu malam sebelum terlelap.

“Lin, kita akan selalu bersama kan?” mendekapku dalam malam-malam sunyi kami, malam kerinduan kami.

“Lin, akan selalu menyimpan senyummu dalam peti rinduku, Mas,” jawabku “dan pada saat itu aku menjaga peti itu dalam sejumput doaku.” gumamku dalam hati.

Dan kami pun melewatkan malam itu dengan mendekap tubuhnya, tidur di pelukannya. Seperti malam-malam kami kemarin, seperti biasa.

Saat itu kemudian Dimas mendengar sebuah panggilan.

“Pak... pak... sebentar lagi kita akan landing, mohon dipasang sabuk pengamannya.”

Dengan kaget Dimas terbangun, melihat sekeliling dan mengumpulkan kesadarannya kembali. “Ah... ternyata cuma mimpi.” serunya dalam hati. Kemudian ia melihat di depannya seorang pramugari, yang mengulangi perintahnya untuk memasang sabuk pengaman.

Diucek-uceknya matanya sebentar, kemudian, ia mulai mencari-cari sabuk pengaman miliknya. Ah... ketemu dan cklik... terpasanglah sabuk pengaman itu di lingkar pinggangnya.

***

Kadang, aku masih merindukan aroma simbah keringatnya di kala malam, saat aku terlelap. Kata orang-orang, perempuan akan mencari pasangan hidup yang mempunyai aroma semirip aroma ayah. Apakah benar? Entah, yang jelas aku suka sekali membaui lipatan kerah bajunya, aku suka sekali menghidu aroma tengkuk kepalanya. Hm… kata Dimas, itu yang menarik dariku. Kebiasaan-kebiasaan anehku. Katanya lagi, semakin lama aku menjalin hubungan dengannya, ia tidak mungkin merasakan cinta yang sama setiap harinya. Cintanya akan semakin bertambah kadarnya. Oke. Sebut saja Dimas seorang perayu. Tapi bagiku itu adalah kata yang benar-benar tulus darinya.

Dimas, laki-laki teman SMU ku dulu. Usianya belum genap empat-puluh. Kami bertemu setiap dua bulan sekali. Biasanya saat kami harus sama-sama dinas ke Jakarta. Keperluan Dimas adalah untuk menyetorkan laporan tugas-tugasnya sambil sesekali memberikan presentasi tentang hasil jepretan kameranya pada pihak perusahaan. Kalau aku memang berdinas di dua area Jakarta-Solo. Biasanya kami bertemu di rumah kontrakan yang sengaja kami sewa, sekaligus untuk tempat tinggal kami saat di Jakarta.

Dimas meninggalkan jejak aroma musk yang dicap-kan pada serat sprei bantal peraduanku. Masih bisa kuhirup ujung kerinduan dari sudut-sudut ruang kamar kami. Kemudian lekukan yang diberikan di saat ia terlelap, sesudah kami bercinta bermalam-malam kemarin.

“Terkadang, aku sepertinya hapal ukuran lingkar pinggangmu. Ya… lingkar pinggangmu seukuran lebar pelukanku.” katanya berulang-ulang padaku. Perempuan mana yang sanggup menahan tawa kecil ketika dikatakan seperti itu.

Saat itu fajar masih membiru, tak mau menjingga seperti kebanyakan dan saat ku terbangun, ia menghilang.

Padahal di hari-hari biasa, aku selalu mengingatnya yang selalu terjaga setelahku. Saat bangun pagi, aku selalu berlagak bermain petak-umpet dengannya, menyelinap diam-diam dari balik selimut, dan mengendap sambil berjinjit menyiapkan santap sarapan. Aku bukan koki yang hebat, hanya dua buah telur yang kubuat orak-arik dicampur susu, dua potong sosis goreng, dan segelas jus jeruk, tapi entah, ia tidak pernah mengkomplain keahlianku, yang payah, saat meramu hidangan.

Kemudian, aku akan pergi membangunkannya, setelah sebelumnya kupanggil-panggil namanya tiga kali. Ia biasanya bergeming untuk panggilan yang pertama. Kadang, aku suka sekali menempelkan pipi ku ke pipi nya yang hangat, merasa nafasnya yang berat. Panggilan yang kedua biasanya aku bisikkan lembut ke telinganya, “Mas... Mas Dimas...” dan Dimas biasanya hanya merespon dengan sebuah erangan lembut, kemudian jawabnya, “Bentar lagi, Lin. Sepuluh menit lagi...” sambil tetap meneruskan tidurnya, menyembunyikan tubuhnya kembali di bawah selimut. Aku biasanya akan membiarkannya sepuluh menit kemudian, seringnya lebih dari itu. Lalu aku akan membangunkannya dengan panggilan yang ketiga, kali ini aku melakukan kebiasaanku, menghidu tengkuknya. Aneh. Bila itu kulakukan, ia akan segera beringsut membalikkan badannya dan mengecup keningku.

Rutinitas itu ia lanjutkan dengan menguap beberapa kali, menggosok-gosok matanya yang masih mengantuk, mengambil handuk dan mereguk satu-dua teguk jus yang telah kupersiapkan sebelumnya. Saat ia mandi, aku telah disibukkan kebiasaan ku berikutnya, mempersiapkan setelan yang akan digunakannya. Kadang kami berselisih sebentar, ia kadang tidak sependapat dengan baju yang telah kupersiapkan.

“Jangan ah Lin. Masak warnanya norak kayak gini, nggak matching sama bawahannya nih.”

Dan kemudian peselisihan kami diakhiri dengan,
“Iya deh, saya pake Lin. Kalo kamu ngambek, bikin senyum lagi nya susah. Hehehe.” begitu yang selalu ia katakan.

“Aku musti repot beliin kamu Pangsit Ayam Setiabudi yang jaraknya dari kantor. Busyheettt. Belum lagi macetnya. Hehehe...” tambahnya lagi.

Namun, akhir-akhir ini aku jadi tahu. Dimas selalu membawa baju ganti. Setelah sampai agak jauh dari rumah, ia selalu mengganti baju yang telah kupersiapkan tadi dengan baju yang ia pilih sendiri. Bila pilihanku tidak sesuai dengan kemauannya. Mungkin, ia tidak ingin melihat aku kecewa, akan pilihanku yang tidak sependapat dengannya.

Saat ini aku jadi tahu, begitu banyak kompromi diantara kami, dan, selalu ia yang mengalah untuk kami. Yang aku tahu, kami saling mencinta, dan itu tidak diragukan lagi.

***

“Lin, kamu jadi berangkat ke Solo?” tanya Dimas sore itu, saat ia meneguk teh yang telah aku persiapkan untuknya. Ia baru pulang dari kantor.

“Hem? Iya, mas. Flight ku sudah terjadwal. Nanti aku bareng Bu Nina.” sahutku sambil mengepak barang, mempersiapkan seragam dan memilah-milah file yang akan aku bawa.

“Sudah kamu pikirin lagi? Harus hari ini ya?” tanya Dimas meyakinkan.

Kualihkan pandanganku padanya, aku membaca gurat kecemasan dari tatap matanya. Ini tak seperti biasa.

“Mas, kan aku cuman tiga hari. Kantor pusat minta aku mengurusi proses rekrutmen di kantor cabang. Bulan kemarin, Bu Nina kan sudah bilang ke Lin, Lin pun sudah minta ijin ke Mas. Mas pun sudah nge-boleh-in.” rajukku.

Ia menaruh cangkir tehnya, dan menghampiriku di kamar, diraihnya tanganku. Pegangan nya kulepaskan, kemudian kubelai kedua sisi pipinya dan berkata,
“Lagipula, Lin kan sudah sering keluar kota, Mas. Mas, nggak usah khawatir ya?”

Dimas agak melumer, didekapnya tubuhku.

“Kamu sendiri Mas, jadi ke Kalimantan?” tanyaku.

“Iya, aku berangkat ntar malam.”

“Nah kamu sendiri ikut aku aja ya... nggak usah kau urusi istrimu ya... Aku pengen, kamu punyaku seorang.” rengekku.

“Ya... nggak bisa dong, Lin. Gimana klo Mas minta Lin cerai dari Bagus? Nggak mau kan?” urainya. Aku melengos.

“Lin, kita sama-sama tahu, masing-masing dari kita sudah ada yang memiliki. Aku tinggal nunggu vonis perceraianku aja. Tapi kamu sepertinya tidak mau lepas dari Bagus.”

“Mas, kamu cemburu?”

“Ya... iyalah... aku cemburu. Ah sudahlah asalkan kamu tidak tertarik sama calon-calon manager disana, aku masih bisa bersabar. Untuk sementara, jangan ungkit-ungkit lagi ya... masalah ini.” katanya.

Dan aku hanya menjawab dengan sebuah hela nafas panjang. Begitulah saat-saat kami sebelum keberangkatan.

***

“Permisi, Bu!” kata Dimas sebelum ia menempati kursi penerbangannya. Seorang perempuan umur kurang lebih lima-puluh tahunan, sudah duduk di kursi sebelah Dimas.

“Penerbangan malam begini, sudah ada yang njemput Bu di Sepinggan?” tanya Dimas basa-basi.

“Iya, Mas... nanti keponakan saya yang jemput. Sebenarnya saya mau naik pesawat tadi sore, tapi ya... berhubung pesannya mendadak, dapatnya flight pagi subuh buta deh”

***

Sesampainya ia di Kalimantan, Bandara Sepinggan masih cukup lengang, maklum saat itu jam masih menunjukkan pukul 5.30. Langit Kalimantan belum sepenuhnya memerah. Dimas mampir ke sebuah kafe di pojokan Bandara.

“Espresso satu!” katanya pada pelayan.

Diamatinya pemandangan kafe bandara pagi itu, masih sepi. Tapi dua-tiga orang masih terlihat lalu lalang. Di sebuah pojokan dipasang sebuah layar tivi sekitar dua-puluh inch, yang tengah menayangkan sebuah berita.

“Pesawat MD82 PK-LMN milik maskapai penerbangan Lion Air dengan rute Jakarta-Solo mengalami kecelakaan saat mendarat di Bandara Adi Sumarmo Solo. Akibatnya 25 orang tewas, 55 orang luka berat 63 orang luka ringan. Berikut adalah nama-nama korban. Menurut seorang penumpang Lion yang mengalami cidera ringan, Hervi, dia merasa ada guncangan hebat sekali. "Saya hampir terbanting. Terus tiba-tiba lampu langsung mati semua, gelap." Pesawat Lion yang nyusruk itu, tampak patah dua.” begitu wawancara dilansir oleh media ini. Sementara itu beberapa korban tewas telah berhasil diidentifikasi, berikut adalah beberapa nama korban tewas, serta tempat korban berada, di RS. Islam Surakarta tercatat Ronizon Ali, Jefry Edison, Agatha, Ongko Tikno Wijoyo, Bambang Anggono, Iswanto, Sifa, Puji Astuti, Linda Fahmi dan satu jenazah lagi yang belum diidentifikasi. Sedangkan untuk RS Panti Waluyo, RS TNI AU mencatatkan masing-masing 2 korban tewas, dan 3 korban tewas”

Begitulah sebuah berita sampai ke telinga Dimas di suatu pagi. Setelah itu tampilan grafis nama-nama korban ditayangkan. Air muka Dimas berubah ketika ia membaca sederet nama terpampang. Linda Fahmi.

”LIN?” teriak Dimas kelu.

Segera ia merogoh sakunya, dihidupkannya telpon selularnya yang sedari kemarin mati. Kemudian mencari-cari sebuah nama di phonebooknya. Dapat. Dear Lin. Dipencetnya tombol ”dial” dan yang terdengar peringatan di luar area. Sekali lagi dipencetnya tombol dial. Masih sama. Tidak ada jawaban.

***

Aku datang kembali ke rumah kontrakan kami. Begitu memasuki pelataran rumah aku telah mencium aroma Musk Dimas.

”Mas, Mas Dimas?”

Rupanya dia sudah terlelap. Aku menghidu bau tengkuknya.
Dia terbangun kaget. Sambil teriak.

”Lin?”

Dimas melihat sekeliling ruangan. Sepi.

”Ah... cuma mimpi.” desahnya dalam malam sunyi.

Sementara aku masih terduduk di sisi ranjangnya kebingungan. Bagaimana mungkin Dimas tak mengetahui kehadiranku?

-------------------------------------------

Kenangan : Sebuah gedung pertunjukan di jantung kota

Seperti biasa aku berjalan sendiri menyusuri jalanan dan beberapa persimpangan. Aura kelok asapnya terasa mencekik Beratus-ratus sinaran lampu sebenarnya ingin meramaikan senandung kota malam itu. Namun, yang ada hanya aroma keangkuhan bukan aroma syahdu seperti yang kuharapkan. Ah… aku merasa sangat dekat dengan aroma pekat keangkuhan dari deru angin malam ini. Ia menghantarkan sebuah ketidakpedulian yang sangat.

Kenanganku menancap kembali pada sebuah waktu. Saat itu aku hanya merasakan sebuah gerimis, walau sebenarnya cuaca sedang bersahabat. Gerimis itu datang ketika seseorang yang pernah tersesat di salah satu pelabuhanku tiba-tiba datang dan coba untuk menepi Dia adalah seorang penjelajah, pernah bermukim sementara waktu di sana, melemparkan ujung sauhnya dan dengan seenaknya membongkar muatan di suatu sudut. Kemudian, masa-masa itu telah lewat. Ia telah meninggalkan satu peti berisi beronggok-onggok kesedihan. Peti itu sebenarnya ingin kularungkan pada saat sebelumnya. Ah… tapi aku sepertinya telah kehabisan waktu. Onggokan itu tidak berdaya, lunglai masai tak dianggap.. Aku tidak bisa menyembunyikannya, karena onggokan itu terlampau menumpuk di pojokan. Seperti kodian baju bekas yang enggan kubuang.


“Halo! Iya aku sudah sampai. Kamu langsung aja ke sini.”, sahutku menjawab telpon, dari seorang teman.


Aku mengajaknya ke sebuah pertunjukkan. Seorang teman perempuan. Sebenarnya aku menagih janji darinya, maklum dia beberapa kali berhutang padaku, dan aku meminta menebusnya dengan tiket satu pertunjukan. Ah… tapi tampaknya aku akan menonton sendiri saja. Biasanya dia datang dengan kekasihnya, kalau sudah begitu aku akan diacuhkannya. Seperti setangkup obat nyamuk, yang dibiarkan sendirian, dengan alam pikirnya. Ya… mungkin dia tidak akan ingkar janji, membelikan tiket untukku, dan kemudian menyuruhku masuk seorang diri. Lima menit, sepuluh menit… ah… barang kali dia akan terlambat.


Sekelebat bayangan melintas di sekitar tempat aku berdiri. Di sebuah gedung pertunjukan di jantung kota. Satu kali… aku tidak mengacuhkannya, dua kali… ah… aku merasakan sesuatu yang aneh, dan tiga… kali, aku yakin pada diriku.


“Hei… tunggu! Sepertinya kita pernah kenal sebelumnya.”, sapaku, sambil menggamit lengan empunya bayangan itu.


“Iya, aku juga sama. SMA 6 bukan?”, tanyanya.


Dan percakapan kami pun mengalir. Seputar nostalgia memori saat SMA. Rupanya kami pernah satu kelas. Meski ingat nama panggilan kami, kami sama-sama lupa nama tengah kami. Butuh waktu agak lama mengingatnya. Percakapan beputar ke aktivitas dan kesibukan kami. Perkuliahan, soal kekasih-kekasih kami dan teman-teman kami. Kerinduan kami akan gedung SMA, bahkan sebuah kenangan akan geripis sudut-sudut bangku lapuk kami. Dari nya aku tahu bahwa dia sekarang menjalani masa penyelesaian tugas akhir yang kurang sedikit lagi di sebuah perguruan tinggi negeri dan mengambil Jurusan Teknik Mesin. Aku meyakini jurusan ini sangat tidak tepat untuk lelaki macam dirinya. Dia adalah orang yang menyenangkan, ramah, sangat kontras dengan lelaki-lelaki di jurusan Teknik yang terbayang dipikiranku sebagai orang-orang yang serius, penyendiri dan tidak secerewet dia.


Aku mulai mengingat, dulu Rani, teman sebangkuku saat SMA sangat tergila-gila padanya. Waktu itu aku hanya terkikik seru bila Rani berteriak-teriak histeris, melihat lompatannya ketika melakukan smash, atau tosser ke regu lawan pada saat pertandingan voli di sekolah kami.


Tak banyak yang berubah dengan kenangan kami Tentang seribu lagu wajib mengingat masa lalu. Tentang sebuah keyakinan bahwa kenangan memang menunggu untuk dijawab di suatu ketika.


“Sudah beli tiket?” tanyanya.


Aku menggeleng.


“Nunggu teman.”, jawabku.


Kupermainkan ujung sol sepatu ketsku. Sementara waktu, suasana jadi hening. Hening mengambil jeda sejenak dalam percakapan kami. Hening telah mendominasi percakapan kami.


Sebuah gedung pertunjukan di jantung kota, berbagai aroma mewarnai kenangan. Aroma rompal temboknya, dan debur kemegahan berbalut manis perhelatan yang kami lewati dulu.
Sudah tiga puluh menit, tidak ada tanda-tanda temanku akan datang. Dia masih setia, duduk di emperan mengamati lalu lalang orang yang antre tiket satu persatu. Aneh, tanpa rokok, tidak lazim untuk lelaki kebanyakan. Perlahan-lahan antrean itu menyurut, dan kemudian sepi.


“Masih mau nunggu?”, tanyanya lagi.


Tersenyum sedikit kecut dan kemudian menimang-nimang dompetku. Tiket pasti sudah terjual habis. Dan aku hanya menatap kosong sebuah celah kecil di ruangan sebesar gedung pertunjukan itu. Dua orang berpakaian seragam dan beberapa sobekan karcis di genggaman mereka.


“Sudah… ayo masuk !”katanya menyeretku lembut.


“Tiketnya?”ujarku.


Dia hanya menatapku dan menyodorkan sehelai tiket di tangan kananku.


“I owe you.”, ucapku.


“You granted for that.”, jawabnya.


“Me? I’m flattered”, sahutku tak percaya.


Ia tersenyum. Senyumnya terlihat manis pada malam itu. Semanis sebuah kenangan di sebuah gedung pertunjukan di jantung kota. Binar matanya memang tak seelok bintang, namun siapa yang mampu mengalahkan binar matanya yang penuh keteduhan.


Kami duduk bersama bersisian. Pertunjukan pertama hanya sebuah pantomim lokal. Sorot lampu terlewat biasa. Kadang kami saling berbisik lirih. Dan bertukar senyum melihat kekonyolan gerak gerik sang pelakon.


Berakhir? Tunggu! Ternyata belum. Masih ada sesi kedua. Dengan suatu efek yang dramatis, tiba-tiba semua lampu dimatikan, beberapa menit kemudian nyala lampu biru dinyalakan perlahan. Kali ini kisah sesudahnya sepertinya akan mampu kulukiskan dengan beberapa bait.


Tahukah kamu?
Sebuah repertoar "perpisahan" terbaca
Lihat satu persatu tali pengekang dijulurkan
kemudian...
lepas


Saat itu seorang MC membacakan sebuah repertoar, judulnya “Perpisahan”. Entah mengapa gambaran rasa sakit kenangan yang lalu nampak. Ini tak ada kaitannya dengan dia. Namun ini terkait dengan “dia” yang lain. Entah, repetoar itu telah menguras emosiku. Padahal itu hanya sebuah pertunjukan bisu, tanpa permainan kata, bahkan tidak ada kata-kata. Membangkitkan kenangan. Perpisahan. Reportoar itu tidaklah lama, mungkin tak sampai sepuluh menit.


Bahumu basah olehku
dan aku terguguk sendu


Dan di titik inilah emosiku menguap. Luluh dalam sebuah periode. Tidak disengaja, bulir –bulir pun jatuh, lumer di bahunya. Padahal aku menangisi “dia”, dan bukan dia. Sungguh. Aku tidak bermaksud untuk menjadi cengeng.


Ingatkah kamu?
Aku duduk di depanmu beberapa tahun lalu
Beberapa deret buku dan larik kenangan


Padahal kami dulu tidak sedekat ini. Meski kami duduk berdekatan. Kenangan kami hanya seputar buku, hiruk pikuk kejahilan dan beberapa celetukan polos khas remaja. Tidak ada yang istimewa.


Ah itu dulu
Beberapa tahun lalu
Saat mereguk manis masa muda
Dan kita bermain-main dalam kenangan


Kini
Repertoar itu masih terbacakan
Sebuah repertoar "perpisahan"
Dan salut atas kita kita berdua menjadi setan
Diri kita masing-masing


Surabaya, Agustus 2008