Seporsi mi ayam yang menjadi santapanku hari ini belum habis aku lahap. Hari ini hari yang sangat memuakkan, menghadapi berbagai rutinitas yang membosankan.
“Kapan kita menikah, Say ?”, tanyanya.
Senyum sinis saja belum cukup baginya.
Kalau saja dia tahu, tiga tahun ku bersamanya merupakan sebuah tempaan hidup yang melelahkan, tentu aku tidak akan memilih bertahan lebih lama lagi bersamanya.
Menjalani hari-hari dengan penuh kebosanan.
“Aku ingin kita putus.”, teriakku terbata.
Tanpa sebuah alasan, tanpa sebuah alibi. Aku ingin segera mengakhiri semua ini dengan sekejap. Tidak seperti awal perjumpaan dan percintaan kita yang berbelit-belit.
“Kamu nggak serius kan Say?”, sahutnya dengan senyum yang bagiku masih saja memuakkan.
Apa harus ada alasan untuk mengakhiri sebuah hubungan. Aku ingin semua berjalan begitu saja. Seperti layaknya mudahnya aku memutuskan untuk membuang sebuah sampah.
Mengapa untuk mengakhiri harus serumit ini.
Aku masih saja diam mematung menerawang jauh menghindari tatapan matanya.
“Kamu sudah gila ? Kita sudah tunangan Say.”, tambahnya lagi.
Tunangan ? Ah….. mengapa kata-kata itu lagi yang harus kudengar. Ingin sekali aku merobek mulutnya, dan menghapuskan kosakata itu dari ingatannya.
Tahukah kamu, kalau aku telah banyak menipumu selama ini. Aku ingin sekali saja berbuat jujur kepadamu. Tapi yang aku sesalkan adalah… waktu.
Mengapa waktu selalu saja menghakimiku, atas keputusan yang ingin aku buat.
“Kita sebentar lagi menikah Say”, urainya lagi.
Ah… lagi-lagi. Sekali lagi aku ingin menyalahkan waktu, aku ingin waktu tidak berjalan secepat tiga tahun ini. Mengapa waktu bisa membuat keputusan atas kehidupanku.
“Aku ingin memilikimu, aku ingin kamu menjadi ibu dari buah hatiku.”, ujarnya.
* For my beloved ex-fiance *
Thx for all
Tidak ada komentar:
Posting Komentar