Dewi Ayu turun perlahan ke atas bumi. Disambut peri-peri ilalang dan kurcaci kunang-kunang. Hari itu ia menyaksikan sendiri langit akan tetap berwarna sama, dengan kanvas yang sama. Biru beludru dengan gumpalan putih kapas elok. Hanya saja entah, dalam beberapa kesempatan ia ingin sekali memprotes Tuhan.
”Tuhan, mengapa tak sekali-sekali kau warnai langit seperti cabai yang menyala. Merah. Seperti luka yang ia goreskan kepada milikku yang berharga. Kenangan. Atau Tuhan... bila kau ingin warna lain, mengapa kau tak cari saja padanan warna seperti anggur yang meranum. Ungu. Seperti lebam yang ia cap-kan pada jantungku. Memar rasa”
Ia tak meminta lebih banyak pinta. Baginya satu pembuktian warna langit, cukup untuk membuktikan kecintaan Tuhan padanya. Ia tak pernah meminta rangkaian hari dimana ia harus membersihkan badannya yang kotor setelah melahirkan malaikat kecil.
Entah, berapa kali ia harus mengucap ingin mengakhiri hidupnya. Mungkin sebuah protes. Lagi-lagi pada Tuhan.
”Tuhan... kalau kau masih mengingat gurat pembalut yang suci, ia akan tetap berwarna putih. Bukan coklat, atau merah cabai. Kalaupun ia berwarna merah cabai, tentu ia akan berada dalam hitungan periode hari. Bukan beberapa minggu atau bulan.”
Dan entah, Dewi Ayu lagi-lagi hanya perempuan ayu yang biasa, ketika ia harus melahirkan malaikat kecil, Bayu. Dewa angin pembawa berita kedamaian buat umatnya, mungkin. Tapi tentu tidak untuk Dewi Ayu. Bayu menjadi berita pembawa aib baginya.
Dewi Ayu masih ingat jangkah-jangkah Putra Bajang marapal mantra seperti rayuan baginya. Namun dari desas-desus yang Dewi Ayu tahu dari rekan-rekannya, Putra Bajang telah meniup sebuah ilmu pemikat padanya. Entah, Dewi Ayu seperti melihat Putra Bajang adalah pahlawan yang jadi nyata. Di dekapannya Dewi Ayu merasa nyaman. Putra Bajang menjanjikan tahta angin untuk Dewi Ayu dan Bayu. Wajah Putra Bajang elok sungguh, dengan dada bidang dan entah tangan-tangan dan jemari nya yang lembut namun tegas, Dewi Ayu rasakan sebagai pelindung dirinya, saat itu.
Tak ada satupun orang terdekat Dewi Ayu yang menyukai Putra Bajang. Putra Bajang terkenal dengan kedigdayaan kekuasaannya. Ia selalu dijadikan terdakwa atas hilangnya beberapa anak-anak gadis dan perempuan dewasa lain di kampung. Ada yang mengatakan Putra Bajang senang dengan darah anak-anak gadis dan perempuan dewasa, ada pula yang mengatakan Putra Bajang menciptakan dinasti kerajaan angin dengan mereka.
II/
Dari dulu aku tak pernah setuju, ibu selalu memonitor gerak-gerik ku. Bagi Ibu tentu tak akan pernah ada menantu yang sempurna, dan tak akan pernah ada perempuan yang sempurna untuk ku. Bahkan untuk sekedar menjadi budak ku , budak seorang Putra Bajang sekalipun.
Aku memang tak pernah menyalahkan hasratnya untuk menjadi penguasa tahta angin. Tak pernah sekalipun juga menyalahkan sikapnya yang berhati-hati memilihkan calon generasi penerus penguasa tahta angin berikutnya.
Setiap hari, aku selalu sudah mempunyai jadwal tersendiri saat menemui calon-calon perempuan yang bisa ditanami rahimnya dengan benihku dengan beberapa hal-hal yang menjadi perhatian sang Ibu. Bukan hanya bibit, bebet, dan bobot, tetapi juga wedi, gemi lan gemati. Sebuah penanda trah yang aku sendiri tak mengerti untuk apa dan mengapa dibuat seperti demikian.
III/
Entah apa yang ada di pikiran perempuan ini, mengayunku dengan sedemikian lembutnya. Padahal aku tahu, aku sudah dianggap tak pantas berada dalam buaiannya. Perempuan yang meletakkan kepala di kaki dan kaki di kepala, hanya untuk seorang Putra Bajang. Hanya untuk seorang anak dari Putra Bajang.
Entah aku sendiri tak tahu, apakah aku berasal dari trah Dewi seperti dirinya? Atau berasal dari trah Bajang seperti lelaki itu?
IV/
Dewi Ayu Nawangwulan malam itu menancapkan tapak bibirnya di lembut dada Putra Bajang. Penanda purnama pun telah menggenapkan untaian hati mereka. Saat Putra Bajang turun ke bumi membasuhkan kaki nya pada telaga Dewi Ayu Nawangmulan.
Bayu mendesis bergumul di cawan mahkota Dewi Ayu, berasal dari gumpal nutfah Putra Bajang dan Dewi Ayu. Mereka saling menyetubuhi selampit ketiak. Menukar lidah dan ludah. Sebuah penanda yang ditinggalkan Putra Bajang pada Dewi Ayu, Dewi Ayu untuk Putra Bajang.
V
Mijil dilantunkan sayup-sayup dari bibir Dewi Ayu, mendekap Bayu, mendoakannya. Mijil tembang yang dilantunkan sayup-sayup, sebuah penanda suatu kelahiran.
Entah ia trah dewa, entah trah bajang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar