Hari ini saya bertemu dengan beberapa wartawan yang menanyakan bagaimana pidato pembelaan dan alasan serta alibi yang menyebabkan saya dibebaskan dari penjara.
Hari ini saya akan bercerita mengenai pembelaan saya. Ijinkanlah saya memulai dari sudut pandang saya.
Pagi – pagi buta, sebelum ayam-ayam terbangun, dan kompor-kompor dinyalakan, penduduk kampung Mlangi geger. Hari itu ditemukan sesosok mayat tergeletak lunglai di pelataran masjid. Mukanya pucat. Memakai daster panjang model jubah lusuh, lengkap dengan jilbab keunguannya. Kentongan – kentongan berirama satu-satu tak lupa dibunyikan seiring berita itu diumumkan. Sebelum adzan Subuh berkumandang berita itu bermula menyebar. Corong-corong masjid tidak kalah gemparnya, mengumandangkan berita menghebohkan itu.
Saat para lelaki masih asyik masyuk dengan alam mimpinya. Saat perempuan-perempuan masih ribut mengerjap-ngerjapkan matanya.Tergopoh-gopoh semua keluar kamar, keluar dari rumah masing-masing. Masih banyak dari mereka yang mulutnya masih penuh iler, mata masih berat karena tahi mata, atau belum mandi junub (1). Semua ingin tahu. Semua merasa penasaran. Berbondong – bondong bertanya, sedangkan yang dimintai jawaban juga sama saja tidak tahu menahu kejadian apa yang sebenarnya terjadi. Termasuk juga saya waktu itu saya terbangun dengan beribu rasa keingintahuan yang sama seperti layaknya mereka
Hanya muadzin (2) yang jadi saksi saat itu. Seperti biasa sebelum waktu subuh, ia selalu sudah siap sedia. Paling tidak 15 menit sebelumnya, ia selalu telah siap. Membuka keran-keran air menyapu sisa-sisa ngengat yang beterbangan, atau sekedar mengatur microphone usang agar tetap bersuara seperti biasa. Namun yang ditemuinya saat ini adalah peristiwa tidak biasa. Mungkin saja sekali seumur hidupnya. Ia menyaksikan perempuan mati tidak berdaya di depannya. Anehnya di sisi mayat itu seorang anak gadis kecil meraung-raung. Umurnya mungkin belum genap empat tahun. Bisa dilihat dari kebiasaannya yang sangat suka menghisap-hisap jarinya. Dan kemampuannya berbicara yang masih sepatah dua patah kata.
Dan hari itu mulut-mulut warga kampung dihiasi dengan berita ”Katanya....”, dan ”Katanya....”
Tahukah anda darimana saya mendapatkan rincian peristiwa tersebut, saya mendapatkannya dari tetangga saya, dari koran yang tergeletak tak jauh dari tempat saya tidur malam itu dan secara lengkap adalah dari polisi yang menanyai saya di hari selanjutnya.Dari polisi juga saya mengetahui bahwa Sarinten itu mati karena lapar. Saya Paijo, tukang becak. Saya adalah suami dari Sarinten, lelaki yang menikahinya sepuluh tahun yang lalu. Saya adalah bapak dari Diah, anak gadis kecil berumur tiga tahun yang ikut menjadi saksi kematian Sarinten, ibunya, istri saya. Saya tidak tahu kalau Sarinten mengandung anak saya berikutnya.
Saya mendapatkan kabar itu justru dari rombongan orang berseragam polisi yang menanyai saya di kantor polisi keesokan harinya. Pagi itu sebelum Sarinten pergi ke masjid, kami bertengkar seperti biasa. Ia menuduhku yang bukan-bukan, berusaha mencari tahu, mengorek-ngorek keterangan darimana uang yang aku dapatkan yang bermaksud akan kuberikan padanya.
Saya ingin sekali membebalkan telinga saya, tetapi penduduk seakan tak ingin memberikan saya kesempatan untuk angkat bicara. Saya ingin sekali untuk berkata apa yang mereka tuduhkan pada saya adalah sama sekali tidak seperti yang mereka gunjingkan.
Saya mendengar mereka mengatakan, ”Kata tetangga si Paijo, setiap hari dia mendengar Sarinten berteriak-teriak minta tolong. Bahkan katanya dia selalu kena pecut kalau keinginannya tidak terpenuhi. Kadang-kadang ditabok, ditampar. Tahu sendiri kan tangan orang itu gedhe-gedhe."
Saya juga mendapatkan surat ancaman yang dilemparkan oleh seseorang menyatakan ketidaksukaannya pada saya. Bahwa saya orang yang keji, tidak bermoral dan tidak berprikemanusiaan.
Sekali lagi saya nyatakan saya tidak membunuh Sarinten, yang dalam hal ini istri saya, dan juga anak didalam kandungan Sarinten, yang juga adalah anak saya. Bahkan saya tidak tahu kalau Sarinten sedang hamil.
Yang saya tegaskan sekali lagi adalah meskipun saya juga bukan suami yang baik, dan saya juga membenarkan beberapa kusak-kusuk tetangga yang mengatakan pernah menyaksikan saya beberapa kali melakukan pemukulan pada istri saya. Namun pada malam kejadian saya berani menyatakan sekali lagi bahwa saya sama sekali tidak mempunyai niatan dan sama sekali tidak melakukan tindakan pembunuhan seperti yang dituduhkan.
Silahkan kalau anda-anda tidak percaya tanyakan pada Lilis, penjaga warung kopi di gang depan kompleks sebelah. Saat itu saya lagi karaokean dengan dia. Boleh tanya sama Sumargo teman becak saya yang saat itu lagi merayu Neneng, ponakan Lilis dia ada di depan saya.
Saya memang akan mengakui bahwa pagi sebelum Sarinten ditemukan tewas kami bertengkar hebat. Saya tersinggung ketika saya memberikan uang untuk makan, tetapi malah dilemparkan ke muka saya. Uang itu hasil saya meminjam dari si Lilis. Sarinten tampaknya tahu, dan dia cemburu. "Lebih baik saya mati daripada makan dari uang pelacur itu, katanya. Siangnya dia kabur, sepertinya tidak makan. Sampai sore katika saya akan berangkat narik becak Sarinten belum juga pulang, sampai Sumargo menjemput saya untuk ke warung si Lilis. Setelah itu saya tidak kemana-mana. Boleh tanya sama Neneng, boleh tanya sama Sumargo, dan tentu saja sama Lilis. Setelah asyik nyanyi-nyanyi dangdut, ngopi, saya menghabiskan semalam itu sama Lilis. Dan ini bagian terberat pengakuan saya, saat itu saya tidur dengan Lilis
Jadi bagaimana mungkin saya bisa keluar melakukan pembunuhan pada Sarinten, saat saya sedang bercinta dengan Lilis?
Benar. itu adalah pidato pembelaan saya yang mengantarkan saya pada kebebasan saya. Sekian para wartawan sekalian keterangan dari saya, dan tentu saja untuk urusan yang lain silahkan tanyakan pada pengacara LBH saya saja.
Yah begitulah cara saya mengakhiri pidato pembelaan saya. Pidato pembelaan saya yang (dituduh) membunuh Sarinten.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar