“Berapa lama kamu akan pergi, Va?”
“Bu, aku bukan pergi. Aku hanya mengambil jeda.”
Eva mengemasi barang-barangnya, mencangklong dua tas besar berisi pakaian sekedarnya dan bekal yang ia rasa penting dalam perjalanan. Tekadnya sudah bulat. Ia harus pergi. Pintu kamarnya dibiarkan terbuka lebar-lebar. Pintu itu seperti meratapi kepergian Eva, ikut merasakan kepedihan Ibunya.
**
Eva kembali menyibukkan diri dengan piring kotornya. Beberapa piring direndamnya dengan air hangat, sebelum kemudian dibasuhnya dengan air sabun dan sabut pencuci. Cukup lama juga barulah Eva akhirnya tahu bahwa mencuci piring lebih mudah dan lebih bersih adalah dengan merendamnya terlebih dahulu di air hangat, setelah sebelumnya diberikan perasan air jeruk mendiamkan beberapa saat baru kemudian membilasnya dengan air sabun. Alih-alih membeli sabun cair khusus pencuci piring cair yang lebih mahal dan tentu akan membuat pengeluaran membengkak, Eva mencuci piring dengan deterjen. Sambil menunggu kotoran di piring merontokkan keraknya, Eva meneruskan menyapu dan membersihkan rumah. Rumah yang bukan miliknya, karena sebenarnya itu adalah sepetak rumah kontrakan.
Beberapa jam yang lalu Landung telah berangkat. Seperti biasa, ia akan membawa beberapa amplop berisi print naskah novel dan beberapa cerpen untuk beberapa media. Seperti itu pekerjaannya setiap hari. Tentu jangan tanyakan karir Landung, karena tentu saja ada beda antara pekerjaan dengan karir. Bedanya adalah pekerjaan Landung tak selalu membawa uang yang cukup untuk mencukupi kehidupan keluarganya, tak juga ada kesejahteraan yang bisa menjadi sebuah garansi atas kemakmuran hidup keluarga mereka.
**
Laki-laki paruh baya itu menimang surat peringatan bercap perguruan tinggi. Eva baru saja tertangkap basah. Ia sudah satu semester tak lagi menggubris kuliahnya. Yah... itu terjadi sebelum kenal dengan Landung. Pria yang kemudian mengubah hidupnya.
“Ev, berapa bulan ini kamu ternyata bolos? Kamu kemanakan uang kuliah yang selama ini Bapak transfer tiap bulan?”
**
Landung mengisap rokoknya dalam-dalam. Pada hisapan terakhir akhirnya ia membuang puntungnya, dan mematikan dengan menjejakkan sepatunya ke puntung itu. Seakan-akan ia ingin membuang kekalutan yang ada dalam benaknya.
“Arep nang endi maneh, Le? *1) Ngeposkan berkali-kali juga nggak pernah dimuat. Buang duit. Mending buat persiapan biaya calon bayi mu”
“Kalau mau, kamu bantuin aku bikin mie di sini. Lumayan, kamu juga udah tak anggap anak sendiri.”
Landung hanya meringis kecil. Matanya nanar menatap rombong biru bertuliskan Mie Pangsit Mas Tomi. Ia menggeleng. Seumur-umur ia bahkan tak pernah memegang saringan mie, tak pernah tahu beda kecap ikan, kecap manis dan minyak sayur. Kadang ia juga keliru membedakan gula dan garam bila toples tidak ditulisi, atau ia tidak mencicipi dulu dengan mencolekkan ujung jari kelingkingnya.
“Nanti tak ajari” *2)
Nama asli penjual mie ini sebenarnya Sutomo, lelaki paro baya yang dulunya adalah bekas pegawai restoran chineese food yang akhirnya memilih buka mandiri setelah sedikit banyak punya modal sendiri dan tahu resep rahasia restoran tersebut. Ia memilih nama Tomi agar kelihatan gaya dan mentereng saat berjualan di sini di sebuah sudut kecil pinggiran perbatasan kota Surabaya dengan Sidoarjo, Sepanjang.
Sepanjang, begitu orang menyebut kawasan tersebut. Senja di Sepanjang adalah senja yang dihiasi kerdip lampu spotlight warna-warni artifisial. Saat sound system toko sepatu yang tak mau kalah dengan sound system lapak VCD bajakan yang memutar lagu dangdut-campursari, sementara di dekatnya keluk penggorengan penjual martabak mulai menguar. Entah dari mana asal mula nama Sepanjang. Apakah berasal dari sebuah judul lagu? Sepanjang Jalan Kenangan, lagu yang popular di periode tahun 70-an. Mungkin saja, mungkin saja bagi beberapa orang di Sepanjang, jalan ini memiliki nilai kenangan. Namun tak satupun sebenarnya orang-orang mengerti mengapa jalan ini ini diberi nama Sepanjang.
Rumah kontrakan Landung dan Eva adalah sebuah petak kamar berukuran 4 x 3 meter dengan kamar mandi luar yang dipakai bergantian oleh penghuni kontrakan tersebut. Si empunya mempunyai lima petak, yang dihuni satu keluarga, dua pasangan dan satu orang bujang. Hanya berjalan kurang lebih dua ratus meter untuk keluar menuju jalan besar Sepanjang.
**
Eva terduduk sambil menahan mual yang sangat, ia tak juga mengerti apa yang mendorongnya menuruti kemauan Landung. Matanya mengawang pada janinnya yang terlebih dahulu ia gugurkan. Landung membawakannya beberapa ramuan, ia katakan itu ramuan penguat janin. Namun ternyata salah, keesokan harinya Eva mendapati celana dalamnya dibanjiri darah, dan kemudian ia terjatuh di kamar mandi. Landung telah berbohong padanya. Eva terduduk lemas, kemudian tidak sadarkan di kamar mandi. Tubuhnya ditemukan Mas Totok.
Kini ia hamil lagi, sepertinya begitu. Ia kemarin membeli alat pengetes kehamilan yang dijual di mini market seberang gang rumahnya. Positif. Lagi? Bahkan airmata yang ia teteskan beberapa minggu yang lalu belum juga mengering. Belum. Namun Eva harus bertahan. Dan harus. Dua kali hamil, dan Landung sama sekali belum pernah memberitahukan kehamilan Eva kepada orang tua mereka.
**
Beberapa hari setelah darah mengucur dari rahimnya, Eva jadi mengira-ngira sendiri detak janinnya. Menghitung-selaraskan detak jantungnya sendiri dengan detak janinnya, yang ia temui. Kalau dulu detak jantungnya memainkan ritme yang konstan, maka detak jantung yang lain mengisi melodinya mendinamiskan hidupnya. Namun kini ia tidak lagi bisa mendengar lagi orkestra sederhana itu. Kini detak itu bukan lagi dua, namun kembali satu. Detak Eva hanya satu sekarang. Hanya milik Eva, dan ia kehilangan detak jantung yang lain. Ia mulai panik.
“Tik, aku bisa pinjam uang? Kayaknya aku keguguran. Tapi aku nggak yakin. Aku mau periksa ke dokter.”
“Hah? Laahh kamu hamil?”
Eva mulai berkaca-kaca.
“Landung?”
Eva tak kuasa terisak. Memeluk Tutik yang tengah memotong terong untuk campuran Lodeh, sayur kesukaan suaminya.
“Beberapa hari kemarin, aku pendarahan, Tik. Pingsan di kamar mandi. Mas Totok yang bopong aku masuk ke kontrakan. Dia nolong aku kemarin. Darahku luber kemana-mana. Untung Pak Sugeng lagi nggak ada. Bisa diusir aku sama Landung, kalau Pak Sugeng sampai tahu”
“Jadi selain aku, Totok juga sudah tahu kamu hamil?”
Eva mengangguk lemah.
“He? Ya, minta Landung tanggung jawab sana. Lanang kok bondho manuk thok.*3)”
Tutik kehilangan kendali, kemarahannya meledak sambil mengacung-acungkan terong yang akan diolahnya. Muka Tutik merah padam menahan amarah. Kemudian, terong tersebut dibanting dengan keras di atas talenan, Tutik berhasil menebasnya dengan sekali sabetan dengan pisau, membaginya dua bagian. Eva yang tadinya terisak, kikuk ngeri untuk sesaat memperhatikan bahasa tubuh Tutik memperlakukan terong di hadapannya.
“Nggak bisa, Tik. Landung pengangguran. Simpananku juga sudah habis.”
“Aku cuman punya uang jatah bayar listrik, besok aku bisa ngomong minta undur dulu ke Cak Marto. Aku cuman punya seket-ewu.*4) Ke Puskesmas, ae yo ndhuk?”*5)
“Aku benernya nggak mau kehilangan bayiku, Tik. Tapi aku juga nggak bisa maksa kemauanku ke Landung. Dia juga lagi sumpek sama keluarganya.”
“Oalaahhh, Va. Seharusnya dia juga mikir pas dia hamilin kamu. Dipikirnya cinta-cintaan pakai hamilin anak orang itu murah? Kacang panjang seikat aja sudah seribu. Terong sebatang lima ratus.”
Tutik kemudian mencuci terong yang telah usai ia potong. Kemudian membalikkan badan, memasukkan potongan terong ke rebusan santan berbumbu dalam panci yang telah meletup-letup mendidih.
“Jangan bilang kalian belum nikah?”
Eva melengos pandangan Tutik. Ia seakan mengambil posisi menghindar untuk menjawab pertanyaan Tutik. Namun akhirnya keluar juga sebuah jawaban, setelah sebuah helaan nafas panjang dari hidungnya.
“Gak ngerti, Tik. Kapan nanti Landung mulai cerita sama orang tua kami.”
“Wooooo…. bajingan !”
**
Landung menenteng tas kecilnya. Ada tawaran main orkes dangdut di kelurahan tetangga. Landung memang bukan penyanyi gitar handal, tapi kalau sekedar mengiringi lagu “SMS” atau “Stasiun Balapan” dengan irama rock-dut atau dangdut koplo, dia cukup mampu. Hanya saja, tanggapan orkes dangdut tak selalu ada. Semua itu bergantung pada pemilik orkesnya. Kalaupun ada, tak jarang Landung hanya dibayar nasi bungkus dan air minum saja.
Sambil memasukkan beberapa perlengkapan seperti celana dalam, handuk kecil, pasta dan sikat gigi milik Landung, Eva menitipkan pesan.
“Mas, nggak pakai mabok ya pulangnya.”
Landung hanya diam saja. Berlalu dari pandangan Eva.
***bersambung***
note :
1) Mau ke mana lagi, Nak (laki-laki) (Jawa)
2) Nanti ku ajari (Jawa)
3) Lelaki kok modal "burung" saja! (Jawa)
4) Lima puluh-ribu (Jawa)
5) Ke Puskesmas saja, ya Nak (perempuan) (Jawa)
Jumat, 05 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar