Rabu, 25 Februari 2009

Kenangan : Sebuah gedung pertunjukan di jantung kota

Seperti biasa aku berjalan sendiri menyusuri jalanan dan beberapa persimpangan. Aura kelok asapnya terasa mencekik Beratus-ratus sinaran lampu sebenarnya ingin meramaikan senandung kota malam itu. Namun, yang ada hanya aroma keangkuhan bukan aroma syahdu seperti yang kuharapkan. Ah… aku merasa sangat dekat dengan aroma pekat keangkuhan dari deru angin malam ini. Ia menghantarkan sebuah ketidakpedulian yang sangat.

Kenanganku menancap kembali pada sebuah waktu. Saat itu aku hanya merasakan sebuah gerimis, walau sebenarnya cuaca sedang bersahabat. Gerimis itu datang ketika seseorang yang pernah tersesat di salah satu pelabuhanku tiba-tiba datang dan coba untuk menepi Dia adalah seorang penjelajah, pernah bermukim sementara waktu di sana, melemparkan ujung sauhnya dan dengan seenaknya membongkar muatan di suatu sudut. Kemudian, masa-masa itu telah lewat. Ia telah meninggalkan satu peti berisi beronggok-onggok kesedihan. Peti itu sebenarnya ingin kularungkan pada saat sebelumnya. Ah… tapi aku sepertinya telah kehabisan waktu. Onggokan itu tidak berdaya, lunglai masai tak dianggap.. Aku tidak bisa menyembunyikannya, karena onggokan itu terlampau menumpuk di pojokan. Seperti kodian baju bekas yang enggan kubuang.


“Halo! Iya aku sudah sampai. Kamu langsung aja ke sini.”, sahutku menjawab telpon, dari seorang teman.


Aku mengajaknya ke sebuah pertunjukkan. Seorang teman perempuan. Sebenarnya aku menagih janji darinya, maklum dia beberapa kali berhutang padaku, dan aku meminta menebusnya dengan tiket satu pertunjukan. Ah… tapi tampaknya aku akan menonton sendiri saja. Biasanya dia datang dengan kekasihnya, kalau sudah begitu aku akan diacuhkannya. Seperti setangkup obat nyamuk, yang dibiarkan sendirian, dengan alam pikirnya. Ya… mungkin dia tidak akan ingkar janji, membelikan tiket untukku, dan kemudian menyuruhku masuk seorang diri. Lima menit, sepuluh menit… ah… barang kali dia akan terlambat.


Sekelebat bayangan melintas di sekitar tempat aku berdiri. Di sebuah gedung pertunjukan di jantung kota. Satu kali… aku tidak mengacuhkannya, dua kali… ah… aku merasakan sesuatu yang aneh, dan tiga… kali, aku yakin pada diriku.


“Hei… tunggu! Sepertinya kita pernah kenal sebelumnya.”, sapaku, sambil menggamit lengan empunya bayangan itu.


“Iya, aku juga sama. SMA 6 bukan?”, tanyanya.


Dan percakapan kami pun mengalir. Seputar nostalgia memori saat SMA. Rupanya kami pernah satu kelas. Meski ingat nama panggilan kami, kami sama-sama lupa nama tengah kami. Butuh waktu agak lama mengingatnya. Percakapan beputar ke aktivitas dan kesibukan kami. Perkuliahan, soal kekasih-kekasih kami dan teman-teman kami. Kerinduan kami akan gedung SMA, bahkan sebuah kenangan akan geripis sudut-sudut bangku lapuk kami. Dari nya aku tahu bahwa dia sekarang menjalani masa penyelesaian tugas akhir yang kurang sedikit lagi di sebuah perguruan tinggi negeri dan mengambil Jurusan Teknik Mesin. Aku meyakini jurusan ini sangat tidak tepat untuk lelaki macam dirinya. Dia adalah orang yang menyenangkan, ramah, sangat kontras dengan lelaki-lelaki di jurusan Teknik yang terbayang dipikiranku sebagai orang-orang yang serius, penyendiri dan tidak secerewet dia.


Aku mulai mengingat, dulu Rani, teman sebangkuku saat SMA sangat tergila-gila padanya. Waktu itu aku hanya terkikik seru bila Rani berteriak-teriak histeris, melihat lompatannya ketika melakukan smash, atau tosser ke regu lawan pada saat pertandingan voli di sekolah kami.


Tak banyak yang berubah dengan kenangan kami Tentang seribu lagu wajib mengingat masa lalu. Tentang sebuah keyakinan bahwa kenangan memang menunggu untuk dijawab di suatu ketika.


“Sudah beli tiket?” tanyanya.


Aku menggeleng.


“Nunggu teman.”, jawabku.


Kupermainkan ujung sol sepatu ketsku. Sementara waktu, suasana jadi hening. Hening mengambil jeda sejenak dalam percakapan kami. Hening telah mendominasi percakapan kami.


Sebuah gedung pertunjukan di jantung kota, berbagai aroma mewarnai kenangan. Aroma rompal temboknya, dan debur kemegahan berbalut manis perhelatan yang kami lewati dulu.
Sudah tiga puluh menit, tidak ada tanda-tanda temanku akan datang. Dia masih setia, duduk di emperan mengamati lalu lalang orang yang antre tiket satu persatu. Aneh, tanpa rokok, tidak lazim untuk lelaki kebanyakan. Perlahan-lahan antrean itu menyurut, dan kemudian sepi.


“Masih mau nunggu?”, tanyanya lagi.


Tersenyum sedikit kecut dan kemudian menimang-nimang dompetku. Tiket pasti sudah terjual habis. Dan aku hanya menatap kosong sebuah celah kecil di ruangan sebesar gedung pertunjukan itu. Dua orang berpakaian seragam dan beberapa sobekan karcis di genggaman mereka.


“Sudah… ayo masuk !”katanya menyeretku lembut.


“Tiketnya?”ujarku.


Dia hanya menatapku dan menyodorkan sehelai tiket di tangan kananku.


“I owe you.”, ucapku.


“You granted for that.”, jawabnya.


“Me? I’m flattered”, sahutku tak percaya.


Ia tersenyum. Senyumnya terlihat manis pada malam itu. Semanis sebuah kenangan di sebuah gedung pertunjukan di jantung kota. Binar matanya memang tak seelok bintang, namun siapa yang mampu mengalahkan binar matanya yang penuh keteduhan.


Kami duduk bersama bersisian. Pertunjukan pertama hanya sebuah pantomim lokal. Sorot lampu terlewat biasa. Kadang kami saling berbisik lirih. Dan bertukar senyum melihat kekonyolan gerak gerik sang pelakon.


Berakhir? Tunggu! Ternyata belum. Masih ada sesi kedua. Dengan suatu efek yang dramatis, tiba-tiba semua lampu dimatikan, beberapa menit kemudian nyala lampu biru dinyalakan perlahan. Kali ini kisah sesudahnya sepertinya akan mampu kulukiskan dengan beberapa bait.


Tahukah kamu?
Sebuah repertoar "perpisahan" terbaca
Lihat satu persatu tali pengekang dijulurkan
kemudian...
lepas


Saat itu seorang MC membacakan sebuah repertoar, judulnya “Perpisahan”. Entah mengapa gambaran rasa sakit kenangan yang lalu nampak. Ini tak ada kaitannya dengan dia. Namun ini terkait dengan “dia” yang lain. Entah, repetoar itu telah menguras emosiku. Padahal itu hanya sebuah pertunjukan bisu, tanpa permainan kata, bahkan tidak ada kata-kata. Membangkitkan kenangan. Perpisahan. Reportoar itu tidaklah lama, mungkin tak sampai sepuluh menit.


Bahumu basah olehku
dan aku terguguk sendu


Dan di titik inilah emosiku menguap. Luluh dalam sebuah periode. Tidak disengaja, bulir –bulir pun jatuh, lumer di bahunya. Padahal aku menangisi “dia”, dan bukan dia. Sungguh. Aku tidak bermaksud untuk menjadi cengeng.


Ingatkah kamu?
Aku duduk di depanmu beberapa tahun lalu
Beberapa deret buku dan larik kenangan


Padahal kami dulu tidak sedekat ini. Meski kami duduk berdekatan. Kenangan kami hanya seputar buku, hiruk pikuk kejahilan dan beberapa celetukan polos khas remaja. Tidak ada yang istimewa.


Ah itu dulu
Beberapa tahun lalu
Saat mereguk manis masa muda
Dan kita bermain-main dalam kenangan


Kini
Repertoar itu masih terbacakan
Sebuah repertoar "perpisahan"
Dan salut atas kita kita berdua menjadi setan
Diri kita masing-masing


Surabaya, Agustus 2008


Tidak ada komentar: