Senja tak muncul kembali keesokan harinya, membiarkanku termangu lagi seperti kemarin. Kampret! Tuhan... apa sih maksudMu. Kau memberikanku candu, agar aku melupa pada-Mu. Hari-hariku seperti menanti
Seperti kemarin sore, sehabis menyelesaikan tugas-tugas monoton yang dibebankan padaku, aku menantikan senja membias dari langit. Sial mendung datang lagi, hujan akan datang, seperti hari-hari kemarin. Hari ini bukan hari keberuntunganku. Hujan ijinkan tempatmu digantikan sementara oleh senja. Apakah kau cemburu pada senja?
Aku menjadi benci pada hujan atas keegoisannya. Hujan telah membiarkan senja tak mendapat tempat sedetikpun di hariku. Dan senja akupun juga jadi membencinya, seolah tak pernah punya daya untuk memunculkan dirinya dengan kuat, dengan garang layaknya hujan. Senja selalu datang dengan malu-malu.
Hari ini, aku menduga senja akan punya perilaku yang sama, menyembunyikan dirinya dibalik awan, terkalahkan oleh hujan. Langit menjadi pekat, dan senja tak datang.
Ah... tapi hari ini belum. Langit memang terlihat mendung, tapi hujan belum datang. Jangan-jangan keduanya tidak datang? Ya benar, maksudku jangan-jangan, baik senja ataupun hujan, keduanya tidak datang. Semenit, sepuluh, tigapuluh menit, jarum pendek mulai mengarah ke angka lima. Ahhhh semoga dia datang.
Ha! Itukah dia, kukucek-kucek mataku, iya itu Sen-ja. Senja turun hari itu. Benar-benar turun dari kaki-kaki langit. Masih sama seperti hari-hari sebelumnya, ia meminjam tubuh malaikat. Tubuh malaikat yang sama. Aku hapal setiap jengkal tubuhnya. Aroma keringatnya, gerai rambutnya, bidang luasan dadanya. Aku ingat semua. Tanyakan padaku maka aku akan dengan cekatan menjawab. Hari ini ia memakai jaket biru, sebiru langit. Namun balur jingga Senja sepertinya lebih menarik kuamati daripada biru yang menyelimuti bidang dadanya
Aku bahkan mengingat sengkelit pinggangnya, ruam-ruam jemari tangannya, senyuman tipis di kerut bibirnya. Aku ingat.
Senja melangkah gontai, dengan raga malaikat ke arah pelataran kampus sore itu. Dia angkuh, tapi itu yang kusuka. Dia hanya datang sekejap kemudian menghilang sekejap itu pula.
Senja menghampiriku tak ada ragu, kemudian duduk di sebelahku. Di jangkaunya kepalaku, jemari tangannya menyusuri helai rambutku yang kubiarkan terurai. Dan ritual itu selalu saja berakhir sama di setiap pertemuan kami.
”Maaaasss... udah deh, ini nggak rapi lagi jadinya. Kacau deh sisiranku,” protesku.
Dan kekeh tawanya pun akan terdengar, seiring dengan protesku yang selalu sama aku seru.
Seperti biasa Senja mengantarku pulang, memboncengku dan menyuruhku menyengkelitkan luasan kedua tanganku memeluk pinggangnya. Ah... aku selalu suka aroma mu Senja. Wangi
Senja dan aku menyusuri jalan yang sama selalu. Beberapa belokan, pertokoan-pertokoan yang mulai menyingkap tirai-tirai besinya, kemudian terhenti di beberapa lampu stop-an.
Setelah sampai di depan pintu rumah, Senja pun pamit. Menurunkanku dari boncengan perlahan, dan meninggalkan penanda di keningku.
Ah Senja... aku ingin kau datang lagi keesokan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar