Aku duduk di ruang tunggu rumah sakit, sambil membolak-balikkan halaman "Superstition" R.L. Stine dengan terburu-buru. Ah.. sebenarnya malas sekali membaca cerita misteri. Tidak suka membuai diri ke dalam alam-alam takhyul. Tapi tak ada jalan lain, hanya buku itu yang masih tersisa di rakku, dan sama sekali belum terbaca. Sementara bahan bacaan fiksi di perpustakaan sudah habis aku lahap.
"Nis, ngapain di rumah sakit?", sapaan seseorang membuat ku terkaget dan membuat ku beranjak dari alinea-alinea bacaanku.
Kualihkan pandangan ke sekeliling arah, mencari empunya sumber suara. Kemudian lamat-lamat aku melihat dua sosok laki-laki beranjak berjalan mendekat, kemudian menjejeriku.
"Eh.. Her. Kamu sendiri ngapain kesini? Aku nungguin nenekku kena stroke. ", jawabku.
"Nih si Zaky, temenku mau kontrol. Tangannya kemarin retak habis kecelakaan. ", jawab Heru. Aku menimpali dengan memberikan "o..." panjang padanya.
"Eh kenalin ini temanku Mas Zaky. Mas Zak.. ini temen SMP ku, temen main waktu kecil, Nisa", ujar Heru memperkenalkan Zaky padaku. Kami bersalaman, dan sesudah itu aku ngobrol sebentar dengan Heru. Sementara Zaky lebih banyak jadi pendengar.
"Eh ... Mas.. aku kebelet nih bentaran yak. Mas kontrol sendiri bisa kan." kata Heru tiba-tiba.
Tanpa menunggu persetujuan dari Zaky, Heru segera mengambil langkah seribu, mencari bilik aman untuk menyelesaikan kebutuhannya.
Aku mengayun-ayunkan kedua kakiku saat duduk. Zaky meski tampak sedikit canggung berkali-kali melirik bangku kosong di sampingku seakan-akan mengharap untuk dipersilakan duduk.
"Duduk, Mas", kataku kemudian.
Kuamati lekat-lekat lelaki itu. Parasnya tidak begitu menarik. Wajahnya kecoklatan, berkacamata dan di atas mulutnya berjajar bulu-bulu halus melengkapi penampilannya. Tapi entah mengapa, aku suka dengan penampilannya. Meski hari ini ia kupastikan tidak dalam kondisi berdinas, ia tampil rapi. Aroma khas Musk dan Sendalwood yang berpadu merebak dari tubuhnya. Ah ... dia wangi sekali, bisikku dalam hati. Melihat paras mukanya aku bisa menduga, mungkin umurnya jauh lebih tua dariku.
Untuk sesaat kami diam mematung sendiri-sendiri. Akhirnya aku memberanikan diri menanyakan pertanyaan basa-basi.
"Kerja bareng Heru ya Mas?" tanyaku. Usahaku ternyata berhasil mencairkan suasana. Kami sempat mengobrol sekitar lima hingga sepuluh menitan. Tapi si Heru tidak muncul-muncul juga.
Berulangkali Zaky mendongakkan kepalanya tidak tenang menatap lekat-lekat jam dinding yang dipasang di areal administrasi poli orthopedi tepat seberang tempat duduk kami.
"Nis, bisa bantuin aku bentaran nggak. Kamu nggak lagi repot kan?" tanyanya.
"Aku lagi keburu-buru, jam empat harus cabut. Boleh aku pinjem tanganmu bentar, buat bantuin aku ngisi form pendaftaran pasien. ", pintanya cemas.
Masih melongo, aku mengiyakan saja permintaan Zaky. Aku lihat memang pada saat itu posisi tangan yang digips adalah tangan kanannya. Otomatis dia minta bantuan seseorang untuk membantunya mengisikan form pendaftaran. Setelah habis deretan biodata, kemudian pengisian beranjak ke deretan pembayaran, no. kartu berobat bla..bla...bla.... Aku terdiam sejenak menanti jawaban yang didiktekan darinya.
"Ah sial!" makinya.
"Kartu asuransiku di dompet.", tambahnya lagi.
Aku mendelik. Pikirku aku disuruh merogoh kantong celananya. Saku celana orang yang baru saja kukenal? Nggak mungkin... Rupanya dia membaca raut wajah kikukku.
"Nggak ... aku nggak bakalan nyuruh kamu ngerogoh saku celanaku. Aku bisa ngambil dengan tangan kiriku. ", katanya terkekeh.
Dengan sedikit usaha akhirnya terambil juga dompet kecoklatan itu dari saku bajunya. Dijulurkan nya dompetnya padaku. Dengan tampang muka melongo aku menerima saja dompetnya.
"Buat apa?", kataku.
"Bisa tolong carikan kartu asuransiku. Warna biru. Kalau yang ini aku harus minta bantuanmu lagi." katanya.
Aku meng-ooo panjang lagi, manggut-manggut dan mencari-cari apa yang dimaksud. Saku depan kanan miliknya hanya berisi foto dirinya dan foto ayah ibunya, kolong ke dua isinya kartu -kartu standar, SIM, KTP, ATM salah satu bank, kartu pegawai PT apa tidak begitu nampak yang jelas terlihat adalah perusahaan batu bara, sama dengan tempat kerja Heru, kemudian yang terakhir kartu belanja. Isi dompetnya tidak banyak uang yang disimpannya hanya beberapa lembar dua puluh ribuan.
"Mana?", tanyaku lagi yang masih saja tidak menemukan kartu yang dimaksud.
"Bukan yang di kanan, tapi yang dibagian kiri." katanya lagi.
Kuaduk-aduk kembali isi dompetnya. Ah...akhirnya, ketemu juga. Aku ambil kartu itu kemudian mengembalikan dompetnya ke genggaman Zaky kembali.
"Makasih, yah. Wah kamu jadi tahu isi dompetku dong." kelakarnya.
Suara langkah kaki sedikit bergedebuk mendekati kami. Heru baru kembali.
"Dari mana sih, Her? Kebelakang lama bener?" tanya Zaky.
"Hehhehe... nggak ngerti Zak, mules banget. Nggak ngerti toiletnya dimana lagian.", katanya Heru.
"Emang udah Zak?", tanya Heru.
"Dah... telat. Tadi dibantuin si Nisa." kata Zaky.
Begitulah awal perjumpaan kami. Dan itu akan mengantarkan cerita - cerita hubungan kami.
*for my ex-fiance
Senin, 17 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar