DINI
Kami bertemu dalam suatu acara keluarga. Ayahnya adalah sepupu jauh ibuku. Mereka tinggal di pedalaman Kalimantan sementara keluargaku tinggal di ibukota di Jakarta. Kalau tidak karena pertemuan keluarga besar yang diadakan setiap dua puluh tahun sekali itu, aku barangkali tidak akan pernah bertemu dengannya.
Tentu saja aku tidak persis mengingat pertemuan pertama kami itu. Usia kami pada pertemuan itu katanya baru tujuh bulan. Ibuku mungkin menggendongku di pelukannya sewaktu mengobrol dengan ibu Asti yang juga menggendong Asti di pelukannya. Aku hafal betul apa yang Asti selalu bilang mengenai pertemuan pertama kami itu: sudahlah, lagipula nampaknya hanya orang hebat yang bisa punya ingatan yang begitu bagus untuk mengingat hal-hal seperti itu.
Namun sewaktu aku mencoba mencari-cari ingatan awalku tentangnya, aku tetap juga tidak mampu mengingat terlalu banyak tentang awal mula kedekatan kami. Lantas kupikir, mungkin hal-hal menggelikan seperti ini memang lumrah terjadi di kehidupan. Pertemuan-pertemuan yang tanpa disadari. Hingga kemudian menjadi terbiasa. Seperti yang terjadi pada kami. Kami saling mengenal bahkan sebelum kami saling menyadari takdir pertemuan yang mempertemukan kami.
Belasan tahun berlalu setelah saat itu. Kami terpisah jarak selama itu. Namun tentu saja kami masih berkirim kabar. Belasan tahun kami tetap bercerita. Cerita-cerita kami jauh berbeda. Di saat dia masih polos bercerita tentang boneka-boneka kiriman ibuku, aku sudah mulai membicarakan tentang guru matematika yang kuidolakan di sekolah.
Bertahun-tahun lamanya baru aku bisa menyadari bahwa hanya pada dia aku bisa berbagi tentang banyak hal. Hingga tiba kabar berita dari gelombang takdir yang semakin mendekat, sesuatu yang kurasa adalah intuisi. Bermalam-malam aku bermimpi, berhari-hari aku merenung sendirian. Kata batinku, sebentar lagi aku akan mati.
*
Dulu aku selalu membayangkan. Jika suatu saat kami akan berpisah, aku hanya bisa memikirkan satu hal. Seandainya saja sebelum mati Tuhan mengijinkanku bertemu dengan seseorang, aku tak akan ragu lagi untuk menyebut namanya.
Belasan tahun telah kami lalui bersama lewat perantara cerita-cerita keseharian kami dalam surat, tanpa pernah bertemu muka satu sama lain.
Sesaat sebelum aku mati, jika boleh, aku merencanakan agar kami bisa bertemu di sebuah taman. Daun-daun akan berguguran dengan lembut kala itu. Langit sudah akan senja. Ada kursi taman berbahan kayu sono yang sudah lapuk. Pada kursi itu akan ada beberapa coretan sekedarnya dari orang-orang yang pernah duduk di sana. Di kursi itulah kami akan duduk berdua.
Awalnya kami tidak akan membahas sesuatu hal. Kami hanya akan duduk di sana dan memerhatikan layang-layang yang beradu di langit di hadapan kami. Orang-orang masih berlalu-lalang di sekitar dan kami masih tidak akan membahas apa-apa.
Kami akan menjadi dua nenek-nenek yang kelihatan lucu di mata orang-orang. Anak-anak kecil yang berlari berkejaran di sekitar kami mungkin akan sedikit mencuri pandang ke arah Asti atau aku.
Waktu kecil, aku berpikir apa jadinya aku ketika sudah tua nanti. Suatu saat nama-nama cantik kami akan diberi gelar nenek. Nenek Asti. Atau Nenek Dini.
Kalau Tuhan membIndrou takdir untuk bertemu dengannya beberapa saat sebelum aku mati, aku ingin punya satu malam lagi untuk kuhabiskan bersamanya. Kami berdua yang telah renta akan tidak tidur semalaman karena telah takdirnya demikian. Bukankah aku telah minta pada Tuhan agar aku diberi waktu untuk melakukan hal itu?
Aku yakin kami akan bercerita dengan lancar. Tidak perlu kutentukan apa topiknya. Tetapi seperti biasanya, seperti yang kami sering lakukan di usia muda kami, pembicaraan-pembicaraan akan memilih arahnya sendiri dan tidak akan berhenti sebelum aku mati. Aku tahu hal-hal semacam itu akan terjadi.
Sudah sejak lama aku percaya bukan kamilah ternyata yang akan menjadi penemu mesin waktu. Beberapa saat sebelum aku mati, aku mungkin akan mulai dengan berkata demikian. Aku akan bilang, “Ternyata kita hanya berakhir sebagai nenek-nenek biasa yang seperti ini saja, ya?”
Di wajah kami tentu masih ada sinar mata kanak-kanak yang tidak akan pernah mati. Dan sinar itu akan semakin terang kutemukan ketika Asti kemudian tersenyum kecil di saat mendapati aku berkata demikian. Dia tentu akan menyahut, “Meski awalnya kita selalu berpikir kita bisa mengubah dunia.”
“Dan membuat mesin waktu.” Cetusku.
“Menjadi pemimpin dunia.”
“Menghancurkan dunia dan membuat dunia baru.”
“Nuklir penghancur massal?”
“Bukan, bukan itu. Sesuatu yang lebih besar yang bahkan belum bisa kubayangkan sampai sekarang. Lantas bagaimana jika kita punya kesempatan menjadi pemimpin dunia? Apa yang akan berubah?”
“Nama kita akan tercantum dalam sejarah.”
“Sebelum kita mati, sepertinya itu akan indah.”
“Musuh terbesar dari mimpi hanyalah kematian.”
“Bagaimana kalau setelah mati kita masih punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi itu?”
“Kau bermimpi!”
Dan kami akan tertawa. Begitu lepas. Suara tawanya adalah suara tawa yang tidak akan tergantikan oleh siapapun. Aku hanya bisa mendengarnya di telepon. Aku ingin mendengarnya secara nyata. Itulah sebabnya aku hanya akan meminta pada Tuhan agar bisa bertemu dengannya sebelum aku mati. Tidak dengan orang lain.
“Bagaimana pernikahanmu, Asti?” Mungkin aku akan tergelitik untuk menanyakan tentang masa-masa indah dalam dongeng. Dongeng selalu menceritakan kisah yang indah, bukan?
Aku membayangkan dia akan menceritakan kehidupan masa depannya yang indah. “Aku menikah dengan suami yang baik. Anak-anakku menikah dengan pasangan yang baik juga. Tidak ada yang membuatku khawatir. Bagaimana denganmu?”
“Mungkin bodoh kedengarannya. Tapi aku hanya tinggal sendirian di sana.” Aku akan menunjuk ke arah rumahku yang beraura gelap. Itulah sebabnya aku minta pada Tuhan agar mempertemukan kami di sebuah taman. Aku ingin memiliki sebuah rumah yang sepi dekat sebuah taman yang ramai. Dan aku ingin agar aku tidak bisa pergi lebih jauh lagi selain ke taman itu. Kupikir, di usia tuaku nanti, hidup yang tidak beranjak ke mana-mana akan terasa lebih sederhana.
“Tapi kau tidak terlihat seperti memiliki kehidupan yang suram?”
Tentu saja pertanyaan seperti itu akan muncul dari Asti. Dia selalu sangat peduli padaku. Namun karena aku tak punya jawaban yang pasti atas jalan hidupku, aku mungkin akan menyahutinya dengan pertanyaan lagi.
“Sesuram itukah kelihatannya di matamu?”
“Jadi kau tidak menikah?”
Bagaimana caraku bilang padanya nanti kalau dia tanya begitu? Bagaimana jadinya kisah cintaku nanti ketika tiba masanya aku beranjak tua?
Kupikir, kalau aku berani menceritakan tentang apa yang terjadi pada kisah cintaku di usia belasanku, dia pasti paham betul bagaimana rasanya menjadi gadis lima belas tahun yang jatuh cinta dengan pamannya yang berusia empat puluh lima. Ketika si gadis telah berusia dua puluh lima, gadis itu masih tidak bisa mengejar sang paman di usianya yang kelima puluh lima.
Dan di saat sang gadis berusia enam puluh tahun, sang paman meninggal di usia sembilan puluh. Cinta sang gadis untuk pamannya tak pernah berhenti selama itu. Ketika pamannya mati, cintanya terkubur bersama jenazah paman itu.
Jadi mungkin itu saja mengenai kisah cintaku. Barangkali aku akan terus menyukai pamanku itu bahkan sampai dia mati. Selamanya menjadi kanak-kanak di matanya. Dan aku akan memutuskan tidak akan menikah dengan siapapun lagi jika ternyata akhirnya dia tidak bisa balas mencintaiku juga. Mungkin aku akan benar tinggal di sebuah rumah yang suram dan di depan rumahku itu akan ada sebuah taman.
*
Itulah yang kubayangkan sebelumnya. Sebelum kuketahui bahwa mimpi-mimpiku itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Di saat sorot lampu sebuah truk menusuk mataku malam itu, di saat aku tak bisa bergerak lagi dan menyerahkan tubuhku ditabrak begitu saja olehnya, mimpi-mimpi untuk bertemu dengan Asti di usia senjaku kemudian hanyalah menjadi angan-angan.
Aku sadar saat ini aku hanya berhadapan pada gelap. Semuanya berpusat di kepalaku. Suara-suara orang yang kukenal masih kudengar di sekitarku. Tapi aku tidak berada di manapun.
ASTI
Entah mengapa aku merasa tak ada yang salah dengan hidupku. Itu juga yang membuat hidupku terasa berjalan sangat mudah. Keluarga kami memang tidak kaya, tapi mungkin keluarga kami merupakan keluarga impian. Ayahku bekerja, ibuku adalah ibu rumah tangga yang hobi memasak, aktif di pergaulan sosialnya, dan terlihat baik bila bersosialisasi dengan orang lain.
Kata sebagian orang aku juga termasuk anak yang beruntung. Aku cukup cerdas untuk anak-anak seusiaku. Beberapa kali lompat kelas, karena aku selalu mudah bosan dengan pelajaran yang bagiku, “Oh... bukankah ini sudah kau ajarkan, wahai guruku yang terhormat di pertemuan yang lalu?”
Kadang aku selalu menertawai tingkah Dini yang membanggakan gurunya. Para guru dibayar untuk itu, jadi yah... memang seharusnya mereka baik kepada kita, kan? Aku selalu merasa Dini menjadi, “orangtua” bagiku, terkadang. Meski sebenarnya aku lebih tua darinya.
Dini, yah... gadis itu, sahabat kecilku. Seringkali aku tak mengerti beberapa kali aku mengajak dia bergaul sebagaimana mestinya gadis seusia kami, ia menolak. Aku tahu Indro, teman satu kelas nya saat kelas 5 SD, suka Dini. Hah! Dari cerita-cerita Dini di telepon, siapa yang tidak bisa menarik kesimpulan kalau Indro memang suka Dini. Dini selalu merasa terganggu kalau Indro suka menggodanya, menarik-narik rambut Dini dari belakang, menyembunyikan alat tulis Dini, atau suka mengolok-ngolok Dini dengan julukan pipi tembem. Tapi kemudian aku tertawa keras-keras waktu Dini cerita,
“Indro pinjam bukuku nggak kira-kira. Dia mencoret-coret bukuku?”
“Mencoret-coret? Maksudmu?”
“Dia gambar hati ada namaku di dalamnya”
Mungkin kalau kelas 5 SD boleh dikata Dini belum punya suatu ketertarikan dengan makhluk yang bernama lelaki sebayanya, lalu bagaimana dengan Listyo? Listyo pernah suatu kali Dini ceritakan sering menyiulinya jahil kalau Dini melintas sepulang sekolah. Listyo memang tak bisa dikatakan sangat tampan, tapi dengan tingkahnya yang cukup memikat saat mendekati gadis-gadis, siapa yang tidak tergoda dengan Listyo.
“Listyo tampan, Ti. Aku suka menatap matanya sebenarnya. Ah... tapi kalau ketemu dengannya aku jadi kelihatan bodoh. Aku seperti bicara dengan makhluk asing. Sama sekali aku tak paham dengan bahasanya, tempat kesukaannya ah... semuanya. Sepertinya dia juga sama, tak paham dengan topik bicaraku.”
“Memang kalau ngobrol dengan Listyo, ngobrol apa?”
“Ah... padahal aku ngobrolin hal ringan tentang misteri phytagoras. Ketakjuban yang sebenarnya awam kan? Kalau aku begitu bersemangat cerita bagaimana jalur tercepat suatu rute bisa dapat kita tempuh kalau kita tahu jalan memutar, apa ada yang salah?”
“Hah? Kamu berbicara tentang Phytagoras sebagai suatu kemudahan dan cara jalur tercepat untuk mengakrabkan diri pada orang paling menarik yang kamu tahu, Din? Pembicaraan jalur tercepat versimu itu menuntunmu ke sebuah kesimpulan. Tahu nggak apa?”
“Apa?”
“Kamu perempuan terumit yang mungkin pernah Listyo temui.”
Setelah aku menyentaknya dengan sebuah kesimpulan itu. Dini malah tertawa terbahak-bahak.
“Try me!”
***
“Aku ingin terbang ke tempatnya Din?”
Kataku suatu ketika di ujung kabel telpon.
Aku memang sudah gila. Terlanjur gila. Otakku selalu dipenuhinya. Aku menggenggam erat buku tabungan ku masih beberapa angka-angka tertera didalamnya, tujuh digit. Aku ingin memperjelas semua. Yah... semua. Aku ingin menarik semua tabunganku dan mencarinya.
“Kamu gila”
“Kamu hamil, dan kamu tak mungkin melakukan perjalanan jauh via udara.”
Aku sudah tak mendengar kabarnya lagi sejak empat bulan yang lalu pertemuan kami. Yogi, dia bapak dari anak dalam kandunganku sekarang. Sangat sulit memberitahu keadaanku. Yogi tak bisa dihubungi, aku bahkan tak tahu keluarganya. Hah!!
“Biar aku saja ke tempatmu. Tak usah kau temui Yogi lagi, simpan tabunganmu untuk anakmu nanti.”
Suara di ujung telpon membuatku terbelalak. Memang benar, semenjak kedua orang tuaku tiada sepuluh tahun yang lalu, Dini yang paling dekat denganku.
“Aku akan ke Jakarta minggu ini juga.”
**
“Kita besarkan Kirana bersama, Ti.”
Begitulah ia menegaskan keputusannya, Dini memutuskan mengurus kepindahan dinasnya ke Jakarta. Hal itu mudah saja dilakukan. Prestasi kerjanya memang layak untuk ditempatkan di kantor pusat. Dini pindah bukan hanya dari tempat kerjanya, tapi juga tanah kelahirannya, tempat sebagian besar keluarga dekatnya tinggal. Sangat beresiko, sangat-sangat beresiko. Aku tak pernah menyangka Dini berkorban sebanyak itu. Dan aku sama sekali tak menyangka, ia bersedia pindah dan berbagi kehidupannya denganku dan Kirana. Kirana anakku
Saat itu aku bekerja dengan sebuah kontrak ikatan dinas tak boleh mempunyai anak hingga masa kontrak usai. Saat masa kontrakku usai sebenarnya atasanku sudah menyetujui sebuah promosi ke jabatan lebih tinggi dan aku akan dikontrak lagi. Promosi tersebut juga disertai dengan sebuah komitmen yang sama, tidak memperbolehkan karyawan hamil sebelum habis masa kontraknya. Hal itu urung dilakukan. Kirana saat itu sudah mencapai masa kandungan lima bulan. Tentu saja bila dibiarkan berlarut-larut perutku akan membesar, akan banyak orang yang tahu. Aku tidak ingin kehamilan ini membawa preseden buruk bagi perusahaan. Maka selanjutnya aku menolak tawaran promosi tersebut, dan otomatis aku mengundurkan dari perusahaan. Dalam kondisi tak punya pekerjaan aku memang bisa hidup dari uang sisa kontrakku. Tapi tentu saja itu tidak cukup.
Dini datang saat kehamilanku telah mencapai usia bulan ke delapan. Dia memang peri penolongku sejak dulu, dan tampaknya akan tetap menjadi seperti itu. Dia bahkan yang seolah-olah menjadi “bapak” bagi Kirana. Ia menyisihkan sebagian besar uang pendapatannya untuk Kirana. Mulai dari biaya persalinan, kebutuhan sehari-hari Kirana, bahkan boleh dikata sebagian besar kebutuhanku Dini yang membiayai. Ia tak pernah mengatakan apa-apa.
Tahun ke tiga usia Kirana, aku beranikan diri untuk mencoba bangkit. Aku mencoba melamar pekerjaan di tempatku bekerja dahulu. Diterima. Pekerjaan Dini yang lebih fleksibel soal waktu membuat aku dan Dini leluasa mengatur waktu mengasuh Kirana. Gaji kami pun tak kan sanggup mempekerjakan seorang pengasuh. Kami pun beranggapan pengasuh tak akan bisa menggantikan kasih sayangku, ibunya.
**
“Aku sudah putuskan aku akan menikah dengan Mas Dwi”
“Ti, aku tak mungkin pisah sama Kirana. Kirana sudah kuanggap anakku juga. Kita bisa hidup bersama seperti dulu.”
“Cari kehidupanmu sendiri, Din. Kamu sudah terlampau baik sama aku. Sangat dan sangat. Tapi tolong, cari kebahagiaanmu sendiri. Kamu pantas mendapatkannya, Din”
Saat itu aku tak bisa membayangkan kami berdua akan hidup bersama. Mas Dwi menginginkan aku dan Kirana lebih baik tinggal di rumahnya saja. Aku dan Mas Dwi saling mencinta, kami sudah memutuskan bertunangan. Mas Dwi adalah duda dengan dua orang anak. Istrinya meninggalkannya karena sebuah kecelakaan. Aku kenal Mas Dwi karena dia adalah sahabat dari atasanku. Dia sangat baik. Sebenarnya Dini tak ada masalah dengan Mas Dwi. Namun alasan kepindahan kami ke rumah Mas Dwi lah yang sangat memberatkannya. Ia tak mampu berpisah dengan Kirana.
“Kalau itu yang kamu mau, Ti. Baik aku pergi”
Kami bertengkar hebat, aku masih ingat pertengkaran itu. Dini menembus hujan. Mengendarai motornya kencang.
**
“Mas..”
“Gimana Dini, Ti?”
Mataku berkaca. Kirana di sampingku telah mendiamkanku begitu lama. Tak mengajakku bicara sekata pun. Kaca ICU berembun oleh nafas Kirana. Sedari tadi dia tak beranjak, memandangi ranjang Dini yang ditubuhnya penuh dengan selang oksigen dan infus dari kaca jendela ICU. Tak boleh ada keluarga dan pengunjung yang diperkenankan masuk ke ruangan ini.
“Keluarga Dini Antarini, bisa ikut saya menemui Dokter sebentar?”
Suara seorang perawat mengagetkanku. Aku, Kirana dan Mas Dwi mengikuti perawat itu.
“Kami harus menyerah pada kehendak Tuhan. Bu Dini tak tertolong. Hanya ini yang bisa kami lakukan. Kami turut berduka”
Merebaklah tangisku dan Kirana. Mas Dwi hanya mampu menahan tubuhku.
**
“Mama Din, aku pingin jadi kupu-kupu”
“Bukannya Rana sudah jadi kupu-kupu?”
“Aku kan manusia, Ma? Aku juga jelek, tak seperti kupu-kupu. Sayap kupu-kupu kan indah bebas terbang kemana-mana pula.”
“Rana selalu jadi kupu-kupu buat Mama Din. Rana tak pernah jadi telur, ulat maupun kepompong. Apa dan bagaimanapun Rana di mata Mama Din, Rana selalu sempurna. Dan tentunya begitu juga di mata Bunda Ti.”
Hari itu awan biru menurunkan karpet pelanginya usai hujan. Kirana selalu menyukai warna pelangi. Di benaknya itu lah warna yang akan dia kenakan sebagai sayap seandainya ia adalah kupu-kupu. Warna pelangi.
END
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar