: Cassle, sebuah kado
“Apakah daun yang gugur itu akan kembali ke pohonnya, Ibu?”
Pertanyaan itu berulang-ulang selalu kuajukan pada Ibu setiap tahun pada momen yang sama. Tepatnya tujuh-delapan tahun yang lalu. Mungkin karena ada semacam benak yang mengganjal dalam otakku selama ini, aku selalu merasa Tuhan menjadi tidak adil, ketika melihat daun yang jatuh dari pohon atau buah yang dipetik dari asal muasalnya. Aku selalu membayangkan pohon adalah seorang anak yang lahir dari ibunya. Saat kecil aku selalu menanyakan hal itu.
Ibu selalu menjawab, “Tak semua perbuatan perlu suatu pembalasan.”
Sebenarnya ada kebiasaan yang unik dalam keluarga kecil kami. Ya, keluarga kami adalah keluarga dengan sedikit kepala didalamnya. Tak banyak keriuhan yang kami ciptakan. Kami bercakap dalam diam. Mungkin salah satunya ritual ini. Setiap Juli di belakang kebun kami, Ibu selalu menjalankan ritual yang sama. Ibu selalu menanam pohon yang sama di penanggal itu, di setiap tahun. Ibu selalu menanam bibit pohon Akasia di halaman depan rumah kami. Biasanya Ibuku akan menanam tepat di hari ulang tahunku 15 Juli. Ya, dua hari lagi aku akan memasuki tahun ke tujuh belas, dan seperti penanda tujuh-belas pada usiaku, tujuh-belas pohon akasia juga yang tertanam di kebun belakang rumah kami. Delapan di kebun belakang rumah kami yang lama, dan sisanya di kebun rumah kami yang sekarang. Kami memang tinggal di areal dengan luasan tanah lahan tidur yang masih cukup luas ditanami.
Entah apa pastinya, peristiwa yang menarik kedekatan antara Ibuku dan Akasia, yang jelas, pohon itu selalu mencipta bulan. Benar, pohon itu telah menciptakan daun berbentuk bulan sabit. Bunganya serpih-serpih kuning menjingga, seperti warna langit. Dua hal itu adalah kesukaanku sebenarnya, bulan sabit dan langit jingga. Ah.. jangan-jangan karena alasan itu Ibuku menanam Akasia. Karena aku menyukai keduanya. Koneksi? Mungkin. Tapi sungguh, aku sendiri sebenarnya tidak memiliki kedekatan intim dengan ibuku. Atau jangan-jangan sejak bayi Ibuku lah yang menanamkan kecintaanku pada Akasia terlebih dahulu, dibandingkan pada bulan sabit dan langit jingga? Ah… entah.
Aku meyakini sejak kecil, bahwa pohon Akasia adalah pohon yang pintar. Pohon yang pintar mengikuti maksud cuaca. Pohon yang bisa membaca musim. Saat musim hujan, daun-daun bersemi hijau, bunga-bunga Akasia menunjukkan semi jingganya. Di musim kemarau, maka kulit-kulit kayu Akasia akan mongering, daun-daun jatuh, meranggas meninggalkannya. Dan, aku akan kembali menggumam kalimat yang sama setiap tahun, dan mengutarakannya. Bukankah suatu keajaiban menyaksikan kuncup-kuncup jingga Akasia tersembul dari pucuk-pucuk dahan. Atau pergantian daun yang meranggas.
Sedangkan pergumulanku dengan bulan sabit dan langit jingga, adalah karena mereka yang menemani hariku. Saat aku pulang sekolah, atau saat aku di rumah, anak-anak yang lain akan dengan bangga memamerkan masakan Ibunya. Sementara, aku harus mendapati ruangan kosong dan rumah dalam keadaan senyap. Bukan Ibu yang memelukku namun bulan sabit dan langit jingga lah yang bergantian menjagaiku.
Ibu seakan membiarkanku menjadi seperti tembok. Aku dijadikan semacam penahan atas sesak di dada yang ia hadapi. Ibu tak pernah marah pada keadaan, bahkan kuanggap, ia terlalu datar. Ayah mempunyai kekasih lain dan tentu itulah penanda yang paling sakit dialami perempuan manapun, bukan?
Ayah meninggalkan kami beberapa tahun berikutnya. Saat aku masih mengeja huruf pada bangku sekolahku. Ayah tak meninggalkan nafkah. Ibu mulai berhutang untuk menanggung hidup, disamping hutang yang ditinggalkan oleh Ayah. Ibu terpaksa harus menggadaikan rumah. Kemudian, kami akhirnya harus menepi ke sebuah kota kabupaten kecil dan dengan dibantu beberapa teman tetangga kami berhasil menemukan rumah kosong dengan lahan tidur yang lumayan luas untuk kami tinggali.
Dengan hasil pinjam sana-sini beberapa kenalan kami bertahan hidup untuk beberapa saat. Beberapa bulan kemudian Ibu berhasil mendapat pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah madrasah swasta kecil di dekat rumah. Dari penghasilan itu kami bertahan hidup.
“Apakah daun yang gugur itu akan kembali ke pohonnya, Ibu?”
Pertanyaan itu berulang-ulang tetap akan selalu kuajukan pada Ibu setiap tahun pada momen yang sama. Tepatnya tujuh-delapan bahkan puluhan tahun berikutnya. Mungkin karena tetap masih tersisa semacam benak yang mengganjal dalam otakku selama ini, aku selalu merasa Tuhan menjadi tidak adil, ketika melihat daun yang jatuh dari pohon atau buah yang dipetik dari asal muasalnya. Aku selalu membayangkan pohon adalah seorang anak yang lahir dari ibunya. Saat kecil aku selalu menanyakan hal itu.
Ibu, aku yakin akan selalu menjawab, “Tak semua perbuatan perlu suatu pembalasan.”
Daun dan bunga, sang anak pohon Akasia, apakah tidak terpikir olehmu untuk membalas jasa? Apakah hanya seputus masa cinta kalian? Dan pohon Akasia, apakah hanya seputus masa cinta mu pada daun dan bunga?... Ah entah, toh bagiku daun dan bunga masih saja seperti tak tahu diuntung.
Setelah menanam dan menjenguk pohon-pohon Akasia, maka kami akan berkumpul di ruang tengah memandangi foto keluarga. Foto itu hitam putih, perempuan berusia tiga puluhan menggendong bayi dalam dekapan dalam posisi duduk, memakai terusan bunga-bunga, rambut sebahunya disisir ke belakang tanpa belahan, seorang lelaki berkumis memakai setelan safari di sebelahnya dalam posisi berdiri. Ibu menyeduh cangkir kopi, dan biasanya aku akan menata beberapa kue kecil di meja ruang tengah. Setelah itu aku akan ikut duduk dan juga diam. Keluarga kecil kami hanya aku dan ibuku. Setelah itu, sebuah pertanyaan tambahan aku lontarkan pada Ibuku.
“Apakah aku dan ayah seperti daun dan bunga Akasia dan Ibu pohonnya?”
“Suatu saat aku menjadi bunga, Ibu. Aku akan meninggalkan pohonnya, adilkah bagimu?”
Dan ibu menjawab, “Kau dan Ayahmu adalah zat hara pohon itu dan tak semua perbuatan perlu suatu pembalasan.”
“Daun Akasia gugur dan menjadi zat hara, begitu juga bunga. Dan pohon bertahan karena itu.”
“Pembalasan datang dengan caranya sendiri-sendiri”
Dan Juli ini, Akasia di halaman kami ranggas. Satu-satu daun dan bunganya luruh ke tanah, seperti Juli-Juli sebelumnya. Suatu cara agar daun dan bunga itu kembali ke pohonnya.
Sby, 240709
.....
Minggu, 26 Juli 2009
Langganan:
Komentar (Atom)