“Kau masih ingat tawa kita kan? Ingat kan? Atau kau butuh suasana penyegar.” katanya di suatu malam sebelum terlelap.
“Lin, kita akan selalu bersama kan?” mendekapku dalam malam-malam sunyi kami, malam kerinduan kami.
“Lin, akan selalu menyimpan senyummu dalam peti rinduku, Mas,” jawabku “dan pada saat itu aku menjaga peti itu dalam sejumput doaku.” gumamku dalam hati.
Dan kami pun melewatkan malam itu dengan mendekap tubuhnya, tidur di pelukannya. Seperti malam-malam kami kemarin, seperti biasa.
Saat itu kemudian Dimas mendengar sebuah panggilan.
“Pak... pak... sebentar lagi kita akan landing, mohon dipasang sabuk pengamannya.”
Dengan kaget Dimas terbangun, melihat sekeliling dan mengumpulkan kesadarannya kembali. “Ah... ternyata cuma mimpi.” serunya dalam hati. Kemudian ia melihat di depannya seorang pramugari, yang mengulangi perintahnya untuk memasang sabuk pengaman.
Diucek-uceknya matanya sebentar, kemudian, ia mulai mencari-cari sabuk pengaman miliknya. Ah... ketemu dan cklik... terpasanglah sabuk pengaman itu di lingkar pinggangnya.
***
Kadang, aku masih merindukan aroma simbah keringatnya di kala malam, saat aku terlelap. Kata orang-orang, perempuan akan mencari pasangan hidup yang mempunyai aroma semirip aroma ayah. Apakah benar? Entah, yang jelas aku suka sekali membaui lipatan kerah bajunya, aku suka sekali menghidu aroma tengkuk kepalanya. Hm… kata Dimas, itu yang menarik dariku. Kebiasaan-kebiasaan anehku. Katanya lagi, semakin lama aku menjalin hubungan dengannya, ia tidak mungkin merasakan cinta yang sama setiap harinya. Cintanya akan semakin bertambah kadarnya. Oke. Sebut saja Dimas seorang perayu. Tapi bagiku itu adalah kata yang benar-benar tulus darinya.
Dimas, laki-laki teman SMU ku dulu. Usianya belum genap empat-puluh. Kami bertemu setiap dua bulan sekali. Biasanya saat kami harus sama-sama dinas ke Jakarta. Keperluan Dimas adalah untuk menyetorkan laporan tugas-tugasnya sambil sesekali memberikan presentasi tentang hasil jepretan kameranya pada pihak perusahaan. Kalau aku memang berdinas di dua area Jakarta-Solo. Biasanya kami bertemu di rumah kontrakan yang sengaja kami sewa, sekaligus untuk tempat tinggal kami saat di Jakarta.
Dimas meninggalkan jejak aroma musk yang dicap-kan pada serat sprei bantal peraduanku. Masih bisa kuhirup ujung kerinduan dari sudut-sudut ruang kamar kami. Kemudian lekukan yang diberikan di saat ia terlelap, sesudah kami bercinta bermalam-malam kemarin.
“Terkadang, aku sepertinya hapal ukuran lingkar pinggangmu. Ya… lingkar pinggangmu seukuran lebar pelukanku.” katanya berulang-ulang padaku. Perempuan mana yang sanggup menahan tawa kecil ketika dikatakan seperti itu.
Saat itu fajar masih membiru, tak mau menjingga seperti kebanyakan dan saat ku terbangun, ia menghilang.
Padahal di hari-hari biasa, aku selalu mengingatnya yang selalu terjaga setelahku. Saat bangun pagi, aku selalu berlagak bermain petak-umpet dengannya, menyelinap diam-diam dari balik selimut, dan mengendap sambil berjinjit menyiapkan santap sarapan. Aku bukan koki yang hebat, hanya dua buah telur yang kubuat orak-arik dicampur susu, dua potong sosis goreng, dan segelas jus jeruk, tapi entah, ia tidak pernah mengkomplain keahlianku, yang payah, saat meramu hidangan.
Kemudian, aku akan pergi membangunkannya, setelah sebelumnya kupanggil-panggil namanya tiga kali. Ia biasanya bergeming untuk panggilan yang pertama. Kadang, aku suka sekali menempelkan pipi ku ke pipi nya yang hangat, merasa nafasnya yang berat. Panggilan yang kedua biasanya aku bisikkan lembut ke telinganya, “Mas... Mas Dimas...” dan Dimas biasanya hanya merespon dengan sebuah erangan lembut, kemudian jawabnya, “Bentar lagi, Lin. Sepuluh menit lagi...” sambil tetap meneruskan tidurnya, menyembunyikan tubuhnya kembali di bawah selimut. Aku biasanya akan membiarkannya sepuluh menit kemudian, seringnya lebih dari itu. Lalu aku akan membangunkannya dengan panggilan yang ketiga, kali ini aku melakukan kebiasaanku, menghidu tengkuknya. Aneh. Bila itu kulakukan, ia akan segera beringsut membalikkan badannya dan mengecup keningku.
Rutinitas itu ia lanjutkan dengan menguap beberapa kali, menggosok-gosok matanya yang masih mengantuk, mengambil handuk dan mereguk satu-dua teguk jus yang telah kupersiapkan sebelumnya. Saat ia mandi, aku telah disibukkan kebiasaan ku berikutnya, mempersiapkan setelan yang akan digunakannya. Kadang kami berselisih sebentar, ia kadang tidak sependapat dengan baju yang telah kupersiapkan.
“Jangan ah Lin. Masak warnanya norak kayak gini, nggak matching sama bawahannya nih.”
Dan kemudian peselisihan kami diakhiri dengan,
“Iya deh, saya pake Lin. Kalo kamu ngambek, bikin senyum lagi nya susah. Hehehe.” begitu yang selalu ia katakan.
“Aku musti repot beliin kamu Pangsit Ayam Setiabudi yang jaraknya dari kantor. Busyheettt. Belum lagi macetnya. Hehehe...” tambahnya lagi.
Namun, akhir-akhir ini aku jadi tahu. Dimas selalu membawa baju ganti. Setelah sampai agak jauh dari rumah, ia selalu mengganti baju yang telah kupersiapkan tadi dengan baju yang ia pilih sendiri. Bila pilihanku tidak sesuai dengan kemauannya. Mungkin, ia tidak ingin melihat aku kecewa, akan pilihanku yang tidak sependapat dengannya.
Saat ini aku jadi tahu, begitu banyak kompromi diantara kami, dan, selalu ia yang mengalah untuk kami. Yang aku tahu, kami saling mencinta, dan itu tidak diragukan lagi.
***
“Lin, kamu jadi berangkat ke Solo?” tanya Dimas sore itu, saat ia meneguk teh yang telah aku persiapkan untuknya. Ia baru pulang dari kantor.
“Hem? Iya, mas. Flight ku sudah terjadwal. Nanti aku bareng Bu Nina.” sahutku sambil mengepak barang, mempersiapkan seragam dan memilah-milah file yang akan aku bawa.
“Sudah kamu pikirin lagi? Harus hari ini ya?” tanya Dimas meyakinkan.
Kualihkan pandanganku padanya, aku membaca gurat kecemasan dari tatap matanya. Ini tak seperti biasa.
“Mas, kan aku cuman tiga hari. Kantor pusat minta aku mengurusi proses rekrutmen di kantor cabang. Bulan kemarin, Bu Nina kan sudah bilang ke Lin, Lin pun sudah minta ijin ke Mas. Mas pun sudah nge-boleh-in.” rajukku.
Ia menaruh cangkir tehnya, dan menghampiriku di kamar, diraihnya tanganku. Pegangan nya kulepaskan, kemudian kubelai kedua sisi pipinya dan berkata,
“Lagipula, Lin kan sudah sering keluar kota, Mas. Mas, nggak usah khawatir ya?”
Dimas agak melumer, didekapnya tubuhku.
“Kamu sendiri Mas, jadi ke Kalimantan?” tanyaku.
“Iya, aku berangkat ntar malam.”
“Nah kamu sendiri ikut aku aja ya... nggak usah kau urusi istrimu ya... Aku pengen, kamu punyaku seorang.” rengekku.
“Ya... nggak bisa dong, Lin. Gimana klo Mas minta Lin cerai dari Bagus? Nggak mau kan?” urainya. Aku melengos.
“Lin, kita sama-sama tahu, masing-masing dari kita sudah ada yang memiliki. Aku tinggal nunggu vonis perceraianku aja. Tapi kamu sepertinya tidak mau lepas dari Bagus.”
“Mas, kamu cemburu?”
“Ya... iyalah... aku cemburu. Ah sudahlah asalkan kamu tidak tertarik sama calon-calon manager disana, aku masih bisa bersabar. Untuk sementara, jangan ungkit-ungkit lagi ya... masalah ini.” katanya.
Dan aku hanya menjawab dengan sebuah hela nafas panjang. Begitulah saat-saat kami sebelum keberangkatan.
***
“Permisi, Bu!” kata Dimas sebelum ia menempati kursi penerbangannya. Seorang perempuan umur kurang lebih lima-puluh tahunan, sudah duduk di kursi sebelah Dimas.
“Penerbangan malam begini, sudah ada yang njemput Bu di Sepinggan?” tanya Dimas basa-basi.
“Iya, Mas... nanti keponakan saya yang jemput. Sebenarnya saya mau naik pesawat tadi sore, tapi ya... berhubung pesannya mendadak, dapatnya flight pagi subuh buta deh”
***
Sesampainya ia di Kalimantan, Bandara Sepinggan masih cukup lengang, maklum saat itu jam masih menunjukkan pukul 5.30. Langit Kalimantan belum sepenuhnya memerah. Dimas mampir ke sebuah kafe di pojokan Bandara.
“Espresso satu!” katanya pada pelayan.
Diamatinya pemandangan kafe bandara pagi itu, masih sepi. Tapi dua-tiga orang masih terlihat lalu lalang. Di sebuah pojokan dipasang sebuah layar tivi sekitar dua-puluh inch, yang tengah menayangkan sebuah berita.
“Pesawat MD82 PK-LMN milik maskapai penerbangan Lion Air dengan rute Jakarta-Solo mengalami kecelakaan saat mendarat di Bandara Adi Sumarmo Solo. Akibatnya 25 orang tewas, 55 orang luka berat 63 orang luka ringan. Berikut adalah nama-nama korban. Menurut seorang penumpang Lion yang mengalami cidera ringan, Hervi, dia merasa ada guncangan hebat sekali. "Saya hampir terbanting. Terus tiba-tiba lampu langsung mati semua, gelap." Pesawat Lion yang nyusruk itu, tampak patah dua.” begitu wawancara dilansir oleh media ini. Sementara itu beberapa korban tewas telah berhasil diidentifikasi, berikut adalah beberapa nama korban tewas, serta tempat korban berada, di RS. Islam Surakarta tercatat Ronizon Ali, Jefry Edison, Agatha, Ongko Tikno Wijoyo, Bambang Anggono, Iswanto, Sifa, Puji Astuti, Linda Fahmi dan satu jenazah lagi yang belum diidentifikasi. Sedangkan untuk RS Panti Waluyo, RS TNI AU mencatatkan masing-masing 2 korban tewas, dan 3 korban tewas”
Begitulah sebuah berita sampai ke telinga Dimas di suatu pagi. Setelah itu tampilan grafis nama-nama korban ditayangkan. Air muka Dimas berubah ketika ia membaca sederet nama terpampang. Linda Fahmi.
”LIN?” teriak Dimas kelu.
Segera ia merogoh sakunya, dihidupkannya telpon selularnya yang sedari kemarin mati. Kemudian mencari-cari sebuah nama di phonebooknya. Dapat. Dear Lin. Dipencetnya tombol ”dial” dan yang terdengar peringatan di luar area. Sekali lagi dipencetnya tombol dial. Masih sama. Tidak ada jawaban.
***
Aku datang kembali ke rumah kontrakan kami. Begitu memasuki pelataran rumah aku telah mencium aroma Musk Dimas.
”Mas, Mas Dimas?”
Rupanya dia sudah terlelap. Aku menghidu bau tengkuknya.
Dia terbangun kaget. Sambil teriak.
”Lin?”
Dimas melihat sekeliling ruangan. Sepi.
”Ah... cuma mimpi.” desahnya dalam malam sunyi.
Sementara aku masih terduduk di sisi ranjangnya kebingungan. Bagaimana mungkin Dimas tak mengetahui kehadiranku?
-------------------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar