Senin, 17 Maret 2008
Cinta dalam Narasi Sampah (Perjumpaan)
"Nis, ngapain di rumah sakit?", sapaan seseorang membuat ku terkaget dan membuat ku beranjak dari alinea-alinea bacaanku.
Kualihkan pandangan ke sekeliling arah, mencari empunya sumber suara. Kemudian lamat-lamat aku melihat dua sosok laki-laki beranjak berjalan mendekat, kemudian menjejeriku.
"Eh.. Her. Kamu sendiri ngapain kesini? Aku nungguin nenekku kena stroke. ", jawabku.
"Nih si Zaky, temenku mau kontrol. Tangannya kemarin retak habis kecelakaan. ", jawab Heru. Aku menimpali dengan memberikan "o..." panjang padanya.
"Eh kenalin ini temanku Mas Zaky. Mas Zak.. ini temen SMP ku, temen main waktu kecil, Nisa", ujar Heru memperkenalkan Zaky padaku. Kami bersalaman, dan sesudah itu aku ngobrol sebentar dengan Heru. Sementara Zaky lebih banyak jadi pendengar.
"Eh ... Mas.. aku kebelet nih bentaran yak. Mas kontrol sendiri bisa kan." kata Heru tiba-tiba.
Tanpa menunggu persetujuan dari Zaky, Heru segera mengambil langkah seribu, mencari bilik aman untuk menyelesaikan kebutuhannya.
Aku mengayun-ayunkan kedua kakiku saat duduk. Zaky meski tampak sedikit canggung berkali-kali melirik bangku kosong di sampingku seakan-akan mengharap untuk dipersilakan duduk.
"Duduk, Mas", kataku kemudian.
Kuamati lekat-lekat lelaki itu. Parasnya tidak begitu menarik. Wajahnya kecoklatan, berkacamata dan di atas mulutnya berjajar bulu-bulu halus melengkapi penampilannya. Tapi entah mengapa, aku suka dengan penampilannya. Meski hari ini ia kupastikan tidak dalam kondisi berdinas, ia tampil rapi. Aroma khas Musk dan Sendalwood yang berpadu merebak dari tubuhnya. Ah ... dia wangi sekali, bisikku dalam hati. Melihat paras mukanya aku bisa menduga, mungkin umurnya jauh lebih tua dariku.
Untuk sesaat kami diam mematung sendiri-sendiri. Akhirnya aku memberanikan diri menanyakan pertanyaan basa-basi.
"Kerja bareng Heru ya Mas?" tanyaku. Usahaku ternyata berhasil mencairkan suasana. Kami sempat mengobrol sekitar lima hingga sepuluh menitan. Tapi si Heru tidak muncul-muncul juga.
Berulangkali Zaky mendongakkan kepalanya tidak tenang menatap lekat-lekat jam dinding yang dipasang di areal administrasi poli orthopedi tepat seberang tempat duduk kami.
"Nis, bisa bantuin aku bentaran nggak. Kamu nggak lagi repot kan?" tanyanya.
"Aku lagi keburu-buru, jam empat harus cabut. Boleh aku pinjem tanganmu bentar, buat bantuin aku ngisi form pendaftaran pasien. ", pintanya cemas.
Masih melongo, aku mengiyakan saja permintaan Zaky. Aku lihat memang pada saat itu posisi tangan yang digips adalah tangan kanannya. Otomatis dia minta bantuan seseorang untuk membantunya mengisikan form pendaftaran. Setelah habis deretan biodata, kemudian pengisian beranjak ke deretan pembayaran, no. kartu berobat bla..bla...bla.... Aku terdiam sejenak menanti jawaban yang didiktekan darinya.
"Ah sial!" makinya.
"Kartu asuransiku di dompet.", tambahnya lagi.
Aku mendelik. Pikirku aku disuruh merogoh kantong celananya. Saku celana orang yang baru saja kukenal? Nggak mungkin... Rupanya dia membaca raut wajah kikukku.
"Nggak ... aku nggak bakalan nyuruh kamu ngerogoh saku celanaku. Aku bisa ngambil dengan tangan kiriku. ", katanya terkekeh.
Dengan sedikit usaha akhirnya terambil juga dompet kecoklatan itu dari saku bajunya. Dijulurkan nya dompetnya padaku. Dengan tampang muka melongo aku menerima saja dompetnya.
"Buat apa?", kataku.
"Bisa tolong carikan kartu asuransiku. Warna biru. Kalau yang ini aku harus minta bantuanmu lagi." katanya.
Aku meng-ooo panjang lagi, manggut-manggut dan mencari-cari apa yang dimaksud. Saku depan kanan miliknya hanya berisi foto dirinya dan foto ayah ibunya, kolong ke dua isinya kartu -kartu standar, SIM, KTP, ATM salah satu bank, kartu pegawai PT apa tidak begitu nampak yang jelas terlihat adalah perusahaan batu bara, sama dengan tempat kerja Heru, kemudian yang terakhir kartu belanja. Isi dompetnya tidak banyak uang yang disimpannya hanya beberapa lembar dua puluh ribuan.
"Mana?", tanyaku lagi yang masih saja tidak menemukan kartu yang dimaksud.
"Bukan yang di kanan, tapi yang dibagian kiri." katanya lagi.
Kuaduk-aduk kembali isi dompetnya. Ah...akhirnya, ketemu juga. Aku ambil kartu itu kemudian mengembalikan dompetnya ke genggaman Zaky kembali.
"Makasih, yah. Wah kamu jadi tahu isi dompetku dong." kelakarnya.
Suara langkah kaki sedikit bergedebuk mendekati kami. Heru baru kembali.
"Dari mana sih, Her? Kebelakang lama bener?" tanya Zaky.
"Hehhehe... nggak ngerti Zak, mules banget. Nggak ngerti toiletnya dimana lagian.", katanya Heru.
"Emang udah Zak?", tanya Heru.
"Dah... telat. Tadi dibantuin si Nisa." kata Zaky.
Begitulah awal perjumpaan kami. Dan itu akan mengantarkan cerita - cerita hubungan kami.
*for my ex-fiance
Cinta dalam Narasi Sampah
Seporsi mi ayam yang menjadi santapanku hari ini belum habis aku lahap. Hari ini hari yang sangat memuakkan, menghadapi berbagai rutinitas yang membosankan.
“Kapan kita menikah, Say ?”, tanyanya.
Senyum sinis saja belum cukup baginya.
Kalau saja dia tahu, tiga tahun ku bersamanya merupakan sebuah tempaan hidup yang melelahkan, tentu aku tidak akan memilih bertahan lebih lama lagi bersamanya.
Menjalani hari-hari dengan penuh kebosanan.
“Aku ingin kita putus.”, teriakku terbata.
Tanpa sebuah alasan, tanpa sebuah alibi. Aku ingin segera mengakhiri semua ini dengan sekejap. Tidak seperti awal perjumpaan dan percintaan kita yang berbelit-belit.
“Kamu nggak serius kan Say?”, sahutnya dengan senyum yang bagiku masih saja memuakkan.
Apa harus ada alasan untuk mengakhiri sebuah hubungan. Aku ingin semua berjalan begitu saja. Seperti layaknya mudahnya aku memutuskan untuk membuang sebuah sampah.
Mengapa untuk mengakhiri harus serumit ini.
Aku masih saja diam mematung menerawang jauh menghindari tatapan matanya.
“Kamu sudah gila ? Kita sudah tunangan Say.”, tambahnya lagi.
Tunangan ? Ah….. mengapa kata-kata itu lagi yang harus kudengar. Ingin sekali aku merobek mulutnya, dan menghapuskan kosakata itu dari ingatannya.
Tahukah kamu, kalau aku telah banyak menipumu selama ini. Aku ingin sekali saja berbuat jujur kepadamu. Tapi yang aku sesalkan adalah… waktu.
Mengapa waktu selalu saja menghakimiku, atas keputusan yang ingin aku buat.
“Kita sebentar lagi menikah Say”, urainya lagi.
Ah… lagi-lagi. Sekali lagi aku ingin menyalahkan waktu, aku ingin waktu tidak berjalan secepat tiga tahun ini. Mengapa waktu bisa membuat keputusan atas kehidupanku.
“Aku ingin memilikimu, aku ingin kamu menjadi ibu dari buah hatiku.”, ujarnya.
* For my beloved ex-fiance *
Thx for all
Minggu, 16 Maret 2008
Sebuah Repertoar : Menggugat Lelaki dan Perempuan
P : Aku ingin menggugat perempuan atas ketidakberdayaan
L : Aku ingin menggugat lelaki atas kesombongan.
P : Ketidakberdayaan apa?
L : Kesombongan apa ?
P : Aku ingin terbebas dari ketidakberdayaan
L : Aku ingin terbebas dari
kesombongan
P : Lalu untuk apa ?
L : Lalu untuk siapa ?
P & L : Lalu untuk...
lalu untuk...
P : Buah ketidakberdayaan ciptakanlah sebuah mimpi diatas bayangan.
L : lalu kesombongan bicaralah atas nama cinta dan kebinasaan.
P : Maaf teruntuk kelemahan, Sayang !
L : Maaf teruntuk kesombongan, Kasih !
P & L : Karena semua itu
Bukan untuk siapa-siapa
Bukan untuk apa-apa
P : Jangan !
L : Lakukanlah !
P : Jangan !
L : Lakukanlah !
P : Bukan ketidakberdayaan yang kuingin.
L : tapi kau ingin, kan ?
P : Bukan.. Bukan untuk itu.
Kau ingin kesombongan kan ?
L : Bukan.. Bukan untuk itu.
P & L : Lalu untuk apa kami berdiri ?
lalu untuk siapa kami disini ?
| Yang ini baguz neng... Tapi aq jd rada taku bacanya, coz full perang mulutzz... |
| perempuan parrah nih.. dah di posting 6 minggu malah baru baca. huwahahahaha.... |
| full konflik Full konflik. untung gak sampe body kontak... alias berantem :) |
| gara-gara gara-gara suntuk revisi skripsi jadinya dikau seperti ini, duh dinda nisa... |
| dibalik Dibalik perbedaan itulah persamaannya. |
Pidato Pembelaan Saya yang (Dituduh) Membunuh Sarinten
Hari ini saya bertemu dengan beberapa wartawan yang menanyakan bagaimana pidato pembelaan dan alasan serta alibi yang menyebabkan saya dibebaskan dari penjara.
Hari ini saya akan bercerita mengenai pembelaan saya. Ijinkanlah saya memulai dari sudut pandang saya.
Pagi – pagi buta, sebelum ayam-ayam terbangun, dan kompor-kompor dinyalakan, penduduk kampung Mlangi geger. Hari itu ditemukan sesosok mayat tergeletak lunglai di pelataran masjid. Mukanya pucat. Memakai daster panjang model jubah lusuh, lengkap dengan jilbab keunguannya. Kentongan – kentongan berirama satu-satu tak lupa dibunyikan seiring berita itu diumumkan. Sebelum adzan Subuh berkumandang berita itu bermula menyebar. Corong-corong masjid tidak kalah gemparnya, mengumandangkan berita menghebohkan itu.
Saat para lelaki masih asyik masyuk dengan alam mimpinya. Saat perempuan-perempuan masih ribut mengerjap-ngerjapkan matanya.Tergopoh-gopoh semua keluar kamar, keluar dari rumah masing-masing. Masih banyak dari mereka yang mulutnya masih penuh iler, mata masih berat karena tahi mata, atau belum mandi junub (1). Semua ingin tahu. Semua merasa penasaran. Berbondong – bondong bertanya, sedangkan yang dimintai jawaban juga sama saja tidak tahu menahu kejadian apa yang sebenarnya terjadi. Termasuk juga saya waktu itu saya terbangun dengan beribu rasa keingintahuan yang sama seperti layaknya mereka
Hanya muadzin (2) yang jadi saksi saat itu. Seperti biasa sebelum waktu subuh, ia selalu sudah siap sedia. Paling tidak 15 menit sebelumnya, ia selalu telah siap. Membuka keran-keran air menyapu sisa-sisa ngengat yang beterbangan, atau sekedar mengatur microphone usang agar tetap bersuara seperti biasa. Namun yang ditemuinya saat ini adalah peristiwa tidak biasa. Mungkin saja sekali seumur hidupnya. Ia menyaksikan perempuan mati tidak berdaya di depannya. Anehnya di sisi mayat itu seorang anak gadis kecil meraung-raung. Umurnya mungkin belum genap empat tahun. Bisa dilihat dari kebiasaannya yang sangat suka menghisap-hisap jarinya. Dan kemampuannya berbicara yang masih sepatah dua patah kata.
Dan hari itu mulut-mulut warga kampung dihiasi dengan berita ”Katanya....”, dan ”Katanya....”
Tahukah anda darimana saya mendapatkan rincian peristiwa tersebut, saya mendapatkannya dari tetangga saya, dari koran yang tergeletak tak jauh dari tempat saya tidur malam itu dan secara lengkap adalah dari polisi yang menanyai saya di hari selanjutnya.Dari polisi juga saya mengetahui bahwa Sarinten itu mati karena lapar. Saya Paijo, tukang becak. Saya adalah suami dari Sarinten, lelaki yang menikahinya sepuluh tahun yang lalu. Saya adalah bapak dari Diah, anak gadis kecil berumur tiga tahun yang ikut menjadi saksi kematian Sarinten, ibunya, istri saya. Saya tidak tahu kalau Sarinten mengandung anak saya berikutnya.
Saya mendapatkan kabar itu justru dari rombongan orang berseragam polisi yang menanyai saya di kantor polisi keesokan harinya. Pagi itu sebelum Sarinten pergi ke masjid, kami bertengkar seperti biasa. Ia menuduhku yang bukan-bukan, berusaha mencari tahu, mengorek-ngorek keterangan darimana uang yang aku dapatkan yang bermaksud akan kuberikan padanya.
Saya ingin sekali membebalkan telinga saya, tetapi penduduk seakan tak ingin memberikan saya kesempatan untuk angkat bicara. Saya ingin sekali untuk berkata apa yang mereka tuduhkan pada saya adalah sama sekali tidak seperti yang mereka gunjingkan.
Saya mendengar mereka mengatakan, ”Kata tetangga si Paijo, setiap hari dia mendengar Sarinten berteriak-teriak minta tolong. Bahkan katanya dia selalu kena pecut kalau keinginannya tidak terpenuhi. Kadang-kadang ditabok, ditampar. Tahu sendiri kan tangan orang itu gedhe-gedhe."
Saya juga mendapatkan surat ancaman yang dilemparkan oleh seseorang menyatakan ketidaksukaannya pada saya. Bahwa saya orang yang keji, tidak bermoral dan tidak berprikemanusiaan.
Sekali lagi saya nyatakan saya tidak membunuh Sarinten, yang dalam hal ini istri saya, dan juga anak didalam kandungan Sarinten, yang juga adalah anak saya. Bahkan saya tidak tahu kalau Sarinten sedang hamil.
Yang saya tegaskan sekali lagi adalah meskipun saya juga bukan suami yang baik, dan saya juga membenarkan beberapa kusak-kusuk tetangga yang mengatakan pernah menyaksikan saya beberapa kali melakukan pemukulan pada istri saya. Namun pada malam kejadian saya berani menyatakan sekali lagi bahwa saya sama sekali tidak mempunyai niatan dan sama sekali tidak melakukan tindakan pembunuhan seperti yang dituduhkan.
Silahkan kalau anda-anda tidak percaya tanyakan pada Lilis, penjaga warung kopi di gang depan kompleks sebelah. Saat itu saya lagi karaokean dengan dia. Boleh tanya sama Sumargo teman becak saya yang saat itu lagi merayu Neneng, ponakan Lilis dia ada di depan saya.
Saya memang akan mengakui bahwa pagi sebelum Sarinten ditemukan tewas kami bertengkar hebat. Saya tersinggung ketika saya memberikan uang untuk makan, tetapi malah dilemparkan ke muka saya. Uang itu hasil saya meminjam dari si Lilis. Sarinten tampaknya tahu, dan dia cemburu. "Lebih baik saya mati daripada makan dari uang pelacur itu, katanya. Siangnya dia kabur, sepertinya tidak makan. Sampai sore katika saya akan berangkat narik becak Sarinten belum juga pulang, sampai Sumargo menjemput saya untuk ke warung si Lilis. Setelah itu saya tidak kemana-mana. Boleh tanya sama Neneng, boleh tanya sama Sumargo, dan tentu saja sama Lilis. Setelah asyik nyanyi-nyanyi dangdut, ngopi, saya menghabiskan semalam itu sama Lilis. Dan ini bagian terberat pengakuan saya, saat itu saya tidur dengan Lilis
Jadi bagaimana mungkin saya bisa keluar melakukan pembunuhan pada Sarinten, saat saya sedang bercinta dengan Lilis?
Benar. itu adalah pidato pembelaan saya yang mengantarkan saya pada kebebasan saya. Sekian para wartawan sekalian keterangan dari saya, dan tentu saja untuk urusan yang lain silahkan tanyakan pada pengacara LBH saya saja.
Yah begitulah cara saya mengakhiri pidato pembelaan saya. Pidato pembelaan saya yang (dituduh) membunuh Sarinten.