Pelataran kampus saat itu masih basah. Hujan baru saja datang. Alirannya mengguyur sudut-sudut paving pelataran yang tak tertutupi atap. Sementara sisanya memercik nakal di beberapa bagian keramik dalam gedung. Satu-satu pucuk dedaun masih meninggalkan beberapa bulir rinai menyegarkan. Hujan.
Coba kau hirup sebentar, sambil memejamkan mata, niscaya dapatkan aroma daun yang bercampur hujan menguar. Kalau tidak cukup puas, maka temukan bebauan parfum kecipak tanah yang basah, membentuk kubangan, sebagai bonusnya.
Apa kabar senja? Tampaknya dia akan absen hari ini. Senja tampaknya terhalang mendung tebal. Mungkin sama seperti kemarin, aku tak akan melihat senja kembali. Senja malu-malu menyambut malam yang sebentar lagi datang.
Beberapa mahasiswi masih lalu lalang. Payung-payung yang mereka bawa, tadinya berwarna-warni terkembang, satu persatu, pupus menguncup. Mereka adalah ”leging-leging berjalan”. Begitu aku biasanya menyebutnya, celana mirip stocking yang hilir mudik, menyusuri pelataran. Celana ini sedang tren untuk mahasiswi-mahasiswi masa kini. Sama halnya dengan atasan balon, yang mengembang di bagian layer bawahnya.
Aku terjebak di suatu sudut gedung kampus, tempat duduk mirip ruang tunggu dokter, tas laptop di pelukan, dan mata sembab, akibat kurang tidur. Meski begitu aku tidak mengantuk, hanya saja aku bosan. Aku tidak terbiasa mendapati kebosanan ini. Duduk di pelataran, dan menunggu senja yang ku tahu tak bakalan datang menyapaku, setidaknya hari ini. Aku beranjak dari tempatku termangu. Gila! Benar-benar gila! Jangan-jangan aku telah terobsesi pada senja. Tunggu, sudah berapa lama sebenarnya aku tak menjumpai senja? Setahun? Enam bulan? Tiga bulan? Sebulan? Seminggu? Ingat, baru seminggu Eva, kau tak menjumpa senja. Senja itu sudah tergantikan oleh hujan. Dulu senja dan hujan adalah dua hal yang kusuka. Entah, sekarang aku menjadi benci keduanya, apalagi ketika mereka muncul bersisian. Aku suka keduanya saat mereka tidak bersama. Seperti dua benda yang saling menggantikan, tak bisa dipakai bersamaan. Tak bisakah mereka muncul bergantian saja? Misalnya, hujan dikala terik, kemudian shift berikutnya digantikan oleh senja nan elok.
”Bisa kan Tuhan,” rajukku tiga hari yang lalu.
Dan Tuhan biasanya hanya tersenyum sinis, menjawab dengan gayanya khas.
”Kuberi kau keduanya, hujan yang rinai, dalam senja yang malu. Puass,” katanya.
Kuputuskan akhirnya untuk membunuh rasa bosanku. Kulangkahkan kaki menuju meja internet, di kantorku. Tertipu? Aku bukan mahasiswa, aku hanya tenaga honorer rendahan yang mendapat remahan dari petinggi kampus. Balas jasanya aku harus mengajar beberapa mahasiswa, sambil menyelesaikan studi lanjutku disini. Klik ID dan password window Yahoo Messenger kubuka. Bosan. Ada invite masuk.
”selamat malam, kunang-kunang. kalau kau belum juga menjawab seruanku, kuyakin kau belum saatnya terbang.” serunya di brief introductional.
Tak kuhiraukan, not allow bahasa di YM itu. Matikan. Pulang. Bosan kembali lagi merajam. Kutinggalkan meja kerja, ketembus jalanan yang masih menyisakan rinai hujan.
Sementara aku tak pernah menyadari, seseorang yang menginviteku, akan menunggu dengan sabar. Seseorang itu berlabel, lelaki_malam.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar