Senin, 17 Maret 2008

Cinta dalam Narasi Sampah



Seporsi mi ayam yang menjadi santapanku hari ini belum habis aku lahap. Hari ini hari yang sangat memuakkan, menghadapi berbagai rutinitas yang membosankan.

“Kapan kita menikah, Say ?”, tanyanya.

Senyum sinis saja belum cukup baginya.

Kalau saja dia tahu, tiga tahun ku bersamanya merupakan sebuah tempaan hidup yang melelahkan, tentu aku tidak akan memilih bertahan lebih lama lagi bersamanya.

Menjalani hari-hari dengan penuh kebosanan.

“Aku ingin kita putus.”, teriakku terbata.

Tanpa sebuah alasan, tanpa sebuah alibi. Aku ingin segera mengakhiri semua ini dengan sekejap. Tidak seperti awal perjumpaan dan percintaan kita yang berbelit-belit.

“Kamu nggak serius kan Say?”, sahutnya dengan senyum yang bagiku masih saja memuakkan.

Apa harus ada alasan untuk mengakhiri sebuah hubungan. Aku ingin semua berjalan begitu saja. Seperti layaknya mudahnya aku memutuskan untuk membuang sebuah sampah.

Mengapa untuk mengakhiri harus serumit ini.

Aku masih saja diam mematung menerawang jauh menghindari tatapan matanya.

“Kamu sudah gila ? Kita sudah tunangan Say.”, tambahnya lagi.

Tunangan ? Ah….. mengapa kata-kata itu lagi yang harus kudengar. Ingin sekali aku merobek mulutnya, dan menghapuskan kosakata itu dari ingatannya.

Tahukah kamu, kalau aku telah banyak menipumu selama ini. Aku ingin sekali saja berbuat jujur kepadamu. Tapi yang aku sesalkan adalah… waktu.
Mengapa waktu selalu saja menghakimiku, atas keputusan yang ingin aku buat.

“Kita sebentar lagi menikah Say”, urainya lagi.

Ah… lagi-lagi. Sekali lagi aku ingin menyalahkan waktu, aku ingin waktu tidak berjalan secepat tiga tahun ini. Mengapa waktu bisa membuat keputusan atas kehidupanku.

“Aku ingin memilikimu, aku ingin kamu menjadi ibu dari buah hatiku.”, ujarnya.

* For my beloved ex-fiance *
Thx for all



User Reviews
7
points
out of 10
mengantung

ending yg mengantung ...

true story..


7
points
out of 10
yah

terlalu pendek untuk jadi sebuah cerpen. stuju sama komn di bawah.


7
points
out of 10
setuju

sama si anak marmut
mungkin sedikit flashback bisa membuat cerita ini makin cantik.
Ini hanya komen lho..
hehehe


10
points
out of 10
hyaaaa (bingung mau ngomong apa)

kata-katanya bagus! tapi,,, kayanya masih ada kata lain selain say deh, jadi kaya alarm, berisik banget!
Tp chemistry nya dapet banget!
salam kenal ya


7
points
out of 10
waaaaa....

karya yang mantab dari pikanisa ... susunan katanya apik banget dan begitu teliti penempatannya ... alurnya jg udh bagus

tapi aku berandai-andai ... kalo ceritanya dibawa lebih "masuk" ke dalam emosi dari tokohnya ... sperti misalnya lebih dideskripsikan kenapa dia mengambil keputusan itu, apakah murni karena bosan atau ada alasan lain ... trus mungkin ditambah dgn deskripsi awal perjumpaan mereka yg katanya berbelit-belit .... emang bakal jd panjang siy tapi paling siapa tau bisa jd makin mantab ceritanya .... hehehehehe

semuanya cuam andai-andai nya aku ajah siy ... karena pada dasarnya karya ini udh bagus banget kok ... pokoknya top laaaahhh

lanjuuuuttttt

-anakmarmutkurangajar-


6
points
out of 10
hmmm..

waktu selain menghakimi, waktu juga perlahan mengkikis hidup kita

berkeinginan mengenal keindahan cinta 'hubungan' juga mempunyai resiko
i felt the same^^

oya
ex-vionce yg benar ex-fiance


7
points
out of 10
duh, tragis sekali...

beneran ini kisah asli??? kenapa atuh, kenapa bisa begini...?? :((

Tidak ada komentar: